Forkoma PMKRI NTT Himpun Ratusan Alumni: Retret Regio Timor Siap Digelar, Mandat Moral Diteguhkan
Kupang, SonafNTT-News.com. Setelah sukses menggelar retret akbar Regio Flores di Ruteng, Forkoma PMKRI Nusa Tenggara Timur kembali bersiap menyalakan bara spiritualitas dan fraternitas di Kupang. Retret Regio Timor yang akan berlangsung 12–14 Desember 2025 di Biara Susteran SSpS Bello itu dipastikan menjadi salah satu pertemuan alumni terbesar sepanjang tahun.
Hingga H-1, panitia mencatat sekitar 300 alumni telah memastikan kehadiran. Angka tersebut mencerminkan antusiasme luar biasa—sekaligus menegaskan betapa kuatnya jalinan emosional dan intelektual para kader PMKRI lintas generasi.
Ketua Panitia, Paskalis Angkur, menyampaikan rasa optimisnya saat meninjau persiapan akhir.
“Kita pastikan besok peserta mencapai 300 orang,” tegasnya, didampingi Sekretaris Panitia Ronald Raya.
Kehadiran Ketua DPD Forkoma PMKRI NTT Aloysius Min, mantan Ketua Presidium PMKRI cabang PMKRI Kupang Johni Kaunang, serta perwakilan Forkoma Pusat seperti Herry Soba dan Christofel Nugroho, menandai luasnya jejaring alumni yang tergerak untuk kembali ke “rumah” refleksi mereka.
Tema Retret: Menggerakkan Lagi Mandat Moral
Retret dua regio ini mengusung tema “Mari Kita Memulai Lagi untuk Berbagi”, sebuah seruan yang terinspirasi dari spiritualitas St. Fransiskus dari Asisi tentang membangun kembali “Rumah Tuhan”. Tema ini bukan sekadar slogan, tetapi ajakan untuk menjenguk ulang perjalanan hidup—profesi, panggilan, dan tanggung jawab sosial.
Ketua DPD Forkoma PMKRI NTT, Aloysius Min, menekankan bahwa retret ini bukan forum nostalgia.
“Retret ini mengingatkan siapa kita, dari mana kita berangkat, dan untuk apa kita dipanggil,”ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tiga nilai dasar PMKRI—kristianitas, fraternitas, dan intelektualitas—menjadi fondasi seluruh proses refleksi.
Format kegiatan dirancang partisipatif: pemantik hanya membuka percakapan, sementara ruang utama diberikan kepada peserta. Dengan begitu, retret ini menjadi tempat di mana kisah dan pergulatan hidup para alumni berjumpa, saling menerangi, dan membentuk energi baru untuk berkarya.
Sejumlah pemantik telah dijadwalkan hadir, termasuk: Mgr. Hironimus Pakenoni, Uskup Agung Kupang, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, RD Dr. Leo Mali, akademisi, Tokoh-tokoh alumni PMKRI dari pusat dan daerah
“Kembali ke Dusun”: Ruang Sunyi untuk Menata Hidup
Dalam dokumen pengantar retret, peserta diajak “kembali ke dusun”—metafora mengenai kembali ke ruang hening, tempat seseorang menata ulang kompas moral dan arah perjalanan hidup.
Retret merumuskan tiga pilar refleksi utama:
1. Kristianitas
Menyikapi tantangan etis dalam profesi masing-masing
Menghidupkan nilai-nilai Kristiani di tengah kehidupan sosial dan Menguatkan kembali semangat solidaritas
2. Fraternitas
Mempertemukan alumni lintas profesi dan lintas generasi, Membangun ruang kolaborasi dan Mempertebal rasa tanggung jawab bersama dalam ruang publik
3. Intelektualitas
Mendorong alumni menjadi suara kritis bagi Gereja dan masyarakat serta Menegaskan kembali komitmen terhadap pembangunan daerah dan bangsa
Paskalis Angkur menegaskan bahwa retret ini bukan sekadar temu kangen.
“Kerinduan bertemu itu penting, tetapi refleksi atas perjalanan hidup dan panggilan publik jauh lebih penting,”katanya.
Ia menegaskan bahwa para alumni diajak menata ulang “kompas nilai” yang memandu langkah mereka sejak masa kaderisasi di PMKRI.
Dengan berkumpulnya ratusan alumni di dua wilayah besar—Flores dan Timor—Forkoma PMKRI NTT berharap retret ini menjadi pintu masuk untuk: karya sosial yang lebih sistematis, advokasi publik yang lebih berani, pendidikan politik warga, kontribusi nyata pada pembangunan daerah
Ia berharap Retret ini meneguhkan bahwa alumni PMKRI, dengan fondasi spiritualitas, intelektualitas, dan keberanian moral, hendak kembali menyelaraskan diri dengan motto luhur:
Pro Ecclesia et Patria — Demi Gereja dan Tanah Air.
