10 Tahun Terisolasi dan Anak Tak Bisa Sekolah, Warga Sulit ke Puskesmas: Jalan Rusak di Taebenu Butuh Perhatian Nasional
Kupang, SonafNTT-News.com. Di tengah geliat pembangunan infrastruktur nasional yang terus digaungkan pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, ironi justru masih dirasakan puluhan warga di Desa Baumata, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Sebanyak 20 Kepala Keluarga (KK) di RT 10 RW 5 dan RT 06 hidup dalam kondisi terisolasi setiap musim hujan selama hampir satu dekade terakhir. Jalan utama yang menjadi satu-satunya akses keluar masuk permukiman berubah menjadi kubangan lumpur pekat ketika hujan turun. Sebuah kali kecil yang melintasi jalur tersebut kerap meluap dan memutus total akses warga.
Anak Tak Bisa Sekolah, Warga Terancam Saat Sakit
Dampak kerusakan jalan ini bukan sekadar persoalan kenyamanan. Anak-anak terpaksa absen sekolah karena tak mampu menyeberangi jalan yang terendam dan licin. Orang tua memilih menunggu air surut daripada mengambil risiko kecelakaan.
Lebih memprihatinkan lagi, warga yang sakit kesulitan menjangkau puskesmas. Kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintas saat kondisi jalan memburuk. Dalam situasi darurat, warga harus menandu pasien secara manual melewati lumpur dan genangan air.
(Akses jalan Taebenu sulit di lewati warga dan anak sekolah)
Yohanes Seran, warga RT 10, mengungkapkan bahwa selama hampir 10 tahun tinggal di wilayah tersebut belum ada penanganan serius dari pemerintah.
“Kalau hujan besar, anak-anak tidak bisa sekolah. Kalau ada yang sakit, kami sangat kesulitan membawa ke puskesmas. Bahkan untuk mendapatkan air bersih dari jasa tangki pun sulit. Kami sudah lama tinggal di sini, tapi belum ada perhatian nyata,” ujarnya kepada awak media, Kamis 19/2/2026.
Bukan Sekadar Jalan, Ini Soal Hak Dasar
Kondisi ini menyangkut hak dasar masyarakat: pendidikan, kesehatan, dan keberlangsungan ekonomi. Saat musim hujan, sebagian warga menghentikan aktivitas kerja karena kendaraan tak bisa melintas. Distribusi kebutuhan pokok tersendat, dan pendapatan keluarga ikut terdampak.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Kupang segera berkoordinasi dengan Balai Jalan Nasional serta DPRD NTT agar pembangunan jalan dan jembatan masuk dalam skala prioritas nasional. Mereka juga meminta perhatian langsung dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk memastikan akses dasar masyarakat terpenuhi sesuai ketentuan yang berlaku.
(Kondisi jalan usai musim hujan, dok.kamis 19/2/2026)
Aksi Solidaritas, Bukti Warga Tak Tinggal Diam
Di tengah keterbatasan, warga tidak hanya menunggu. Domi Obe bersama masyarakat melakukan aksi solidaritas akan menurunkan material tanah putih agar jalan bisa dilalui sementara waktu. Namun upaya swadaya ini hanya solusi darurat yang tak mampu bertahan lama saat hujan deras mengguyur.
Mendesak Masuk Prioritas Nasional
Ia menegaskan pembangunan infrastruktur menjadi tulang punggung pemerataan kesejahteraan, maka kondisi di Taebenu adalah alarm yang tak boleh diabaikan. Sepuluh tahun terisolasi bukan lagi sekadar keluhan warga, melainkan cerminan ketimpangan yang harus segera dijawab.
Sementara Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional ( BPJN NTT ) Janto, Janto, S.E., S.T., M.Sc. saat dikonfirmasi kamis 19/2/2026 menyampaikan bahwa terima kasih atas informasinya dan kami segera koordinasikan dengan Dinas terkait
“ ini masuk jalan Kabupaten, kami koordinasikan sesuai ketentuan dengan harapan melakukan penanganan infrastruktur jalan sesuai ketentuan yang berlaku agar kedepan masyarakat mendapatkan akses pembangunan infrastruktur jalan yang memadai ke akses pendidikan,kesehatan dan tempat ibadah dan pasar”ujarnya


