Setahun Melki–Jhoni Pimpin NTT, 85% Warga Puas! Infrastruktur, Air Bersih Dan Bantuan Beasiswa Jadi Catatan Kritis
Provinsi (Pemprov NTT) menggelar diskusi publik tentang hasil Survei hasil kepuasan masyarakat peringatan satu Tahun Kepemimpinan Emanuel Melkiades Laka Lena- Johni Asadoma Sebagai Gubernur dan wakil gubernur Nusa Tenggara Timur di Aula Eltari.
Pantauan media, Kegiatan dialog publik di hadiri oleh Wakil Gubernur NTT Jhoni Asadoma, Ketua Tim Pemggerak Provinsi NTT, Plh Sekda NTT,para Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah Lingkup Pemprov NTT, Pimpin Vertikal wilayah NTT, Ketua DPRD NTT, Ketua Komisi III DPRD NTT Yohanes De Rosari, para Anggota DPRD NTT Leonardus Leo Lelo, Yeny Marlina Un, Sekertaris Komisi IV DPRD NTT Ana Kolin, Pimpinan BUMD Direktur Vox PON, Tokoh Agama, kelompok Cipayang, Pejabat Perbankan, Pimpinan Universitas lingkup Kota Kupang, Tim Survei Kepuasaan publik, Akademisi, NGO, mahasiswa, Jumat 20/2/2026.
Dalam laporan panitia, Kepala Biro Administrasi Setda NTT Pricilla Parera menyampaikan bahwa diskusi publik evaluasi kinerja gubernur dan wakil gubernur digelar berlandaskan Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik dan regulasi pemerintah daerah terkait fungsi kehumasan.
Pricilla menegaskan, kegiatan tersebut memiliki tiga tujuan utama : menyampaikan secara terbuka capaian kinerja gubernur dan wakil gubernur kepada masyarakat.
Selain itu, menyerap masukan, kritik, dan saran dari berbagai elemen untuk perbaikan pembangunan daerah, memperkuat partisipasi publik dalam mendorong pembangunan yang maju dan berkelanjutan.
Langkah ini dinilai sebagai strategi komunikasi pemerintahan yang progresif. Bukan hanya mempublikasikan keberhasilan, tetapi juga membuka ruang evaluasi.
Setahun kepemimpinan Emanuel Melkiades Laka Lena dan Johni Asadoma sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, mendapat sorotan luas publik. Dalam diskusi terbuka yang digelar Pemerintah Provinsi NTT, hasil survei kepuasan masyarakat menunjukkan angka mencolok: 85 persen warga menyatakan puas terhadap kinerja Melki–Jhoni.
Namun, di balik angka tinggi itu, publik tetap lantang menyuarakan persoalan klasik: infrastruktur jalan, jembatan, dan kebutuhan air bersih yang belum sepenuhnya teratasi.
Survei 800 Responden: Fondasi Awal Satu Tahun Kepemimpinan
Hasil survei yang dipaparkan lembaga independen Vox Pol dilakukan pada pertengahan Januari 2026 dengan melibatkan 800 responden dari 22 kabupaten/kota di NTT.
Beberapa temuan penting:85% puas terhadap kinerja Gubernur dan Wakil Gubernur 77% puas terhadap pelayanan publik 75,4% dan ia berharap Pemprov mampu menuntaskan problem sosial.
Sementara Sementara Pendapatan rata-rata responden sekitar Rp700.000 per bulan, Prioritas utama warga: ekonomi, kesejahteraan, dan infrastruktur
Gubernur Melki menegaskan bahwa survei ini merupakan langkah ilmiah dan indikator objektif untuk mengukur capaian awal pemerintahannya.
“Penilaian harus objektif. Kita perbaiki tata kelola pemerintahan dan dorong ASN turun langsung ke lapangan. Data stunting dan capaian pembangunan bersumber dari lembaga resmi,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya inovasi, optimalisasi SDM, dan penguatan tujuh pilar pembangunan daerah.
Menanggapi hal tersebut Pdt.Dr. Merry Kolimen menyampaikan bahwa hal ini merupakan salah satu langkah strategis untuk mewujudkan keterbukaan informasi publik, kegiatan ini juga bagian dari upaya pemerintah untuk mendengar aspirasi masyarakat, ini sebuah tradisi yang baru sebagai masukan guna meningkatkan kualitas kinerja pemerintah daerah
“ ini sesuai edukasi baik bagi publik untuk melihat lebih jauh terhadap proses pembangunan daerah dan sebagai masukan konstruktif bagi kemajuan daerah “ ujarnya
ia menegaskan bahwa, Kepercayaan publik terhadap kinerja gubernur dan wakil gubernur merupakan sebuah hal yang positif dan masyarakat mengetahui banyak problem di segala aspek namun di balik itu mereka percaya bahwa di tangan gubernur Melki dan Jhoni akan mampu melakukan kerja sama dengan pemerintah pusat untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang maju, berdaya saing, dan berkelanjutan dengan memanfaatkan potensi yang ada.
Laurensius sahreni pengamat dari Undana dalam kesempatan itu menyampaikan menyoroti persoalan mendasar: 28% responden meminta percepatan perbaikan jalan, Akses air bersih masih jadi kebutuhan mendesak, bantuan beasiswa belum merata dan Keluarga kurang mampu butuh perhatian lebih serius
Menurutnya, sebagai provinsi kepulauan, tantangan geografis NTT dinilai menjadi faktor kompleksitas pembangunan. Wilayah seperti Sumba, Flores, Timor, Rote Ndao, dan Sabu memiliki karakteristik berbeda yang membutuhkan pendekatan spesifik.
“ Data survei yang diberikan harus di saring dan benar-benar valid sesuai kondisi lapangan. NTT terdiri dari 22 Kabupaten/Kota.apa yang kita lakukan harus bermanfaat bagi kemajuan daerah yang di landasi data bukan menyenangkan kalangan tertentu” pungkasnya
Laurensius Akademisi dari Universitas Nusa Cendana juga mempertanyakan apakah 800 responden cukup representatif untuk menggambarkan keseluruhan kondisi masyarakat NTT.
Beberapa kritik yang mengemuka:
Apakah suara nelayan dan masyarakat pesisir,masyarakat Timor, Sabu, Rote Ndao,Sumba, Manggarai dan Flores keseluruhan semua terwakili?
Bagaimana dimensi kepemimpinan dan kebijakan publik diukur?
Dampak program seperti Makan Gizi Gratis, OVOP, dan NTT Mart belum dijelaskan secara rinci.
Sambungnya, Persepsi kemiskinan masyarakat pedesaan berbeda dengan indikator statistik.
Pengamat menilai hasil survei ini positif, tetapi belum sepenuhnya komprehensif dan perlu pendalaman dimensi leadership serta policy impact.
Tahun Kedua: Ujian Implementasi
Tantangan berikutnya bukan lagi pada survei, melainkan pada implementasi konkret di lapangan. Publik berharap:OPD bergerak lebih cepat dan terukur Infrastruktur dasar dipercepat, Air bersih menjadi prioritas nyata guna meningkatkan PAD dan berdampak pada kualitas hidup masyarakat.
