GMIT Lanud El Tari Penfui Gelar Pentas Budaya Nusantara, 11 Etnis Bersatu dalam Iman dan Budaya
Kupang, SonafNTT-News.com. Suasana penuh warna, sukacita, dan kebersamaan mewarnai pelaksanaan Pentas Budaya Nusantara yang digelar Jemaat GMIT Lanud El Tari Penfui, Jumat (29/5/2026). Kegiatan yang mengusung tema “Bersatu dalam Iman, Berkarya Dalam Budaya” ini berhasil menyita perhatian publik karena menghadirkan keberagaman budaya dalam nuansa persaudaraan dan iman yang kuat.
Pantauan media di lokasi kegiatan, ratusan jemaat tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian acara yang berlangsung meriah. Sedikitnya 207 Kepala Keluarga dari 7 rayon hadir memadati arena kegiatan. Tidak hanya itu, pentas budaya ini juga melibatkan 11 etnis Nusantara yakni Timor, Ambon, Bali, Sumba, Toraja, Sabu, Rote, Papua, Alor, dan Jawa dengan jumlah keseluruhan mencapai 814 jiwa.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah jemaat dan undangan dari berbagai wilayah pelayanan, di antaranya Jemaat Kharisma Penfui, Yeremia Oeltua, Kanaan Naimata, hingga Betel Kampung Baru. Kehadiran lintas jemaat ini semakin memperkuat semangat persatuan dalam keberagaman budaya dan iman.
Ketua Panitia Pelaksana, Tunggul Benisius Datemoli, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari kesinambungan Bulan Budaya dan Bahasa yang telah menjadi bagian dari liturgi Sinode GMIT.
“Kami menggelar rapat dan memutuskan untuk membuat pentas budaya dan bahasa sehingga ini menjadi puncak dari kegiatan-kegiatan di Bulan Budaya,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi wadah untuk mempererat hubungan antar jemaat dari berbagai latar belakang etnis agar saling mengenal dan membangun rasa persaudaraan yang lebih kuat.
Sementara itu, Pdt. Helda Mimi Sir Seo, S.Th menegaskan bahwa Pentas Budaya Nusantara menjadi bagian penting dari pelayanan gereja yang menyentuh kehidupan sosial dan budaya masyarakat.
“Kita memiliki keberagaman budaya yang luar biasa dan budaya menyatukan kita dalam berbagai aspek serta mengajarkan kita pentingnya membangun daerah dengan kasih dan iman yang kokoh,” ungkapnya.
Ia juga mencontohkan nilai persaudaraan dalam budaya lokal seperti Tarian Peragandong dari Ambon yang sarat makna persatuan dan persaudaraan lintas kelompok.
Tidak hanya suguhan seni dan tarian tradisional yang menjadi daya tarik, panitia juga menyediakan berbagai makanan lokal khas Nusantara secara gratis bagi seluruh jemaat dan tamu yang hadir. Momentum ini menjadi ruang kebersamaan yang hangat sekaligus memperkenalkan kekayaan kuliner daerah kepada masyarakat.
