Saat Sorotan Mulai Redup, Pelajar Palue Masih Bertahan: Kolfidus–Adinda Lebu Raya Turun Langsung Bawa Bantuan

Screenshot_20261006-171611_Samsung Internet

SIKKA, SonafNTT-News.com — Gempa Flores yang mengguncang pada 15 Agustus 2026 mungkin mulai meninggalkan halaman utama pemberitaan. Namun bagi mereka yang terdampak, terutama pelajar dan mahasiswa asal Palue yang berada di Kabupaten Sikka, perjuangan belum selesai.

Ketika perhatian publik perlahan mulai beralih kepada berbagai persoalan lainnya, kebutuhan para penyintas tetap ada. Mereka masih harus memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetap menjalani pendidikan, dan pada saat yang sama menghadapi dampak sosial maupun ekonomi dari bencana yang terjadi di kampung halaman.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan NTT, Lusia Adinda Lebu Raya, bersama Emanuel Kolfidus.

Pada Senin malam, 31 Agustus 2026, keduanya bersama jajaran Pengurus DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sikka, Tesa Nurak, serta Pengurus PAC, Martha Lewar, mendatangi pelajar dan mahasiswa asal Palue yang berada di RT 032/RW 006, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka.

Mereka datang bukan dengan tangan kosong.
Sejumlah bantuan berupa beras, telur ayam, mi instan dan perlengkapan perempuan diserahkan langsung kepada para pelajar dan mahasiswa yang berada di lokasi tersebut.

Sebanyak 14 orang menerima bantuan. Mereka terdiri dari mahasiswa, pelajar SMA, pelajar SD serta mahasiswa yang sedang menjalani praktik pengalaman lapangan.

Bantuan itu mungkin terlihat sederhana.Namun dalam situasi pasca bencana, kebutuhan sederhana justru menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.
Beras berarti kebutuhan makan beberapa hari ke depan. Telur menjadi tambahan sumber pangan. Mi instan dapat menjadi stok makanan praktis, sementara perlengkapan perempuan menjawab kebutuhan yang lebih spesifik dan tidak selalu menjadi perhatian dalam distribusi bantuan umum.

Pantauan di lapangan, saat Kampung Halaman Terpukul, Pendidikan Harus Tetap Berjalan.

Palue bukan hanya tentang rumah dan bangunan yang terdampak gempa.

Di balik bencana terdapat keluarga, anak-anak, pelajar dan mahasiswa yang harus tetap menjalankan kehidupannya.Mereka mungkin sedang berada di Sikka untuk menempuh pendidikan. Namun ketika kampung halaman dilanda bencana, dampaknya tetap mereka rasakan.

Kekhawatiran terhadap keluarga di kampung, kebutuhan hidup sehari-hari, serta kondisi ekonomi keluarga menjadi persoalan yang dapat berjalan bersamaan dengan kewajiban mereka untuk belajar.

Karena itu, membantu pelajar dan mahasiswa asal Palue berarti juga membantu memastikan bahwa bencana tidak memutus perjalanan pendidikan mereka.

Sebanyak 14 penerima bantuan dalam kunjungan tersebut menjadi gambaran bahwa korban bencana tidak selalu berada di titik yang secara geografis paling dekat dengan pusat kerusakan.

Ada pula mereka yang berada di luar daerah terdampak, tetapi tetap membawa dampak bencana dalam kehidupan sehari-hari.

“Walaupun Sedikit, Sangat Bermanfaat”
Bagi penerima bantuan, kepedulian yang datang setelah bencana memiliki makna tersendiri.

Tika, salah seorang mahasiswa asal Palue yang terdampak gempa 15 Agustus 2026, menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian yang diberikan.

“Sebagai salah satu anak yang terdampak gempa pada tanggal 15 Agustus 2026, saya sangat berterima kasih karena bantuan yang Bapak dan Ibu berikan dapat membantu kami. Walaupun sedikit, tetapi sangat bermanfaat bagi kami.”

.

Turun Langsung, Melihat Mereka yang Tidak Selalu Terlihat

Kunjungan Kolfidus dan Lusia Adinda Lebu Raya juga memperlihatkan pendekatan langsung dalam memberikan perhatian kepada kelompok terdampak.

Mereka mendatangi pelajar dan mahasiswa di tempat mereka berada, bukan sekadar menyerahkan bantuan melalui perantara.

Pendekatan semacam ini penting karena dampak bencana tidak selalu terlihat dalam bentuk rumah roboh atau fasilitas umum yang rusak.

Ada dampak yang bersifat sosial.
Ada dampak ekonomi.
Ada pula dampak psikologis dan pendidikan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Pelajar dan mahasiswa asal Palue merupakan salah satu kelompok yang berada dalam situasi tersebut. Mereka harus tetap bersekolah dan menjalankan aktivitas akademik, sementara kampung halaman dan keluarga mereka masih berhadapan dengan dampak bencana.

Saat Kamera Pergi, Kebutuhan Tetap Ada

Bencana biasanya memiliki siklus perhatian.
Hari-hari pertama dipenuhi pemberitaan. Bantuan berdatangan. Posko didirikan. Banyak pihak turun ke lapangan.Namun setelah beberapa minggu, sorotan mulai berkurang.

Dari Sikka, Sebuah Pesan untuk Palue

Kolfidus dan Lusia Adinda Lebu Raya bersama jajaran PDI Perjuangan Sikka memilih hadir secara langsung pada Senin malam.

Kunjungan itu mungkin tidak menyelesaikan seluruh persoalan yang ditinggalkan gempa.
Namun kehadiran tersebut membawa pesan bahwa kelompok terdampak yang berada di luar pusat bencana tetap membutuhkan perhatian.
Bagi Tika dan penerima lainnya, bantuan tersebut memiliki arti.

“Walaupun sedikit, tetapi sangat bermanfaat bagi kami.”

Kalimat itu menjadi penutup yang sederhana sekaligus kuat.

Sebab dalam situasi bencana, kepedulian tidak selalu diukur dari seberapa besar bantuan yang diberikan.

Kadang, yang paling dibutuhkan adalah memastikan seseorang tahu bahwa mereka belum dilupakan.
Gempa Flores 15 Agustus 2026 telah berlalu.
Namun bagi masyarakat Palue, terutama mereka yang masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari sambil melanjutkan pendidikan, perjalanan menuju pemulihan masih panjang.