Belajar, Bertani, Berpenghasilan: Gubernur Melki Kagum Panen Cabai di SMAN 1 Kupang Timur
Kupang, SonafNTT-News.com. Pemandangan tak biasa terlihat di lingkungan SMAN 1 Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Jumat (23/1/2026). Bukan hanya deretan tanaman cabai yang memerah siap panen, tetapi juga semangat para siswa yang belajar langsung dari tanah. Di tengah kebun cabai itulah Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, menyampaikan kekagumannya terhadap praktik pembelajaran yang mampu menyatukan pendidikan, pertanian, dan penghasilan.
“Saya paling suka datang ke acara tanam dan panen seperti ini, apalagi di SMA dan SMK. Ini sejalan dengan program Melki–Johni untuk pemberdayaan ekonomi kerakyatan berbasis potensi lokal,” ujar Gubernur Melki saat menghadiri panen perdana cabai.
Kebun cabai seluas 20 are yang dikelola langsung oleh para siswa menjadi bukti nyata bahwa sekolah bukan hanya ruang belajar teori, tetapi juga laboratorium kehidupan. Sebanyak 3.600 pohon cabai ditanam oleh siswa dari setiap kelas sebagai bagian dari pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). Dengan estimasi hasil panen sekitar 1 kilogram per pohon, kebun sekolah ini menjadi sarana belajar kewirausahaan sekaligus sumber nilai ekonomi nyata.
Gubernur Melki menegaskan bahwa keberhasilan pertanian di sekolah menunjukkan satu pesan penting: pembangunan ekonomi rakyat tidak selalu soal keterbatasan kemampuan, melainkan kemauan mengelola potensi.
“Kita sering berpikir tidak mampu. Padahal persoalan utamanya adalah mau atau tidak mau. Kita punya tanah dan potensi, kalau dikerjakan dengan serius pasti menghasilkan,” tegasnya.
Menurut Gubernur Melki, SMAN 1 Kupang Timur merupakan sekolah kedua di Kabupaten Kupang yang ia kunjungi dalam kegiatan panen berbasis sekolah, setelah sebelumnya menghadiri panen serupa di SMAN 1 Amarasi. Hal ini memperkuat keyakinannya bahwa SMA dan SMK di Kabupaten Kupang bisa menjadi pusat produksi pertanian yang produktif, sekaligus motor penggerak ekonomi lokal.
Ia berharap model pembelajaran kontekstual seperti ini dapat direplikasi di sekolah-sekolah lain di seluruh NTT, sejalan dengan program One School One Product (OSOP) Pemerintah Provinsi NTT serta upaya mendukung ketahanan pangan nasional.
Apresiasi juga datang dari Bupati Kupang, Yosef Lede, yang menilai kegiatan panen cabai di sekolah sebagai kontribusi nyata dunia pendidikan dalam mendukung program strategis nasional di sektor pangan. Menurutnya, keterlibatan siswa sejak dini akan membentuk generasi muda yang mandiri dan produktif.
Sementara itu, Kepala SMAN 1 Kupang Timur, Selfina R. Sunbanu, menjelaskan bahwa seluruh proses penanaman hingga perawatan cabai dilakukan langsung oleh para siswa, dengan sistem pembagian tanggung jawab satu bedeng untuk setiap kelas. Modal awal berasal dari Dana BOS sebesar Rp 35 juta, dan dengan harga cabai yang sedang meningkat, keuntungan diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.
Bagi para siswa, kebun sekolah bukan sekadar proyek. Ketrin Bot, siswi kelas XI, mengaku kegiatan berkebun justru memperkaya pengalaman belajar.
“Kami belajar bertani tanpa mengganggu pelajaran. Kami belajar kerja sama, tanggung jawab, dan bagaimana lahan kosong bisa menghasilkan,” ungkapnya.
Panen cabai di SMAN 1 Kupang Timur menjadi potret optimisme pendidikan di NTT—bahwa dari sekolah, anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga menanam harapan, memanen keterampilan, dan menyiapkan masa depan ekonomi yang lebih mandiri.
