Manggarai, SonafNTT-News.com — Pasca gempa bumi yang terjadi pada 15 Agustus 2026, sejumlah infrastruktur jalan dan jembatan di Nusa Tenggara Timur (NTT) ikut terdampak. Kondisi tersebut menjadi perhatian Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTT, khususnya terhadap akses transportasi masyarakat di wilayah Manggarai dan Manggarai Timur.
Dua jembatan yang terdampak dan kini mendapat penanganan yakni Jembatan Wae Pesi di Kabupaten Manggarai dan Jembatan Wae Dampek di Kabupaten Manggarai Timur.
Untuk memastikan akses transportasi masyarakat tetap berjalan, BPJN NTT melalui Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah III dan PPK 3.3 terus melakukan langkah-langkah konkret di lapangan.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.3, Nur Indah Indriani, ST, MM, M.Sc, saat kepada wartawan, Senin malam (5/10/2026), menjelaskan bahwa penanganan Jembatan Wae Pesi saat ini masih terus berlangsung dengan sejumlah pekerjaan rehabilitasi.
Menurutnya, pekerjaan tersebut meliputi pengencangan baut, reposisi struktur jembatan, bending plat, hingga perbaikan atau penggantian expansion joint atau siar muai.
Perbaikan siar muai dilakukan pada bagian sambungan jembatan yang mengalami keretakan, kerusakan maupun lepas, sehingga pergerakan alami struktur jembatan dapat kembali berfungsi secara fleksibel.
Selain itu, dilakukan pula perkuatan struktur (retrofitting) terhadap bagian jembatan yang mengalami penurunan kekuatan pascagempa. Menurutnya, Salah satu metode yang digunakan yakni dengan material serat karbon (carbon fiber).
Reposisi Struktur Jadi Bagian Penting
Nur Indah menjelaskan, salah satu pekerjaan penting pada Jembatan Wae Pesi adalah reposisi struktur jembatan.
Pekerjaan tersebut dilakukan untuk mengembalikan atau menggeser kembali bentang jembatan yang mengalami pergeseran akibat guncangan lateral gempa bumi.
Tak hanya struktur utama, penanganan juga menyasar bagian jalan pendekat atau oprit jembatan.
Perbaikan oprit dilakukan terhadap bagian yang mengalami keretakan, amblesan maupun patahan pada segmen jalan yang menghubungkan tanah dasar dengan lantai jembatan.
Ia lanjut menjelaskan bahwa, BPJN NTT juga melakukan penggantian perletakan jembatan (bearing pad). Bantalan jembatan yang sebelumnya menggunakan bantalan karet biasa akan diganti dengan bantalan yang memiliki kemampuan menahan beban gempa, seperti seismic bearing atau pot bearing.
Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan ketahanan struktur jembatan terhadap beban lateral akibat guncangan apabila terjadi gempa di kemudian hari.
Progres Rehabilitasi Wae Pesi Capai 50 Persen
Nur Indah mengatakan, pekerjaan di Jembatan Wae Pesi hingga saat ini masih terus dikebut. Progres pekerjaan disebut telah mencapai 50 persen.
“Kami terus berproses di lapangan dan kalau lebih cepat tentunya lebih baik untuk memudahkan mobilitas masyarakat. Progresnya hingga saat ini sudah 50 persen sedangkan pekerjaan konstruksi Jembatan Wae Pesi ditargetkan selesai pada awal Desember 2026” ujarnya
Jembatan Wae Dampek Sudah Ditangani Sementara
Sementara itu, untuk Jembatan Wae Dampek di Kabupaten Manggarai Timur, BPJN NTT telah melakukan penanganan sementara.
Nur Indah mengatakan, penanganan sementara mencakup bagian oprit serta penguatan konstruksi jembatan agar lalu lintas dapat kembali fungsional.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga agar akses masyarakat tetap dapat digunakan sembari menunggu proses penanganan selanjutnya.
“Untuk penanganan Jembatan Wae Dampek, kami sudah melakukan penanganan sementara mulai dari oprit, penguatan konstruksi jembatan agar lalu lintas bisa kembali fungsional Sedangkan untuk penanganan selanjutnya, saat ini masih dalam proses penyusunan desain dan perencanaan.” Jelasnya
Pemulihan Infrastruktur Jadi Kunci Mobilitas Warga
Ia menegaskan bahwa Penanganan kedua jembatan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan infrastruktur pasca gempa tidak hanya menyangkut perbaikan fisik bangunan, tetapi juga memastikan masyarakat tetap memiliki akses transportasi yang aman dan fungsional.












