Waingapu, SonafNTT-News.com — Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI) melalui Lembaga Pusat Studi dan Sekolah Perdamaian (Lapssekdam) menggelar rangkaian Seminar dan Sekolah Perdamaian di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan Seminar Sekolah Perdamaian pada Kamis, 1 Oktober 2026, di Gedung Serbaguna GKS, Waingapu, yang diikuti sekitar 150 peserta dari unsur GAMKI, mahasiswa, organisasi kepemudaan Cipayung, gereja, perguruan tinggi dan berbagai elemen masyarakat.
Setelah seminar, kegiatan dilanjutkan dengan Sekolah Perdamaian selama tiga hari, 2–4 Oktober 2026, bertempat di GKS Payeti, Waingapu. Sekolah Perdamaian dirancang sebagai ruang pembelajaran yang lebih intensif untuk membekali peserta dengan perspektif serta keterampilan praktis dalam membangun perdamaian, mencegah kekerasan dan intoleransi, serta mengelola konflik secara konstruktif dan non-kekerasan.
Hadir dalam seminar antara lain Sekretaris Umum DPP GAMKI Alan Christian Singkali, S.E., M.Si., jajaran Lembaga Pusat Studi dan Sekolah Perdamaian DPP GAMKI, Rektor Universitas Kristen Wira Wacana (Unkriswina) Sumba Dr. Umbu Ho Ara, S.E., M.Si., Plt. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Sumba Timur Andreas Mulla, S.E., DPC GAMKI Sumba Timur dan Sumba Tengah, serta perwakilan organisasi kepemudaan. Ibadah pembukaan dilayani oleh Pendeta Kampus Unkriswina Sumba, Pdt. Trince B. Dondu, M.Th.
Sekretaris Umum DPP GAMKI Alan Christian Singkali menegaskan bahwa Sekolah Perdamaian bukan sekadar kegiatan pendidikan kader, tetapi merupakan pernyataan sikap sekaligus aksi nyata GAMKI untuk hadir bersama masyarakat yang mengalami ketidakadilan.
Menurutnya, perdamaian tidak hanya berbicara mengenai hubungan antaragama dan antarkelompok. Perdamaian juga menyangkut keberpihakan kepada mereka yang mengalami kekerasan, diskriminasi dan ketidakadilan, termasuk perempuan dan anak serta masyarakat yang berhadapan dengan persoalan ekologis dan konflik sumber daya alam.
“Sekolah Perdamaian merupakan pernyataan sikap sekaligus aksi nyata GAMKI untuk berpihak kepada mereka yang tertindas. Perdamaian harus hadir dalam kehidupan konkret masyarakat,” tegas Alan.
Rektor Unkriswina Sumba, Dr. Umbu Ho Ara, S.E., M.Si., mengapresiasi konsistensi GAMKI dalam mengangkat isu toleransi, perdamaian dan keadilan. Menurutnya, kehadiran Lapssekdam dan Sekolah Perdamaian memiliki relevansi kuat dengan tugas perguruan tinggi.
Agenda perdamaian juga berkaitan erat dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pembangunan masyarakat yang damai, adil dan inklusif. Karena itu, ia berharap kerja sama pendidikan perdamaian dapat terus dikembangkan menjadi kolaborasi antara GAMKI, perguruan tinggi, pemerintah, gereja dan masyarakat.
Mewakili Pemerintah Kabupaten Sumba Timur, Andreas Mulla, S.E. menegaskan bahwa pendidikan perdamaian sangat relevan dengan realitas sosial masyarakat Sumba.
Menurutnya, tantangan perdamaian hari ini bukan semata-mata konflik terbuka. Masyarakat juga sedang berhadapan dengan kemiskinan, ketidakadilan, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap perempuan dan anak serta berbagai persoalan sosial-budaya, termasuk praktik perkawinan paksa.
Karena itu, pemuda harus hadir bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyapa, mendengarkan dan menjadi bagian dari penyelesaian persoalan masyarakat.
“Tidak ada pembangunan yang dapat berjalan apabila masyarakat hidup dalam konflik dan kehilangan kepercayaan satu sama lain. Perdamaian adalah kesanggupan menghormati perbedaan serta berdialog secara terbuka dan jujur,” ujarnya.
Ia mengajak generasi muda menjadi jembatan yang mempertemukan perbedaan, bukan membangun tembok yang memisahkan masyarakat.
Sekolah Perdamaian DPP GAMKI lahir dari keprihatinan terhadap masih terjadinya intoleransi, diskriminasi, kekerasan berbasis agama, konflik sumber daya alam, perundungan, serta berbagai bentuk kekerasan terhadap kelompok rentan.
Karena itu, pendidikan perdamaian tidak boleh berhenti pada pengetahuan tentang toleransi. Peserta perlu dibekali kemampuan membaca konflik, membangun dialog, melakukan mediasi, mengembangkan komunikasi non-kekerasan, serta memperjuangkan keadilan melalui cara-cara damai.
Program di Sumba Timur ini melanjutkan pengembangan Sekolah Perdamaian yang sebelumnya telah dilaksanakan GAMKI di Salatiga pada 2024. Melalui rangkaian seminar pada 1 Oktober dan Sekolah Perdamaian pada 2–4 Oktober 2026, GAMKI ingin menjembatani nilai-nilai iman Kristen tentang kasih dan perdamaian dengan kemampuan konkret anak muda menghadapi konflik di tengah masyarakat.
Bagi GAMKI, perdamaian bukan sekadar tidak adanya konflik. Perdamaian berarti hadirnya keadilan, penghormatan terhadap martabat manusia, keberanian membela mereka yang lemah, serta kemampuan hidup bersama di tengah perbedaan.
Dari Waingapu, GAMKI berharap lahir kader-kader muda yang tidak hanya pandai berbicara mengenai perdamaian, tetapi mampu menjadi pelaku perdamaian di kampus, gereja, organisasi dan komunitasnya masing-masing.
Pemuda dipanggil menjadi jembatan, bukan tembok; menjadi pembawa damai dan garda terdepan membangun daerah melalui kerja-kerja nyata sesuai tugas dan peran masing-masing












