Dukung Naibonat Jadi Sentra Ketahanan Pangan, Tahun 2026 Usman Husin Siap Bantu Alsintan, Infrastruktur di Persawahan Belu Dale
Kupang, Sonaf NTT- News.com. Komitmen mendukung Naibonat sebagai sentra ketahanan pangan terus mendapatkan dukungan nyata. Dalam kegiatan reses langsung di area persawahan Belu Dale, Anggota DPR RI Usman Husin menyatakan kesiapan membantu alat mesin pertanian (alsintan) serta infrastruktur pertanian pada tahun 2026 mendatang.Turut hadir sejumlah tokoh masyarakat, tokoh adat, Tenaga Ahli DPR RI dapil Timor Yorim Boymau dan sahabat Usman Husin, Minggu 3/8/2025
Pantau media, Kunjungan Anggota DPR RI Usman Husin disambut hangat oleh para petani yang tergabung dalam berbagai kelompok tani di wilayah Kelurahan Naibonat. Lokasi persawahan Belu Dale seluas 1500 hektar disebut-sebut sebagai hamparan lahan tidur yang belum tergarap optimal karena kurangnya perhatian dari pemerintah selama ini.
“Ini pertama kali ada Anggota DPR RI yang turun langsung melihat kondisi kami di lahan. Kami sangat apresiasi,” ujar Marthinus Bani, salah satu pengurus Kelompok Tani setempat.
Reses di Lahan, Aspirasi Diserap Langsung
Dalam dialog terbuka dengan petani, Usman Husin menegaskan bahwa sektor pertanian adalah tulang punggung bangsa.
“Petani adalah pahlawan kehidupan. Karena merekalah kita bisa makan sayur, jagung, dan padi,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan bahwa untuk menjawab kebutuhan para petani, masyarakat dipersilakan mengajukan usulan bantuan melalui proposal, dengan kerja sama pemerintah desa dan Dinas Pertanian Kabupaten Kupang. Proposal tersebut akan dikawal dan diproses dalam rapat dengar pendapat (RDP) untuk diteruskan ke Kementerian Pertanian.
Siap Bantu Alsintan dan Infrastruktur
Mencermati luasnya lahan pertanian yang masih belum tergarap, Usman menyatakan kesiapannya membantu sejumlah alat seperti: Hand traktor roda dua, Cultivator, Alat tanam (transplanter), Combine harvester, Perbaikan akses jalan tani.
Bendung Belu Dale, yang sering mengalami kerusakan saat musim hujan
“Melihat potensi besar ini, saya akan dorong di pusat agar NTT, khususnya Naibonat, menjadi lumbung pangan nasional,” tegasnya.
Suara Petani: Perjuangan yang Belum Usai
Beberapa petani menyampaikan langsung keluh kesah mereka. Marten Tapeno (pemilik 19 Ha sawah) mengeluhkan minimnya bantuan:
“Kami kerja masih manual. Saat panen terkendala karena belum pernah dapat alsintan.”
Tote Albertus menyoroti kerusakan Bendung Belu Dale sejak bencana Seroja yang belum mendapat perhatian serius.
Paulus Lau dari Kelompok Tani Sejahtera Karya, meminta dukungan pupuk dan hand traktor untuk sawahnya seluas 20 hektar.
Rofin Be’i, salah satu penerima bantuan hand traktor roda empat dari Usman Husin, mengatakan:
“Terima kasih atas bantuannya. Naibonat memang layak jadi barometer ketahanan pangan ke depan.”
Dengan dukungan dari DPR RI dan kolaborasi lintas sektor, harapan petani Naibonat untuk bangkit dan produktif tampaknya bukan sekadar mimpi. Jika usulan-usulan ini ditindaklanjuti secara serius, maka tahun 2026 bisa menjadi titik balik pertanian Naibonat menuju kemandirian pangan dan kesejahteraan petani.
