Elpiji Langka di Kupang Saat Ramadan, Anggota DPR RI Usman Husin Desak Pertamina Segera Atasi
Kupang, SonafNTT-News.com. Kelangkaan gas elpiji yang terjadi di Kota Kupang saat memasuki bulan suci Ramadan hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah memicu keresahan luas di tengah masyarakat. Bahan bakar yang menjadi kebutuhan utama rumah tangga dan pelaku usaha kuliner ini tiba-tiba sulit ditemukan di berbagai pangkalan dan pengecer. Kondisi tersebut bukan hanya menyulitkan warga untuk memasak kebutuhan sehari-hari, tetapi juga mulai mengganggu aktivitas ekonomi kecil di daerah tersebut.
Sejumlah warung makan dilaporkan terpaksa mengurangi produksi bahkan menutup sementara usahanya karena tidak mendapatkan pasokan gas elpiji. Situasi ini menjadi ironi, mengingat kebutuhan masyarakat terhadap bahan bakar memasak justru meningkat selama Ramadan.
Kelangkaan ini juga dirasakan oleh sektor perhotelan. Manajemen Hotel Neo Eltari Kupang bahkan mengaku harus mencari alternatif pasokan hingga ke luar daerah. General Manager hotel tersebut, Junadi, menyampaikan bahwa pihaknya terpaksa membeli langsung gas elpiji dari Surabaya, Jawa Timur, demi menjaga operasional hotel tetap berjalan. Pernyataan itu disampaikan saat acara buka puasa bersama dengan para jurnalis pada Jumat, 6 Maret 2026.
Fenomena ini menimbulkan tanda tanya besar di kalangan publik terkait distribusi elpiji di wilayah Nusa Tenggara Timur, khususnya Kota Kupang. Banyak warga mempertanyakan mengapa kelangkaan bisa terjadi justru pada momen ketika kebutuhan masyarakat meningkat tajam.
Menanggapi kondisi tersebut, Anggota DPR RI dari Fraksi PKB, Usman Husin, mendesak Pertamina untuk segera turun tangan dan mengambil langkah cepat mengatasi persoalan ini. Ia mengaku dalam beberapa hari terakhir menerima banyak laporan dari masyarakat yang mengeluhkan sulitnya mendapatkan elpiji.
Menurut Usman Husin, elpiji merupakan kebutuhan pokok masyarakat sehingga kelangkaannya tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Ia menilai respons yang lamban dari pihak terkait dapat memperburuk kondisi ekonomi masyarakat kecil, terutama pelaku usaha kuliner yang sangat bergantung pada gas elpiji.
“Ada warung makan yang terpaksa tutup karena tidak ada gas elpiji. Jika kondisi ini tidak segera diatasi pemerintah bersama Pertamina, tentu akan merugikan masyarakat dan mengganggu perekonomian,” tegasnya.
Meski demikian, Usman Husin menyebut masih ada sebagian masyarakat yang menggunakan minyak tanah sebagai alternatif bahan bakar untuk memasak. Keberadaan minyak tanah ini sedikit membantu mengurangi dampak kelangkaan elpiji. Namun ia mengingatkan bahwa jika seluruh masyarakat sudah sepenuhnya beralih ke gas elpiji, maka krisis seperti ini akan berdampak jauh lebih besar.
Situasi ini juga menjadi perhatian karena terjadi menjelang sejumlah momentum penting, yakni Ramadan, Idul Fitri, serta Hari Raya Nyepi yang biasanya diikuti peningkatan aktivitas masyarakat dan konsumsi rumah tangga.
Hingga saat ini, pihak Pertamina wilayah NTT belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab kelangkaan elpiji di Kota Kupang. Publik berharap perusahaan energi milik negara tersebut segera memberikan penjelasan sekaligus mengambil langkah konkret untuk menormalkan kembali distribusi gas elpiji di wilayah tersebut.
