Kefamenanu,SonafNTT-News.com.Penerbangan perdana Kefa Air menuju Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, dinilai bukan sekadar bertambahnya pilihan moda transportasi udara. Kehadiran maskapai tersebut dipandang sebagai momentum penting yang dapat membuka babak baru pembangunan ekonomi daerah.
Staf Khusus Bupati TTU Bidang UMKM dan Ekonomi Kreatif, H. Fahmi H. Abdullahi, SE, mengatakan konektivitas udara merupakan salah satu fondasi utama dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah, terutama bagi wilayah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses transportasi.
“Selama bertahun-tahun, tantangan utama pembangunan TTU adalah keterbatasan akses yang cepat dan efisien. Kini, dengan hadirnya Kefa Air, masyarakat memiliki harapan baru untuk memperluas mobilitas, mempercepat aktivitas ekonomi, sekaligus meningkatkan daya saing daerah,” ujar Fahmi kepada wartawan, Kamis (16/7/2026).
Menurut Fahmi, kemudahan akses menjadi salah satu pertimbangan utama investor sebelum menanamkan modal. Selain efisiensi waktu perjalanan, investor juga memperhatikan kepastian transportasi bagi tenaga ahli, distribusi logistik, hingga kemudahan melakukan pengawasan proyek.
Dengan adanya penerbangan langsung menuju Kefamenanu, lanjut dia, posisi TTU di mata pelaku usaha menjadi semakin kompetitif.
“Daerah yang mudah dijangkau akan lebih cepat menarik investasi. Investor dari Jakarta, Surabaya, Bali, Makassar, maupun kota besar lainnya kini memiliki akses yang lebih praktis untuk datang ke TTU. Ini merupakan nilai tambah yang sangat penting,” ujar Fahmi yang saat ini di percakapan Sebagai Wakil Ketua APINDO Nusa Tenggara Timur Ketua Dewan Kehormatan HIPMI Nusa Tenggara Timur
Fahmi menilai peluang investasi terbuka di berbagai sektor strategis. Potensi tersebut meliputi pertanian modern, peternakan sapi, industri pengolahan hasil pertanian, perdagangan, pariwisata, perhotelan, kuliner, pergudangan, logistik, properti, pendidikan, kesehatan, energi terbarukan, hingga pengembangan UMKM berbasis potensi lokal.
Ia menjelaskan bahwa membaiknya konektivitas juga akan menekan biaya operasional dunia usaha. Efisiensi tersebut dinilai mampu meningkatkan daya tarik TTU dibandingkan daerah lain yang memiliki karakteristik ekonomi serupa.
Tidak hanya investasi, sektor pariwisata juga diperkirakan memperoleh manfaat besar. TTU memiliki beragam destinasi wisata alam, budaya, religi, dan sejarah yang selama ini belum sepenuhnya dikenal karena keterbatasan akses transportasi.
Dengan perjalanan yang lebih singkat, wisatawan diperkirakan akan lebih mudah mengunjungi TTU. Kondisi tersebut diyakini akan menciptakan peluang ekonomi baru bagi hotel, homestay, rumah makan, kafe, penyedia jasa transportasi, pemandu wisata, pelaku ekonomi kreatif, hingga pengrajin lokal.
“Setiap wisatawan yang datang membawa belanja yang akan berputar di tengah masyarakat. Semakin banyak kunjungan, semakin besar pula dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Fahmi juga menaruh perhatian besar terhadap perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurut dia, meningkatnya arus investasi dan kunjungan wisata akan memperluas pasar bagi berbagai produk unggulan daerah, mulai dari kopi TTU, tenun ikat, makanan khas Timor, kerajinan tangan, hingga produk pertanian dan peternakan.
“UMKM merupakan tulang punggung ekonomi daerah. Ketika aktivitas ekonomi meningkat, pelaku UMKM menjadi salah satu pihak yang paling merasakan manfaatnya karena pasar mereka semakin luas,” katanya.
Selain membuka peluang usaha, bertambahnya investasi juga diperkirakan akan menciptakan lapangan kerja baru di berbagai sektor, mulai dari konstruksi, perhotelan, restoran, perdagangan, administrasi, teknologi informasi, hingga jasa lainnya.
Dalam jangka panjang, meningkatnya aktivitas ekonomi diperkirakan akan mendorong pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Peningkatan penerimaan dari pajak hotel, restoran, reklame, retribusi, serta perizinan usaha diharapkan dapat memperkuat kapasitas pemerintah daerah dalam membiayai pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik.
Bagi Fahmi, kehadiran Kefa Air juga menjadi simbol meningkatnya kepercayaan dunia usaha terhadap prospek pembangunan TTU.
“Maskapai tentu memiliki pertimbangan bisnis sebelum membuka sebuah rute penerbangan. Karena itu, kehadiran Kefa Air menunjukkan bahwa TTU mulai dipandang memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan,” ujar Fahmi yang juga Ketua Jaringan Pengusaha Nasional (JAPNAS) Nusa Tenggara Timur
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan untuk bersama-sama menjaga keberlanjutan layanan penerbangan tersebut dengan meningkatkan aktivitas ekonomi, memperkuat sektor unggulan, serta memberikan pelayanan terbaik kepada setiap pengunjung
“Setiap pesawat yang mendarat di TTU bukan hanya membawa penumpang. Ia membawa peluang investasi, membuka lapangan pekerjaan, menggerakkan UMKM, memperkenalkan pariwisata, dan menghadirkan harapan baru bagi masa depan Kabupaten Timor Tengah Utara,” pungkas Fahmi.
