Kilas Balik Stunting NTT dari Hulu: Krisis Ekologi di Balik Krisis Gizi, Oleh : Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Benain Noelmina Kludolfus Tuames
Kupang, SonafNTT-News.com. Stunting di Nusa Tenggara Timur (NTT) kerap dibicarakan sebagai persoalan gizi rumah tangga dan layanan kesehatan. Berbagai intervensi telah dijalankan, mulai dari pemberian makanan tambahan, penguatan posyandu, hingga edukasi gizi ibu dan anak. Upaya tersebut patut diapresiasi karena mampu menurunkan prevalensi stunting secara bertahap. Namun, satu pertanyaan mendasar masih jarang diajukan secara jujur: mengapa pangan lokal yang dikonsumsi masyarakat NTT selama puluhan tahun belum mampu membangun generasi yang sehat dan kuat?
Untuk menjawabnya, kita perlu menengok lebih jauh ke hulu—pada kondisi tanah dan ekologi yang menopang sistem produksi pangan lokal.
Ketika Tanah Kehilangan Daya Hidup
NTT adalah wilayah lahan kering dengan ketergantungan tinggi pada sistem pertanian tradisional. Salah satu praktik yang masih dominan adalah tebas bakar. Dalam jangka pendek, pembakaran lahan memang mempermudah pengolahan dan memberi ilusi kesuburan. Abu pembakaran membuat tanah tampak subur, tanaman tumbuh hijau, dan panen tetap terjadi.
Namun dibalik itu, tanah perlahan kehilangan daya hidupnya. Api memusnahkan bahan organik yang menjadi fondasi kesuburan tanah. Unsur hara penting seperti nitrogen, karbon, dan sulfur hilang ke udara. Mikroorganisme tanah yang berperan mengikat dan mendaur ulang unsur hara ikut musnah. Tanah menjadi miskin mineral dan semakin rapuh dari tahun ke tahun.
Akibatnya, tanaman pangan utama seperti jagung dan umbi-umbian memang tetap tumbuh, tetapi kandungan gizinya menurun. Pangan yang dihasilkan lebih berfungsi sebagai pengisi perut, bukan sebagai sumber gizi yang cukup bagi pertumbuhan anak dan kesehatan ibu.
Kenyang Tidak Selalu Berarti Bergizi
Inilah paradoks yang dihadapi masyarakat NTT: tidak lapar, tetapi kekurangan gizi. Fenomena hidden hunger ini menjadi akar persoalan stunting yang sering luput dari perhatian. Anak-anak mengkonsumsi pangan lokal setiap hari, namun kekurangan protein, zat besi, seng, dan mineral penting lainnya yang menentukan pertumbuhan fisik dan perkembangan otak.
Dalam kondisi seperti ini, intervensi gizi di hilir menjadi tidak sepenuhnya efektif. Suplementasi dan makanan tambahan hanya bersifat sementara jika kualitas pangan harian yang dikonsumsi keluarga tetap rendah. Tanpa perbaikan di sistem produksi pangan, stunting akan terus muncul sebagai masalah yang berulang.
Warisan Lama yang Tak Lagi Relevan
Praktik tebas bakar sering dianggap sebagai tradisi yang tidak boleh disentuh. Padahal, dalam perspektif sejarah, praktik ini berkembang sebagai respons darurat terhadap krisis pangan pada masa lalu. Konteks ekologis saat itu sangat berbeda dengan kondisi hari ini, ketika tekanan terhadap lahan semakin besar dan masa bera semakin pendek.
Budaya sejatinya bersifat dinamis. Ia lahir dari konteks tertentu dan semestinya berubah ketika terbukti merugikan kehidupan masyarakat. Mempertahankan praktik yang merusak tanah berarti mewariskan persoalan ekologis dan gizi kepada generasi berikutnya.
Stunting sebagai Alarm Ekologi
Tingginya angka stunting di NTT seharusnya dibaca sebagai alarm ekologis. Data menunjukkan bahwa wilayah dengan ketergantungan tinggi pada pertanian lahan kering berbasis pembakaran cenderung memiliki prevalensi stunting yang lebih tinggi. Hubungan ini bukan kebetulan, melainkan refleksi dari keterkaitan antara kondisi tanah, kualitas pangan, dan kesehatan manusia.
Anak-anak yang tumbuh stunting hari ini adalah cermin dari tanah yang miskin unsur hara dan sistem produksi pangan yang tidak berkelanjutan. Karena itu, stunting tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan kesehatan, tetapi harus dipahami sebagai persoalan lintas sektor yang melibatkan lingkungan, pertanian, dan tata kelola sumber daya alam.
Menggeser Fokus ke Hulu
Upaya penurunan stunting di NTT perlu dilengkapi dengan kebijakan yang berani menyentuh hulu persoalan. Negara harus hadir bukan sekadar melarang praktik tebas bakar, tetapi menyediakan alternatif yang realistis dan terjangkau bagi petani. Teknologi pengolahan lahan tanpa bakar, pengayaan bahan organik tanah, rehabilitasi lahan kritis, serta penguatan sistem pertanian berkelanjutan harus menjadi bagian dari strategi penurunan stunting.
Perubahan ini memang membutuhkan waktu dan pendampingan yang konsisten. Namun tanpa perbaikan kondisi tanah dan ekologi, program gizi akan selalu bekerja dalam batas yang sempit.
Menjaga Tanah, Menjaga Masa Depan
Pada akhirnya, stunting di NTT bukan hanya soal tinggi badan anak, tetapi soal masa depan daerah ini. Menjaga kesuburan tanah berarti menjaga kualitas pangan. Menjaga kualitas pangan berarti menjaga generasi NTT agar tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya saing.
