PAD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Tembus Rp1,096 Miliar, 2026 Dipacu Jadi Rp2 Miliar
Kupang, SonafNTT-News.com. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kembali menunjukkan bahwa sektor pendidikan tak hanya bicara soal ruang kelas dan kurikulum, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak ekonomi daerah. Pada Tahun Anggaran 2025, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT berhasil melampaui target Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang ditetapkan sebesar Rp1 miliar, dengan realisasi mencapai Rp1.096.000.000 atau lebih dari 100 persen.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo,S.Sos,M.M menyampaikan capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh jajaran dan satuan pendidikan. Ia menegaskan, keberhasilan melampaui target PAD bukanlah kerja individu, melainkan buah dari solidaritas, semangat kerja, dan kolaborasi yang terus diperkuat di lingkungan pendidikan.
“Target PAD ini adalah tanggung jawab bersama. Kenaikan yang signifikan tentu menuntut kerja yang lebih solid dan terencana, terutama dengan melibatkan satuan-satuan pendidikan agar potensi yang ada bisa dikelola secara optimal,” ujar Ambros Kodo saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (27/1/2026).
Untuk mendongkrak PAD, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT mengoptimalkan berbagai potensi aset yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Mulai dari jasa penggunaan aula, pengelolaan kantin yang lebih produktif, pemanfaatan lahan kosong di kawasan Taman Budaya, hingga optimalisasi festival seni dan budaya yang dilengkapi ruang teater serta alat musik. Tak hanya itu, upaya mendorong peningkatan kunjungan masyarakat ke museum juga terus digencarkan melalui kampanye edukatif tentang sejarah dan peradaban NTT.
Di sektor pendidikan kejuruan, sekolah-sekolah SMK turut dilibatkan melalui penguatan unit-unit produksi. Selain meningkatkan jiwa kewirausahaan peserta didik, langkah ini juga memberikan dampak langsung terhadap peningkatan PAD daerah. Manajemen jasa kantin di sekolah-sekolah pun dibenahi agar lebih profesional dan berkelanjutan.
Memasuki Tahun 2026, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT mendapat tantangan baru: target PAD dilipatgandakan menjadi Rp2 miliar. Sejumlah program strategis pun telah disiapkan, salah satunya pembangunan sekolah vokasi berasrama di 11 kabupaten, yakni Sumba Timur, Sumba Barat Daya, Malaka, Ende, Alor, Flores Timur, Rote Ndao, Sabu Raijua, Manggarai Timur, dan Timor Tengah Selatan.
Sekolah vokasi berasrama ini dirancang berada di wilayah pedesaan dengan tujuan menciptakan suasana belajar yang lebih tenang, membentuk karakter siswa sejak dini, serta mendorong interaksi dan kunjungan masyarakat kota ke desa. Fasilitas yang disiapkan pun terbilang lengkap, mulai dari asrama, WC dan kamar mandi, sumur bor, ruang praktik siswa, hingga mess guru.
Menurut Ambros Kodo, program ini mendapat dukungan penuh dari Gubernur dan Wakil Gubernur NTT karena dinilai mampu menekan berbagai biaya pendidikan, seperti biaya transportasi dan internet, sekaligus meningkatkan efektivitas pendampingan peserta didik. Sistem pembelajaran yang diterapkan juga menitikberatkan pada praktik, dengan skema dua hari di kelas, tiga hari di laboratorium, dan satu hari di lapangan.
Dengan total anggaran pembangunan mencapai Rp 32 miliar yang bersumber dari APBD Provinsi NTT dan PAD, langkah progresif ini menegaskan komitmen Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT untuk menghadirkan pendidikan berkualitas, berkarakter, dan berdampak nyata bagi pembangunan daerah. Pendidikan pun kembali membuktikan diri bukan sekadar biaya, melainkan investasi strategis bagi masa depan NTT.
