Politik

PDI Perjuangan NTT Konsolidasi Kekuatan: Rakyat Jadi Kompas Arah Partai Lima Tahun ke Depan

Kupang, SonafNTT-News.com. Menjelang pelaksanaan Konferensi Daerah (Konferda) VI, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai memanaskan mesin partai. Melalui Focus Group Discussion (FGD) bertema “Suara Rakyat, Arah Partai – Konsolidasi PDI Perjuangan NTT untuk Kepemimpinan Lima Tahun”, partai berlambang banteng moncong putih ini menegaskan tekadnya untuk menata arah perjuangan berdasarkan aspirasi rakyat.

Kegiatan yang digelar di Sekretariat DPD PDI Perjuangan NTT, Jalan Piet A. Tallo, Kupang, pada Jumat (1/11/2025) ini menjadi momentum penting menjelang Konferda VI yang dijadwalkan berlangsung pada 7 November 2025.

FGD dibuka oleh Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan NTT, Nelson O. Matara, S.Ip., M.Hum., dan dimoderatori Emanuel Kolfidus, S.Pd., yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia Konferda VI. Hadir pula jajaran pimpinan DPD: Ketua Emelia J. Nomleni, Sekretaris Yunus H. Takandewa, dan Bendahara Patris Lali Wolo, bersama para pengurus, akademisi, aktivis, dan perwakilan organisasi masyarakat.

FGD ini menghadirkan sederet akademisi ternama seperti Prof. Dr. Davis B.W. Pandie, MS (Universitas Nusa Cendana), Dr. Rudi Rohi, Esthon Niron, S.IP, MP (Universitas Katolik Widya Mandira), Prof. Dr. Zainur Wula, M.Si (Universitas Muhammadiyah Kupang), dan Ir. Zet Malelak, M.Si (Universitas Kristen Artha Wacana).

Para narasumber mengkritisi sekaligus memberi pandangan strategis mengenai peran partai politik dalam memperkuat demokrasi dan pelayanan publik. Mereka menekankan bahwa PDI Perjuangan, sebagai partai ideologis, harus terus menjadi penyambung lidah rakyat, bukan sekadar mesin elektoral menjelang pemilu.

Ketua DPD PDI Perjuangan NTT, Emelia J. Nomleni, menegaskan bahwa FGD ini bagian dari proses konsolidasi ideologis dan organisatoris.

“Kami ingin memastikan arah perjuangan partai lima tahun ke depan benar-benar berpijak pada aspirasi rakyat dan semangat gotong royong,” tegas Emelia dengan penuh keyakinan.

Menurutnya, konsolidasi ini menjadi langkah penting untuk menjaga jati diri PDI Perjuangan sebagai partai wong cilik, yang konsisten memperjuangkan keadilan sosial dan kemandirian ekonomi rakyat.

Emilia Nomleni yang juga ketua DPRD NTT lanjut menerangkan pertemuan ini sebagai Kompas Perjuangan di Tengah Tantangan Zaman

Dari hasil diskusi, lahir sejumlah rekomendasi strategis:Penguatan peran kader dalam pemberdayaan ekonomi rakyat, Peningkatan kapasitas organisasi di akar rumput dan Konsistensi dalam memperjuangkan kebijakan pro-rakyat di berbagai lini pemerintahan.

Para peserta juga menegaskan pentingnya ajaran Marhaenisme Bung Karno sebagai fondasi ideologis partai dalam menghadapi tantangan sosial dan ekonomi di NTT. Prinsip kemandirian dan gotong royong dianggap masih relevan di tengah derasnya arus kapitalisme dan pragmatisme politik masa kini.

FGD ini ditutup dengan kesepahaman bersama bahwa PDI Perjuangan NTT harus menjadi jembatan antara dunia intelektual dan rakyat, menggali gagasan dari berbagai kalangan untuk memperkuat fondasi perjuangan partai yang berpihak kepada rakyat kecil.

Momentum ini menjadi sinyal kuat bahwa PDI Perjuangan NTT tengah bersiap menata ulang strategi politiknya, bukan hanya untuk memenangkan kontestasi, tetapi juga memastikan perjuangan partai tetap berakar pada ideologi dan kebutuhan rakyat.

Dengan tajuk “Rakyat Jadi Kompas Arah Partai”, PDI Perjuangan NTT mengirim pesan tegas: perjuangan politik sejati adalah tentang mendengarkan, memahami, dan bertindak untuk rakyat. FGD ini menandai langkah awal menuju Konferda VI yang diyakini akan menjadi babak baru konsolidasi kekuatan partai banteng di bumi Flobamora.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *