Pembangunan Berkelanjutan Butuh Aksi Nyata: Kasimirus Kolo Serukan Kolaborasi untuk Perbaikan Jalan TTU–Eban
Kupang, Sonaf NTT- News.com. Wacana pembangunan infrastruktur berkelanjutan yang kerap digaungkan pemerintah kembali dipertanyakan efektivitasnya,
“Kita bicara soal pembangunan berkelanjutan, tapi fakta di lapangan belum mencerminkan semangat itu. Jalan TTU–Eban, yang jadi nadi transportasi masyarakat pedesaan, justru dibiarkan rusak berat. ”
Hal ini disampaikan oleh Anggota DPRD NTT, Drs. Kasimirus Kolo, M.Si, dalam ruang sidang Paripurna di hadapan Gubernur dan wakil Gubernur NTT,29/7/2025.
Kasimirus mengkritik kondisi ruas jalan provinsi yang menghubungkan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) ke Eban, yang hingga kini masih rusak parah dan jauh dari harapan
Ia menyebut hasil reses pada 10 Juli 2025, Kasimirus meninjau langsung kondisi ruas jalan tersebut. Ia menyebut kerusakan terjadi di berbagai titik strategis, menyebabkan terhambatnya distribusi hasil pertanian, melonjaknya biaya logistik, serta meningkatnya waktu tempuh masyarakat ke pusat kota dan layanan dasar.
“Bagaimana ekonomi bisa bergerak kalau rakyat kesulitan akses? Jalan bukan hanya infrastruktur fisik, tapi fondasi pembangunan sosial dan ekonomi,” ujarnya.
Jalur TTU–Eban ini bukan sekadar penghubung antarwilayah, melainkan urat nadi mobilitas warga dari desa ke pusat ekonomi, kesehatan, dan pendidikan di Kabupaten TTU. Dalam kondisi sekarang, banyak desa masih terisolasi, dengan dampak langsung pada pertumbuhan ekonomi dan kualitas hidup masyarakat.
Seruan untuk Kolaborasi Nyata
Dalam pernyataannya, Kasimirus menyerukan kolaborasi lintas sektor: antara Pemerintah Provinsi NTT, DPRD, dan instansi teknis terkait, agar penanganan infrastruktur tidak hanya berhenti pada wacana dan perencanaan, tetapi diwujudkan dalam alokasi anggaran nyata, baik dalam APBD Perubahan 2025 maupun tahun anggaran mendatang.
“Jika jalan rusak terus dibiarkan, kita bukan hanya menunda pembangunan, tapi secara tidak langsung memperpanjang kemiskinan dan keterisolasian rakyat. Ini harus dihentikan,” serunya.
Ia menekankan bahwa pembangunan berkelanjutan bukan semata proyek fisik, tetapi mencerminkan kehadiran negara di tengah rakyat, terutama mereka yang tinggal di desa-desa terpencil.
