Pentingnya Kerja Sama Lintas Sektor Untuk Mengatasi Stunting.

Kupang, sonafntt-news.com. Kerja sama lintas sektor merupakan salah satu faktor harus dilakukan untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dialami oleh masyarakat termasuk membahas dan merumuskan langkah-langkah strategis untuk menurunkan bahkan mengatasi persoalan Stunting di Nusa Tenggara Timur dan khususnya di Kota Kupang.


Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita karena kekurangan gizi kronis sehingga anak tumbuh lebih pendek untuk usianya dan hal ini juga disebabkan oleh banyak faktor yang multi dimensi.Stunting juga disebabkan oleh pengasuhan anak yang kurang maksimal, kurangnya akses makanan bergizi seperti defisiensi zat gizi, karbohidrat,protein, asupan energi dan protein, rendahnya asupan mikronutrein, rendahnya daya beli dan pendidikan ibu yang tidak seimbang.Aspek lain yang menyebabkan Stunting terjadinya infeksi karena adanya invasi bakteri pathogen ke dalam tubuh, terbatasnya akses kesehatan yang berkualitas dan penyediaan sanitasi air bersih.


Untuk mengatasi persoalan Stunting perlu adanya kerja sama dan komitmen yang kuat dari seluruh aspek dan langkah penangananya harus dilihat dari aspek multisektor yang dimulai dari 1000 Hari Pertama Kehidupan seperti pemberian Azi eksklusif selama enam bulan, pola pengasuhan anak yang berkaitan pemberian makanan pendamping, beragamnya pola makan agar memenuhi gizi makro dan miko. Selain itu, aspek lain yang harus diperhatikan yakni dalam masa tumbuh kembang anak memiliki potensi penyakit atau sebaliknya seperti Malaria, dan Diare yang akan berpengaruh terhadap peningkatan berat badan anak.


Langkah penanganan lain juga yang harus menjadi perhatian bersama adalah akses pelayanan terhadap sarana prasarana pelayanan yang berkualitas, memaksimalkan pelayanan posyandu dan penyediaan sarana air bersih dan sanitasi yang memadai baik pada lingkungan keluarga dan tempat-tempat publik.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang Drg. Retnowati,M.Kes saat ditemui awak media di ruang kerjanya Senin 27/72020

Drg. Retnowati, M.Kes lebih lanjut menjelaskan bahwa faktor utama dari penyebab Stunting yakni kemiskinan dan solusinya yang dilakukan setiap keluarga harus memastikan terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan dan papan. Selain itu harus adanya tim penanggulangan kemiskinan untuk memperhatikan ketahanan pangan dan keragaman pangan bagi setiap keluarga.


Upaya lain harus diperhatikan yakni adanya penanganan 1000 HPK yang terdiri dari 270 hari selama masa kehamilan dan 730 hari pada kehidupan pertama bayi yang merupakan periode sensitif akibat ditimbulkan terhadap bayi pada saat lahir yang bersifat permanen, peningkatan pelayanan Imunisasi bagi bayi, balita dan anak, pemberian PMT bagi balita kurang gizi dan makanan pendamping Azi pendampingan dan pemantauan status gizi ibu hamil / menyusui, pemberian PMT dan suplemen bagi hamil dan pengembanagn kegiaatn TFC ( Therapentic Feeding centre).

Setiap pusat layanan kesehatan masyarakat ( Puskesmas) memiliki program indonesia Sehat melalui pendekatan keluarga dimana fokus melakukan penanganan terhadap pasien yang bermasalah atau kekurangan gizi dan jika dibutuhkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan upaya lain puskesmas bersangkutan wajib turun lapangan guna penanganan lebih lanjut.Untuk diketahui dengan hadirnya wabah covid-19 dan Kota Kupang saat ini masuk dalam daftar zona merah dan menyikapi hal tersebut belum bisa dilakukan kegiatan posyandu secara normal meskipun tetap menjalankan protokol kesehatan karena protokol dari kegiatan posyandu berbeda di masa harus memastikan kader posyandu tidak mengalami covid-19 dan warga belum bisa memberikan tempat untuk melakukan kegiatan

posyandu karena akan didatangi banyak orang dan hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya transmisi lokal ditengah pandemik cocid-19 dan solusi yang dilakukan yakni melakukan konsultasi menggunakan media whatsapp group, ungkapnya

Sementara berdasarkan data periode juli 2020 angka Stunting mengalami peningkatan sebesar 30 %. Dimana hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk pendapatan ekonomi masyarakat yang menurun dan langkah yang dilakukan ke depan yakni melakukan penanganan secara terpadu melalui yakni pemberian makanan yang siap dimakan bagi bayi dan balita yang tersebar pada seluruh puskesmas di Kota Kupang dengan target untuk menurunkan angka stunting

Ia menegaskan penangan kasus stunting merupakan tanggung jawab bersama seluruh sektor termasuk peningkatan peran rumah tangga terutama peningkatan pengetahun ibu akan pentingnya pola asuh dan pola konsumsi makanan yang bermutu pada anak, perbaikan sanitasi lingkungan akan mengurangi paparan penyakit akibat lingkungan yang berdampak pada penurunan angka stunting.

Selain itu harus memprioritaskan pencegahan penyakit infeksi pada tahap diagnosa sejak dini untuk mencegah rantai penularan penyakit, peningkatan akses makanan yang bergizi melalui ketersediaan makanan yang bergizi dan peningkatan akses layanan kesehatan yang bermutu yang bisa dijangkau seluruh lapisan masyarakat dan didukung peran aktif seluruh elemen melalui revitalisasi posyandu guna meningkatkan status gizi anak.(Mf/SN).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *