Kupang, SonafNTT-News.com — Harapan warga Pulau Rote dan Pulau Usu, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, untuk memiliki akses penyeberangan yang lebih aman mulai menunjukkan titik terang. Pembangunan jembatan gantung yang menghubungkan kedua wilayah tersebut kini telah mencapai 50 persen dan ditargetkan rampung pada Desember 2026.
Proyek yang dikerjakan di wilayah Daiama, Kecamatan Landu Leko, ini menjadi salah satu pembangunan strategis bagi masyarakat yang selama ini masih mengandalkan sampan untuk menyeberangi perairan. Kondisi tersebut terutama dirasakan anak-anak sekolah dan warga yang harus beraktivitas melintasi jalur tersebut.
Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I, Azhari, ST, MT, mengatakan progres pembangunan jembatan tersebut cukup signifikan. Saat ini, pekerjaan tengah difokuskan pada pembangunan bagian bawah jembatan.
“Progresnya cukup signifikan dan saat ini sedang dikerjakan bangunan bawah. Kami optimis akhir Desember 2026,” ujar Azhari usai mengikuti Upacara Hari Ulang Tahun ke-81 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin, 17 Agustus 2026.
Jembatan ini memiliki bentang utama sepanjang 100 meter. Selain itu, pembangunan juga mencakup jalan penghubung dengan total panjang sekitar 900 meter, terdiri dari 600 meter di sisi Rote dan 300 meter di sisi Usu.
Namun, pembangunan ini bukan sekadar menghadirkan sebuah infrastruktur penghubung antarpulau. Lebih dari itu, jembatan tersebut diharapkan menjadi jawaban atas persoalan keselamatan dan keterisolasian yang selama ini dihadapi masyarakat.
Menurutnya, Pembangunan Jembatan Gantung Pulau Usu di Kabupaten Rote Ndao bukan sekadar menghadirkan sebuah infrastruktur penghubung antarpulau. Lebih dari itu, jembatan ini menjadi simbol perubahan bagi masyarakat yang selama ini menggantungkan mobilitasnya pada sampan atau perahu tradisional untuk menyeberangi perairan menuju Pulau Rote.
Selama bertahun-tahun, perjalanan yang bagi sebagian orang terlihat sederhana justru dapat menjadi tantangan besar bagi warga Pulau Usu. Anak-anak sekolah harus menghadapi risiko dalam perjalanan menuju tempat belajar, sementara masyarakat membutuhkan akses yang lebih aman untuk menjalankan aktivitas ekonomi maupun memperoleh pelayanan publik.
Karena itu, kehadiran jembatan memiliki arti penting dari sisi keselamatan. Warga tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kondisi perairan dan sarana penyeberangan tradisional yang memiliki keterbatasan. Bagi anak-anak sekolah, jembatan juga berarti perjalanan yang lebih aman dan lebih pasti.
Selain itu, dampaknya tidak berhenti pada keselamatan. Jembatan ini berpotensi menjadi urat nadi baru bagi aktivitas masyarakat. Mobilitas menuju pusat perdagangan, pendidikan, maupun pelayanan pemerintahan di Pulau Rote menjadi lebih mudah. Pergerakan hasil usaha masyarakat pun dapat berlangsung lebih lancar, sehingga infrastruktur tersebut memiliki peluang untuk ikut menggerakkan roda ekonomi lokal.
Di bidang pendidikan dan kesehatan, manfaatnya bahkan dapat dirasakan secara langsung. Akses yang lebih mudah berarti kesempatan bagi masyarakat untuk menjangkau sekolah, puskesmas, rumah sakit, dan berbagai layanan dasar tanpa harus menghadapi hambatan penyeberangan seperti sebelumnya.
Dalam kesempatan tersebut ia menyampaikan bahwa Dari sisi ekonomi, jembatan tersebut juga diharapkan mampu membuka peluang baru bagi masyarakat. Akses yang semakin mudah akan memperlancar mobilitas warga sekaligus mendukung distribusi berbagai hasil produksi lokal, termasuk perikanan, pertanian, dan komoditas dari kawasan sentra industri garam.












