Kupang, SonafNTT-News.com Proyek rehabilitasi jaringan irigasi strategis di Daerah Irigasi Mena, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), terus dikebut. Hingga akhir September 2026, progres fisik pekerjaan telah mencapai 58 persen, sementara Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II menargetkan seluruh pekerjaan dapat dirampungkan pada November 2026.
Target tersebut menjadi perhatian karena jaringan irigasi ini berkaitan langsung dengan kebutuhan pengairan lahan persawahan masyarakat di wilayah Mena. Percepatan pekerjaan pun terus dilakukan dengan tetap memperhatikan kualitas konstruksi dan pengawasan teknis di lapangan.
Hal tersebut disampaikan Kepala BBWS Nusa Tenggara II melalui Satuan Kerja Pengelolaan Jaringan Pemanfaatan Air (PJPA), Ari Murlery, saat ditemui wartawan, Selasa (29/9/2026).
Ari menjelaskan, dalam pelaksanaan proyek sempat terdapat kendala di lapangan berupa pagar yang sebelumnya dibangun secara swadaya oleh masyarakat untuk mencegah ternak masuk ke kawasan persawahan.
Namun, persoalan tersebut akhirnya dapat diselesaikan melalui komunikasi dan pendekatan bersama antara tim pelaksana, penyedia jasa, pemerintah kecamatan, pemerintah desa dan masyarakat.
“Kendalanya di pagar area persawahan. Namun puji Tuhan melalui kerja sama yang baik dari Bapak Camat, Kepala Desa dan masyarakat setempat dapat diselesaikan dengan baik. Pagar dipindahkan sesuai kesepakatan warga,” ujar Ari.
Progres 58 Persen, Target Akhir Oktober 80,1 Persen
Setelah kendala di lapangan berhasil diselesaikan, pekerjaan terus digenjot. Saat ini progres fisik telah mencapai 58 persen.
Ari mengatakan, pada pertengahan Oktober 2026 pekerjaan ditargetkan mencapai sekitar 75 persen. Selanjutnya, target dari Direktorat Sumber Daya Air pada akhir Oktober mencapai 80,1 persen, sebelum memasuki tahap penyelesaian pada November.
“Kami optimis di minggu kedua bulan Oktober 2026 bisa tercapai, karena target dari Direktorat Sumber Daya Air di akhir Oktober 80,1 persen dan November bisa finishing,” katanya.
Dengan demikian, November 2026 menjadi bulan yang ditargetkan untuk menyelesaikan pekerjaan rehabilitasi jaringan irigasi tersebut.
Anggaran Turun Rp10 Miliar, Panjang Pekerjaan Berubah
Ia lebih lanjut menjelaskan bahwa, di balik percepatan pekerjaan, proyek rehabilitasi irigasi Mena juga mengalami perubahan volume pekerjaan akibat efisiensi anggaran sekitar Rp10 miliar setelah kontrak.
Pada perencanaan awal, panjang jaringan yang akan direhabilitasi mencapai 14 kilometer dengan nilai anggaran sekitar Rp31,5 miliar. Setelah dilakukan efisiensi, nilai tersebut berubah menjadi sekitar Rp21,5 miliar, sedangkan panjang pekerjaan menjadi sekitar 8 kilometer.
“Jadi awalnya Rp31,5 miliar berubah menjadi Rp21,5 miliar dari pengurangan enam kilometer tersebut. Salurannya bukan primer lagi, dimensinya lebih kecil,” jelas Ari
Perubahan tersebut membuat pekerjaan yang direhabilitasi disesuaikan dengan kondisi jaringan dan anggaran yang tersedia.
Saluran Lama Ditingkatkan Menjadi Beton
Pekerjaan rehabilitasi dilakukan pada saluran irigasi yang berada di kawasan persawahan masyarakat Mena.
Salah satu pekerjaan utama adalah peningkatan konstruksi saluran yang sebelumnya menggunakan pasangan batu menjadi saluran dengan konstruksi beton.
Peningkatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperbaiki jaringan irigasi agar fungsi saluran dapat berjalan sesuai dengan kebutuhan pengairan di kawasan persawahan masyarakat.
Kecepatan Dikejar, Kualitas Tetap Dikawal
Meski target penyelesaian terus dikejar, Ari menegaskan bahwa aspek kualitas pekerjaan tetap menjadi perhatian.
Menurutnya, setiap tahapan pekerjaan dilakukan dengan pengendalian mutu atau quality control yang mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) dan spesifikasi teknis pekerjaan.
Pada bagian tertentu, pengujian juga dilakukan melalui lembaga yang sesuai dengan ketentuan spesifikasi teknis. Sementara pelaksanaan pekerjaan dikawal oleh konsultan supervisi.
“Dalam proses pekerjaan ada quality control yang mengacu terhadap SNI dimana dilakukan pengujian pada lembaga tertentu sesuai ketentuan yang diatur dalam spesifikasi teknis dan dikawal oleh konsultan supervisi,” tegasnya.
Ia menambahkan, dengan progres yang kini mencapai 58 persen, pihak pelaksana masih memiliki pekerjaan yang harus dikejar untuk mencapai target 80,1 persen pada akhir Oktober.












