Ekonomi & Bisnis

Tahun 2021 Dinas Kelautan & Perikanan Provinsi NTT siap Kembangkan Keramba Jaring Apung Berdiameter 10.

Kupang,sonafntt-news.com.Dalam rangka pengembangan program budidaya ikan tangkap dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang optimal,Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Dinas Perikanan dan Kelautan siap mengembangkan sistem pembudidayaan dengan menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA) yang berbentuk bulat berdiameter 10 meter untuk mengurangi potensi kanibalisme antar sesama ikan dalam keramba. Dalam satu keramba, rencananya akan dilepas 25 ribu ekor benih. Setelah delapan bulan diharapkan ada 20 ribu ekor ikan yang siap panen dengan bobot 800 gram. Potensinya, 1 keramba bisa menghasilkan 16 ton.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas (Kadis) Kelautan dan Perikanan NTT, Ganef Wurgiyanto saat memberikan keterangan pers di ruang media center,kantor Gubernur NTT,Rabu 2/9/2020.

Ganef mengungkapkan bahwa upaya pengembangan KJA berdiameter 10 yang akan dilakukan tahun 2021 merupakan salah satu langkah strategis dan efektif guna mendapatkan hasil yang lebih baik dari sebelumnya dengan harapan memberikan manfaat yang besar dan berkelanjutan untuk kepentingan masyarakat NTT maupun bagi pihak yang membutuhkan yang berpedoman terhadap ketentuan yang berlaku.

Sementara untuk Tahun 2020 ini, kita melakukan piloct project untuk sistem pembudidayaan seperti ini di belakang pulau Kambing, Semau. Karena lokasi tersebut dekat dengan Kupang sehingga bisa memudahkan distribusi pakannya. Kita sudah dapatkan pihak ketiga atau pelaku ekonomi yang profesional untuk mendampingi hal teknis sampai pemasarannya,” beber Ganef.

Dalam piloct project ini,lanjut Ganef, kita melibatkan masyarakat sekitar. Satu kerambah akan dikelola oleh 10 orang. Selama delapan bulan, mereka akan mendapatkan gaji upah Rp, 2,5 juta per orang setiap bulannya. Dinas Perikanan dan Kelautan juga menggandeng mahasiswa Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang untuk melakukan pendampingan.

Selain itu, dalam upaya pengembangan Budi daya ikan laut kami sudah mengajukan pinjaman kepada pihak PT SMI (Sarana Multi Finansial) sebesar 152 miliar rupiah. Dana ini akan dimanfaatkan untuk pengembangan budidaya secara besar di Mulut Seribu, Hadakewa Lembata, Labuan Kelambu dan di Semau. Kalau piloct project ini berhasil tentu akan mempercepat proses pencairan pinjaman tersebut. Dalam hitungan kami, potensi untuk pengembalian cicilan kepada SMI dari tiap keramba sekitar 112 juta rupiah mulai tahun 2022,” jelas Ganef.

Lebih lanjut Ganef mengungkapkan, untuk meningkatkan potensi perikanan tangkap, Pemerintah Provinsi memberikan bantuan kapal nelayan 3 GT sebanyak 65 unit dan 130 unit perahu ketinting untuk 22 kabupaten/kota se-NTT. Bantuan ini terutama diarahkan pada wilayah-wilayah dengan potensi besar, sumber daya manusia mumpuni serta mudah diakses oleh pengusaha.

“Kita sudah mengekspor ikan anggoli sejak tahun 2018 ke Singapura dan Honololu. Kita berupaya keras ekspor seperti ini langsung dilakukan dari NTT ke negara tujuan sehingga provinsi kita dapat menjadi provinsi devisa,” kata Ganef.

Terkait dengan rumput laut, jelas Ganef, luasan potensi sekitar 54.000 hektar dengan potensi produksi sekitar 15 juta ton setahun. Tersebar di seluruh kabupaten/kota di seluruh NTT. Kualitas karaginannya di atas 90 persen sehingga bisa langsung buat gel, juga bisa untuk buat food dan non food. Namun yang baru bisa dieksploitasi sekitar 2 juta ton per tahun atau sekitar 13,2 persen.

“Untuk meningkatkan produksi ini, pemerintah provinsi memberikan stimulan bibit rumput laut sejak 2019 kepada 4.050 pembudidaya di seluruh NTT. Tahun 2020 kepada, kepada 4.000 orang. Kami juga mengajak pihak swasta untuk melakukan investasi pada rumput laut. Menurut analisis kami,

dibutuhkan keterlibatan investasi sebesar 1,2 triliun untuk mengeksploitasi seluruh potensi di NTT,” jelas Ganef.

Tahun 2019, jelas Ganef, Provinsi NTT untuk pertama kalinya berhasil melakukan ekspor langsung rumput laut ke Argentina sejumlah 25 ton. Ekspor ini penting untuk menjaga stabilisasi harga pasar rumput laut. Dan tidak ada permainan masalah stok dan harga di situ.

“Karena persoalan rumput laut bukan terutama budidaya tapi stabilitas harga. Pernah 12 ribu rupiah per kg, namun tak lama kemudian turun sekitar 3 ribu rupiah. Ini tentu tidak menguntungkan masyarakat. Karenanya, kita memberdayakan perusahaan daerah PT Flobamora untuk menjadi pengumpul rumput laut dengan harga 20 ribu rupiah per kilo gram,”

Ia menegaskan bahwa untuk mewujudkan semua hal tersebut diperlukan kerja sama yang baik antara pemerintah,pihak swasta dan nelayan.Ikan NTT punya nilai ekonomis tinggi, namun kalau tidak ada pembeli yang akan memasarkan keluar NTT, harga tetap rendah . Investasi di sini bukan hanya membeli ikan dan memasarkan, tapi juga terlibat dalam menyiapkan fasilitas pasca panen.(Mf/SN).

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *