THS -THM & OMK Paroki St.Maria Fatima Nurobo Gelar Jalan Salib Hidup

Atambua,Sonaf-NTT News.Com. THS- THM &,Orang Muda Katolik (OMK) Paroki St .Maria Fatima Nurobo-Dekenat Malaka-Keuskupan Atambua-Timor gelar Ibadat Jalan Salib hidup di Stasi Santo Arnoldus Jhansen Sukabitetek Jumat, 02 April 2021 guna mengambil bagian dalam Sengsara dan Penderitaan Yesus Kristus.

“Aksi Anak muda-Melakukan Prosesi Jalan Salib-Jumat Agung-Pemberian diri-untuk turut menderita-bersama-Kristus”

Pelaksanaan ibadah Jumat Agung diawali dengan ibadat Jalan Salib yang mengisahkan kisah sengsara Kristus.Aksi jalan salib hari ini dihadiri oleh Dewan Pengurus Stasi (DPS), Para Pengurus Lingkungan dan Kelompok Umat Basis (KUB), semua umat beriman se-stasi sukabitetek dan Orang Muda Katolik.

Ketua OMK Paroki St .Maria Fatima Nurobo- Dekenat Malaka-Keuskupan Atambua-Timor gelar Emilianus Muti usai menggelar Jalan Salib menjelaskan bahwa Umat Katholik secara universal menganggap Jalan salib merupakan sarana penghantar dan penghubung relasi antara Tuhan dan manusia. Di mana melalui Jalan Salib manusia bisa kembali menyatukan tali relasi antara manusia dan Tuhan yang telah rusak oleh perbuatan dosa. Jalan salib merupakan sarana pertobatan guna mencapai hidup yang baru dan bangkit untuk memperbaharui diri melalui perbuatan amal dan kasih.

Gereja Katolik menetapkan bahwa Jalan salib dalam Jumat Agung merupakan salah satu rangkaian puncak penyambutan Hari Raya Paskah yang akan dilakukan pada Hari Minggu, yang merupakan hari kemenangan atas maut.

Sementara ketua kelompok kategorial gereja Katolik Anak Muda Claretian (THS-THM & OMK) Benediktus Bria menyampaikan bahwa Jalan Salib merupakan salah satu bagian terpenting untuk mengenang kisah sengsara Tuhan Yesus dan sebagai refleksi menuju pembaharuan hidup atas kelalaian yang dilakukan oleh setiap manusia serta bangkit bersama Kristus.

“Hari ini umat Katolik masuk ke dalam situasi duka yang mendalam, dimana prosesi jalan salib diiringi dengan nyanyian pelipur lara dan syair-syair puisi yang merasuki nurani.

” Ingatan adalah yang tak pernah pergi dan berlalu,seperti gambar-gambar tua yang tertimbun debu-debu riuh. Kembali kala angin meniup pergi seraya membawa suara-suara ramai yang menyisahkan hening, lukisan- lukisan pun turut bergerak menunjuhkan refleksi hidup yang akan dilalui oleh setiap orang dan hal ini mengajak kita agar melakukan hal-hal baru yang memberikan manfaat dan rasa peduli bagi sesama yang membutuhkan.(Nofry/SN).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *