Undana Finalisasi Renstra 2026–2030, Siap Bertransformasi Menuju Kampus Berkelas Dunia
Kupang, SonafNTT-News.com. Universitas Nusa Cendana (Undana) resmi memasuki fase penentu dalam perjalanan transformasinya menuju perguruan tinggi berdaya saing global. Kamis (22/1/2026), Undana memfinalisasi Rencana Strategis (Renstra) 2026–2030 dalam rapat tingkat universitas yang dipimpin langsung oleh Plt. Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi, Prof. Dr. drh. Annytha Ina Rohi Detha, M.Si., di Aula Rektorat.
Rapat yang dihadiri para dekan dan pimpinan unit strategis ini menandai komitmen Undana untuk melakukan lompatan mutu menuju World Class – Locally Relevant University, sebuah model pendidikan tinggi yang menggabungkan standar global dengan dampak nyata bagi masyarakat lokal.
“Renstra ini bukan sekadar dokumen administratif. Ia adalah kompas kebijakan Undana lima hingga sepuluh tahun ke depan. Karena itu, kami menyusunnya secara partisipatif agar benar-benar selaras dengan visi Rektor, kebijakan kementerian, dan kondisi riil institusi,” tegas Prof. Annytha saat memimpin rapat
Dalam forum tersebut, Prof. Annytha menekankan sejumlah agenda strategis, mulai dari penguatan tridarma perguruan tinggi, reformasi tata kelola, hingga kesiapan Undana untuk bertransformasi menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH). Transformasi ini dipandang sebagai langkah krusial untuk memperkuat otonomi institusi, fleksibilitas manajerial, serta daya saing di tingkat regional dan global.
Berdasarkan paparan tim penyusun, Undana juga tengah memetakan posisi pemeringkatannya di tingkat Asia dan dunia. Fokus lima tahun ke depan diarahkan pada peningkatan Indikator Kinerja Utama (IKU) melalui penguatan riset kolaboratif internasional, peningkatan publikasi ilmiah bereputasi, serta diversifikasi pendapatan non-akademik melalui unit usaha strategis dan revitalisasi rumah sakit universitas.
Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai masukan dari pimpinan fakultas. Dekan FISIP menekankan pentingnya konsistensi Renstra dari level universitas hingga fakultas, sementara Dekan FKIP menyoroti posisi geografis NTT di perbatasan selatan Indonesia sebagai keunggulan komparatif untuk pengembangan riset dan kerja sama internasional. Isu peningkatan jumlah dosen bergelar doktor (S3), akreditasi, serta relevansi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja global juga menjadi perhatian utama.
“Setiap target yang kita tetapkan harus memiliki indikator capaian yang jelas dan terukur. Semua masukan strategis—mulai dari tata kelola, akreditasi, hingga optimalisasi unit pelaksana teknis—akan kami himpun untuk menyempurnakan draf final,” ujar Prof. Annytha.
Menutup rapat, Prof. Annytha menargetkan finalisasi penuh Renstra 2026–2030 rampung pada akhir Januari 2026. Dokumen ini selanjutnya akan menjadi dasar hukum penyusunan Perjanjian Kinerja (PK) di tingkat universitas dan fakultas, sekaligus menjadi pijakan utama kebijakan institusional Undana.
Ia menambahkan dengan Renstra baru ini, Undana optimistis mampu memperkuat daya saing global tanpa kehilangan jati diri sebagai perguruan tinggi yang berpihak pada pengembangan kawasan dan berdampak sosial bagi masyarakat lokal dari Nusa Tenggara Timur.
