Usman Husin Apresiasi PT Pupuk Indonesia Jaga Stok Pupuk Aman di NTT, Cari Solusi Kendala Distribusi hingga Kios Pengecer

IMG-20260717-WA0021(1)

Kupang, SonafNTT-News.com. Bagi petani, pupuk bukan sekadar barang produksi. Pupuk adalah harapan untuk menjaga tanaman tetap tumbuh, panen tetap berjalan, dan keluarga tetap memiliki sumber penghidupan. Karena itu, ketika stok pupuk tersedia tetapi masih sulit dijangkau petani di lapangan, persoalan distribusi menjadi perhatian serius.

 

Hal inilah yang menjadi perhatian Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKB Daerah Pemilihan (Dapil) NTT II, Usman Husin, saat memastikan langsung kondisi ketersediaan pupuk bersubsidi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam kunjungan ke Gudang PT Pupuk Indonesia (Persero) di Gudang Pusat Pangan (GPP) Tenau, Jalan M. Praja, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Jumat (17/7/2026), Usman menemukan stok pupuk dalam kondisi aman.

Kunjungan tersebut dilakukan bersama Direktur Supply Chain PT Pupuk Indonesia (Persero), Robby Setiabudi Madjid, untuk memastikan bahwa kebutuhan pupuk petani NTT tetap terjamin, terutama menjelang musim tanam.

 

Anggota komisi IV DPR RI Usman  Husin mengapresiasi langkah PT Pupuk Indonesia yang mampu menjaga ketersediaan stok pupuk di wilayah NTT. Namun, ia menegaskan bahwa pekerjaan rumah berikutnya adalah memastikan pupuk tersebut benar-benar sampai kepada petani yang membutuhkan.

 

“Kalau kita lihat, stok pupuk tersedia. Yang ingin kita dalami sekarang adalah kondisi di lapangan. Kami akan bertemu dengan kios pupuk dan para pengecer untuk mengetahui apa yang menjadi kendala sehingga petani masih mengalami kesulitan mendapatkan pupuk, padahal stoknya ada,” ujar Usman.

 

Menurut Usman, persoalan pupuk di NTT saat ini bukan lagi tentang ada atau tidaknya pasokan, melainkan bagaimana memperbaiki jalur distribusi agar tidak ada petani yang harus menunggu terlalu lama atau menempuh jarak jauh hanya untuk mendapatkan pupuk bersubsidi.

 

Ia menilai evaluasi perlu dilakukan mulai dari sistem administrasi, mekanisme penyaluran, hingga pelayanan di tingkat kios pengecer. Sebab, keberhasilan program pupuk bersubsidi tidak hanya diukur dari jumlah stok di gudang, tetapi dari sejauh mana manfaatnya dirasakan langsung oleh petani.

“Saya hari ini langsung ke gudang pupuk bersama direktur untuk memastikan stoknya. Dari hasil pengecekan, pupuk tersedia. Kemungkinan ada hal-hal yang perlu dievaluasi di tingkat administrasi atau pelayanan di kios dan pengecer sehingga perlu dicari solusi bersama,” katanya.

Usman juga mendorong adanya penambahan kios pupuk resmi di sejumlah wilayah yang masih memiliki jangkauan pelayanan terlalu luas. Menurutnya, kondisi geografis NTT yang terdiri dari banyak wilayah kepulauan membuat akses petani terhadap kios menjadi tantangan tersendiri.
“Pelayanan kepada petani harus semakin didekatkan. Kalau jarak menuju kios terlalu jauh, tentu menjadi beban tambahan bagi petani. Karena itu, penambahan kios di daerah yang membutuhkan bisa menjadi salah satu solusi,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Supply Chain PT Pupuk Indonesia (Persero), Robby Setiabudi Madjid, menjelaskan bahwa tantangan distribusi pupuk di NTT tidak terlepas dari kondisi geografis wilayah yang berbeda dengan daerah lain.

Secara nasional, PT Pupuk Indonesia memiliki lebih dari 26.600 kios atau titik serah pupuk. Namun, di NTT, karakteristik wilayah kepulauan membuat pola distribusi membutuhkan perhatian khusus. Di beberapa wilayah, satu kios bahkan harus melayani hingga 10 kecamatan.
“Ini menjadi bahan evaluasi kami. Kalau memang ada kebutuhan penambahan kios, tentu akan kami respons sesuai mekanisme yang berlaku. Saat ini di NTT terdapat enam distributor dan 154 kios pengecer resmi,” ujar Robby.

 

Ia menambahkan, faktor cuaca dan hambatan transportasi laut juga menjadi tantangan dalam menjaga kelancaran distribusi pupuk. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, PT Pupuk Indonesia memperkuat kapasitas gudang penyimpanan sebagai stok penyangga serta bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk ASDP, Pelindo, dan perusahaan transportasi laut.

 

Langkah tersebut dilakukan agar ketersediaan pupuk tetap terjaga ketika pengiriman mengalami keterlambatan akibat gangguan cuaca maupun kendala logistik.

Persoalan pupuk di NTT kini bukan lagi sekadar tentang ketersediaan, tetapi tentang akses. Petani membutuhkan kepastian bahwa pupuk yang mereka perlukan dapat diperoleh dengan mudah, dekat, dan tepat waktu.

Apresiasi terhadap PT Pupuk Indonesia memberikan sinyal positif bahwa pasokan pupuk telah dijaga. Namun, perjuangan berikutnya adalah memastikan setiap karung pupuk benar-benar sampai ke tangan petani di desa-desa, termasuk mereka yang berada di wilayah terpencil dan kepulauan.

Exit mobile version