19 Tahun Gembala Umat, Uskup Dominikus Saku Rayakan Momen Syukur dan Pentahbisan Gereja St. Mikhael Bitefa Bersama Gubernur Melki di Bitefa

IMG-20260922-WA0012

TTU, SonafNTT-News.com. Suasana penuh sukacita dan syukur menyelimuti Stasi Bitefa, Paroki Tunbaba, Kecamatan Miomafo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Senin (21/9/2026) malam.

Momen istimewa itu ditandai dengan Pentahbisan Gereja St. Mikhael Bitefa, yang berlangsung bersamaan dengan perayaan syukur 19 tahun tahbisan episkopat Uskup Atambua, Yang Mulia Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr.

Perayaan tersebut semakin istimewa dengan kehadiran Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena, yang hadir sekaligus mengikuti rangkaian Misa Pentahbisan Gereja St. Mikhael Bitefa.

Bagi umat Bitefa, Kaenbaun dam Bokon berdirinya gereja tersebut bukan sekadar bertambahnya sebuah bangunan tempat ibadah. Gereja itu menjadi simbol panjangnya perjalanan iman, doa, pengorbanan, gotong royong, dan kesetiaan umat yang terus mempertahankan harapan hingga pembangunan akhirnya dapat diselesaikan.

Dalam sambutannya, Gubernur Melki menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan perhatian, dukungan, serta kontribusi nyata dalam pembangunan Gereja St. Mikhael Bitefa.

Ia menilai, keberhasilan pembangunan gereja merupakan buah dari kebersamaan berbagai pihak yang selama ini terlibat.

Gubernur kemudian mengutip sebuah ungkapan Latin, “Non Lapidibus Tantum, Sed Fide Aedificatur Ecclesia,” yang berarti bahwa gereja tidak dibangun hanya dengan batu, tetapi dengan iman.

Menurut Gubernur Melki, setiap batu yang tersusun dalam bangunan Gereja St. Mikhael Bitefa menyimpan cerita tentang doa, pengorbanan, keringat, air mata, kemurahan hati, iman, serta harapan umat kepada Tuhan.

“Karena itu, ketika kita memandang gereja ini, jangan hanya melihat kemegahan bangunannya. Lihatlah di balik batu-batunya terdapat wajah orang-orang yang telah berjuang. Ingatlah tangan-tangan yang pernah bekerja dan kenanglah mereka yang telah memberikan apa yang mereka miliki,” katanya.

Gubernur berharap Gereja St. Mikhael Bitefa tidak berhenti sebagai tempat peribadatan semata. Lebih dari itu, gereja diharapkan mampu menjadi mercusuar kehidupan masyarakat, terutama dalam memperkuat keluarga, pendidikan, pembentukan karakter, kerukunan, hingga masa depan generasi muda.

Ia juga mendorong agar gereja dapat mengambil bagian dalam mendukung berbagai program pembangunan masyarakat, termasuk Program Jam Belajar dan penguatan kehidupan ekonomi melalui konsep One Village One Product (OVOP).

19 Tahun Menggembalakan Umat

Di tengah sukacita pentahbisan gereja, umat juga merayakan perjalanan panjang pelayanan Uskup Atambua, Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr., yang telah memasuki 19 tahun tahbisan episkopat.

Momentum tersebut menjadi kesempatan bagi umat untuk menyampaikan rasa syukur sekaligus penghargaan atas perjalanan pelayanan Uskup Dominikus Saku dalam menggembalakan umat di wilayah Keuskupan Atambua.

Dua peristiwa tersebut kemudian menyatu dalam satu perayaan: sebuah gereja yang akhirnya berdiri dan ditahbiskan setelah melalui perjalanan panjang, serta ungkapan syukur atas 19 tahun pelayanan seorang gembala umat.

Perjuangan Panjang yang Berbuah Sukacita

Bupati TTU Falentinus Kebo dalam sekapur sirihnya menegaskan bahwa pentahbisan dan peresmian Gereja St. Mikhael Bitefa bukan sekadar peresmian sebuah bangunan.

Menurutnya, gereja tersebut merupakan buah dari iman, pengorbanan, gotong royong, dan kesetiaan umat yang tetap menjaga harapan meskipun proses pembangunannya sempat menghadapi berbagai tantangan dan terhenti selama beberapa tahun.

Karena itu, Bupati mengajak seluruh umat untuk tidak membiarkan semangat gotong royong berhenti setelah pembangunan gereja selesai.

“Rawatlah gereja ini, tetapi lebih dari itu, rawatlah persaudaraan yang telah membuat gereja ini berdiri. Jangan biarkan semangat gotong royong berhenti setelah pembangunan selesai,” pesannya.

Bupati juga menegaskan bahwa pembangunan kehidupan masyarakat membutuhkan keterlibatan semua pihak, bukan hanya pemerintah. Gereja, keluarga, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat memiliki peran dalam membangun kehidupan bersama.

Uskup Dominikus: Gereja Harus Terus Dihidupkan

Sementara itu, Uskup Atambua Mgr. Dominikus Saku, Pr. mengungkapkan rasa syukur atas selesainya pembangunan Gereja St. Mikhael Bitefa.

Ia mengakui bahwa perjalanan pembangunan gereja tersebut bukanlah sesuatu yang mudah. Pembangunan bahkan sempat terhenti selama beberapa tahun sebelum akhirnya dapat diselesaikan dan ditahbiskan.

Namun, bagi Uskup Dominikus, selesainya pembangunan bukanlah akhir dari perjalanan.
Justru setelah gereja ditahbiskan, umat diharapkan semakin aktif dalam kehidupan menggereja dan terus membangun budaya iman yang kuat.

Seiring dengan pentahbisan gereja, administrasi Stasi Bitefa juga mulai ditata secara mandiri. Salah satunya terkait pelayanan administrasi umat, termasuk surat permandian yang tidak lagi bergabung dengan paroki induk.

Uskup mendorong umat Stasi Bitefa untuk terus mempersiapkan diri dan membangun kehidupan menggereja secara lebih aktif.

“Terima kasih atas doa-doa umat Bitefa, Kaenbaun, Bokon, Tokoh masyarakat, Para sesepuh Tunbaba dimana saja berada,dan seluruh umat kristiani bahkan para donatur dari berbagai pihak yang memberikan dukungan dengan caranya masing-masing. Selamat berbahagia dan selamat berbakti dalam roh dan kebenaran,” ungkapnya.

Bukan Sekadar Bangunan

Pentahbisan Gereja St. Mikhael Bitefa pada akhirnya membawa pesan yang lebih besar daripada sekadar berdirinya sebuah rumah ibadah.

Ia menjadi gambaran tentang bagaimana sebuah komunitas mempertahankan iman dan harapan melalui perjalanan panjang.

Batu demi batu yang tersusun menjadi bangunan gereja menjadi saksi dari kerja keras umat. Namun, sebagaimana pesan Gubernur Melki, nilai utama dari gereja bukan hanya terletak pada kemegahan bangunannya, melainkan pada iman dan persaudaraan orang-orang yang membangunnya.

Karena itu, Gereja St. Mikhael Bitefa diharapkan benar-benar menjadi rumah iman yang hidup, rumah persaudaraan, rumah pelayanan, sekaligus mercusuar yang memberikan arah dan harapan bagi masyarakat.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan penandatanganan prasasti peresmian dan pemotongan tumpeng sebagai ungkapan syukur atas perayaan 19 tahun tahbisan episkopat Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr.

Perayaan tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda Kabupaten TTU, jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten TTU, pimpinan perangkat daerah terkait lingkup Pemerintah Provinsi NTT, Vikjen Keuskupan Atambua Pater Vinsen Wun SVD, Romo Deken Kefamenanu, Pastor Paroki St. Andreas Tunbaba bersama para imam dan biarawan-biarawati, para donatur,  Anggota DPRD NTT  Agustinus Nahak,  sejumlah Anggota DPRD TTU, panitia pembangunan, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta seluruh umat St. Mikhael Bitefa.

Exit mobile version