Sekda Mateldius Sanam Dorong Kolaborasi Pentahelix, Perkuat Kupang Tangguh Bencana
Oelamasi, SonafNTT-News.com. Upaya memperkuat ketangguhan Kabupaten Kupang terhadap ancaman bencana kembali ditegaskan. Sekretaris Daerah Kabupaten Kupang, Mateldius Sanam, mendorong kolaborasi lintas sektor atau pentahelix sebagai kunci utama dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang kuat, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Penegasan itu disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Kupang Mateldius Sanam saat membuka Rapat Koordinasi Internal BPBD dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Kupang bersama OPD dan mitra terkait Tahun 2026, Kamis (29/1), di Aula Kantor Bupati Kupang, Oelamasi. Kegiatan ini menjadi ruang strategis untuk menyatukan langkah pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media dalam menghadapi potensi bencana di daerah tersebut.Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Asisten 1 Sekda Kabupaten Kupang, Guntur Subu Taopan, Kepala BPBD Kabupaten Kupang, Nofliato Amtiran, Ketua FPRB Kabupaten Kupang, Elvrid Saneh, serta Perwakilan OPD dan LSM – LSM.
Dalam sambutannya, Mateldius Sanam menekankan bahwa penanggulangan bencana bukan semata tugas pemerintah atau BPBD, melainkan panggilan kemanusiaan yang menuntut keterlibatan semua pihak. Menurutnya, bencana hanya dapat dikelola secara efektif melalui diskusi, koordinasi, dan kolaborasi yang solid antar pemangku kepentingan.
“Penanggulangan bencana tidak bisa dibebankan pada satu lembaga. Ini tanggung jawab kita bersama,” tegasnya. Ia menilai, kolaborasi pentahelix menjadi fondasi penting agar upaya pengurangan risiko bencana dapat berjalan optimal dan tepat sasaran.
Salah satu strategi yang terus diperkuat adalah penanggulangan bencana berbasis komunitas melalui pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB). Saat ini, Kabupaten Kupang telah memiliki 38 desa dan kelurahan tangguh bencana di empat kecamatan, yang difasilitasi oleh BNPB serta didukung berbagai LSM. Capaian ini dinilai sebagai sinyal positif dan sumber optimisme dalam menekan risiko dan dampak bencana di daerah.
Mateldius Sanam berharap, keberadaan FPRB dapat berkontribusi maksimal dalam menurunkan indeks risiko bencana Kabupaten Kupang. Untuk itu, ia mengajak seluruh mitra pentahelix agar aktif mengevaluasi langkah-langkah penanganan kebencanaan, sekaligus mengidentifikasi kendala dan tantangan yang dihadapi di lapangan.
“Forum ini harus menjadi ruang solusi. Tantangan yang ada perlu dikoordinasikan secara baik agar FPRB benar-benar menjadi mitra strategis dalam penanggulangan bencana berbasis komunitas,” ujarnya.
