Nasional

Aksi Memanas Berakhir Haru: Usman Husin Diterima sebagai Keluarga di Tanah Mutis Lewat Selendang Adat

TTS SonafNTT-News.com. Sebuah potret langka tersaji di kaki Gunung Mutis. Di tengah memanasnya aksi protes warga terkait pengelolaan Taman Nasional Mutis Timau, suasana yang semula tegang justru berubah menjadi momen haru yang menyentuh nurani.

Sejak pagi senin (27/4/2026,) ratusan warga turun menyuarakan keresahan mereka terkait penurunan status Cagar Alam mutis menjadi Taman Nasional Mutis, Ketidakpastian soal zonasi, kekhawatiran kehilangan akses lahan, hingga tuntutan keadilan pembangunan membuat emosi sempat memuncak. Bahkan, tenda sosialisasi sempat menjadi sasaran luapan kekecewaan. Situasi nyaris keluar kendali.

Namun di tengah tensi yang tinggi, hadir pendekatan berbeda dari Anggota DPR RI, Usman Husin. Ia tidak memilih menjauh. Sebaliknya, ia bertahan, mendengar, dan memberi ruang bagi setiap suara warga untuk disampaikan tanpa sekat.

Dan ketika banyak yang menduga kisah hari itu akan berakhir dengan ketegangan, justru sebaliknya yang terjadi.

Saat hendak meninggalkan lokasi, mobil yang ditumpangi Anggota DPR RI Usman Husin Usman tiba-tiba dihadang seorang ibu dari massa aksi. Sekilas tampak seperti lanjutan protes. Namun yang terjadi justru momen yang menggetarkan. Dengan suara bergetar, ia mengucapkan terima kasih.

“ Terima kasih Bapak Anggota DPR RI Usman Husin sudah berkunjung ke sini dan kiranya kunjungan ini ke depan memberikan dampak positif bagi di sektor pendidikan, Kesehatan, perumahan yang layak huni, menjaga ekosistem wilayah Mutis dan sekitarnya.kami butuh dukungan nyata bagi kemajuan daerah, kami di sini masih tertinggal baik akses Jalan apalagi di musim hujan Kendaraan sulit lewat bahkan ada desa-desa mutis belum mendapatkan layanan Listrik “ tuturnya

Tak berhenti di situ, ia kemudian memakaikan selendang adat kepada Anggota DPR RI Usman Husin. Di tanah Timor, itu bukan gestur biasa. Kain tenun adalah simbol penerimaan, penghormatan, dan ikatan kekeluargaan. Dalam satu gerakan sederhana, pesan yang disampaikan begitu dalam: dari yang awalnya berjarak, kini menjadi dekat.

Momen ini menjadi tanda bahwa di balik suara keras aksi, tersimpan harapan besar untuk didengar dan dihargai.

Anggota Komisi IV DPR RI Usman menegaskan bahwa dinamika yang terjadi adalah bagian dari proses demokrasi agar agenda pemerintah melalui Kementerian Kehutanan terutama pengelolaan Taman Nasional Nasional Mutis Timau harus menjunjung tinggi kearifan lokal .

“ Mereka hanya ingin menyampaikan aspirasi sesuai kondisi lingkungan yang mereka alami dan pada saat itu aspirasi mereka diserahkan langsung kepada Bapak Dirjen KSDAE untuk ditindaklanjuti,” ujarnya.

Lebih jauh, kehadirannya bersama jajaran kementerian bukan tanpa perjuangan. Ia mengaku telah berulang kali meminta pemerintah pusat turun langsung ke Mutis. Baginya, mempertemukan pengambil kebijakan dengan realitas di lapangan adalah kunci untuk mencari solusi yang adil.

Di sisi lain, Dirjen KSDAE Prof. Dr.Pudyatmoko, S. Hutt, MSc, menegaskan bahwa perubahan status kawasan menjadi taman nasional bukan untuk membatasi masyarakat, melainkan membuka ruang pengelolaan yang lebih fleksibel dan terintegrasi—menggabungkan konservasi, ruang adat, dan kepentingan ekonomi warga.

Meski demikian, tantangan tetap nyata. Warga masih menuntut kejelasan zonasi, akses pembangunan, hingga jaminan bahwa mereka tidak akan tersisih dari tanah sendiri. Aspirasi ini bahkan mendorong keputusan strategis: penutupan sementara kawasan taman nasional untuk memberi ruang sosialisasi lanjutan.

Di tengah tarik-menarik kepentingan itu, momen pemberian selimut adat menjadi simbol paling kuat hari itu. Ia menegaskan bahwa dialog, bukan konflik, adalah jalan yang diinginkan masyarakat.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *