daerah

Gubernur Melki Minta Kampus Cetak Guru yang Siap Hadapi Disrupsi Digital

Kupang,SonafNTT-News.com. Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dunia pendidikan. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, saat membuka Pertemuan Sela Forum Komunikasi Pimpinan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Negeri se-Indonesia yang berlangsung di Kupang. Di hadapan para dekan FKIP dari berbagai perguruan tinggi negeri, akademisi, dan pemangku kepentingan pendidikan, Gubernur Melki menegaskan bahwa lembaga pendidikan, termasuk Universitas Nusa Cendana (Undana), memiliki peran strategis dalam menyiapkan guru-guru masa depan yang mampu menjawab tantangan era digital dan Society 5.0. Menurut Melki, perubahan yang dibawa oleh teknologi tidak lagi bersifat gradual, melainkan berlangsung sangat cepat dan masif. Kehadiran AI telah mengubah cara manusia memperoleh informasi, belajar, bekerja, bahkan mengambil keputusan. Dalam situasi seperti ini, guru tidak lagi hanya berfungsi sebagai penyampai pengetahuan, tetapi harus menjadi fasilitator pembelajaran yang mampu membangun kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan adaptif pada peserta didik. “Guru masa depan harus memiliki kemampuan yang lebih dari sekadar menguasai materi pelajaran. Mereka harus mampu membimbing siswa menghadapi dunia yang terus berubah akibat perkembangan teknologi,” ujarnya dalam forum tersebut. Karena itu, Gubernur Melki mendorong Undana sebagai perguruan tinggi terbesar di NTT untuk memperkuat kualitas pendidikan calon guru melalui pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif. Penguasaan teknologi digital, kemampuan berpikir mendalam (deep thinking skills), serta pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning approach) dinilai menjadi kompetensi yang wajib dimiliki oleh lulusan pendidikan keguruan saat ini. Hal ini sejalan dengan sejalan dengan tema forum yang mengangkat urgensi transformasi pendidikan calon guru di era Society 5.0. Era ini menempatkan manusia sebagai pusat inovasi dengan dukungan teknologi canggih, sehingga pendidikan diminta tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, kreativitas, kemampuan berkolaborasi, dan kecakapan memanfaatkan teknologi secara bijak. “Dunia pendidikan hari ini berada di persimpangan yang sangat serius. Di era Society 5.0 kita mengalami disrupsi yang luar biasa terhadap cara belajar dan mengajar. Situasi ini menuntut kesiapan dan komitmen bersama untuk beradaptasi secara cepat dan tepat,” ujar Melki. Meski teknologi berkembang semakin pesat, Gubernur menegaskan bahwa peran guru tetap tidak tergantikan. Justru di tengah kemajuan teknologi dan maraknya penggunaan AI, kualitas guru akan menjadi faktor penentu masa depan pendidikan Indonesia. “Ke depan profesi guru tetap menjadi profesi yang penting, menarik, dan sangat dibutuhkan. Masa depan pendidikan Indonesia akan sangat ditentukan oleh kualitas para guru yang kita siapkan hari ini,” katanya. Karena itu, ia berharap forum tersebut mampu menghasilkan gagasan dan rekomendasi strategis yang dapat menjawab tantangan pendidikan guru di masa depan. Menurut Melki, transformasi pendidikan calon guru tidak cukup hanya menyesuaikan kurikulum, tetapi juga harus membangun kemampuan berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah, kreativitas, kolaborasi, serta kemampuan memahami konteks sosial yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. “Saya berharap forum ini dapat menemukan jawaban atas berbagai tantangan pendidikan guru ke depan. Kita membutuhkan rekomendasi yang konkret untuk memperbaiki kualitas pendidikan keguruan di Indonesia,” ujarnya. Gubernur juga menekankan pentingnya membangun standar kompetensi lulusan calon guru yang berorientasi pada pengembangan deep learning dan deep thinking skills. Menurutnya, antar lembaga pendidikan tenaga kependidikan perlu terus diperkuat melalui riset kolaboratif, pertukaran praktik baik, pengembangan sumber daya digital, serta peningkatan kapasitas dosen secara berkelanjutan. Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Pimpinan FKIP Negeri se-Indonesia Imam Sujadi, mengatakan tema yang diangkat dalam forum kali ini sangat relevan dengan tantangan pendidikan di era digital. Menurutnya, perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan artifisial, telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berinteraksi sehingga menuntut perubahan dalam tata kelola pendidikan guru. “Ketika kita berbicara tentang transformasi pendidikan calon guru, maka yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana tata kelola pendidikan guru juga ikut bertransformasi. Perkembangan kecerdasan artifisial telah mengubah cara manusia belajar dan bekerja. Karena itu, pendidikan guru harus mampu beradaptasi terhadap perubahan tersebut,” ujarnya.

About The Author