Kupang, SonafNTT-News.com. Komitmen pemerintah dalam mendukung program swasembada pangan terus diwujudkan melalui percepatan pembangunan infrastruktur sumber daya air di Nusa Tenggara Timur (NTT). Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II melalui Satuan Kerja Pengelolaan Jaringan Pemanfaatan Air (PJPA) memfokuskan penyelesaian dua proyek rehabilitasi jaringan irigasi strategis pada Tahun Anggaran 2026, yakni Daerah Irigasi Mena di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Daerah Irigasi Ngorang di Kabupaten Manggarai Barat.
Satker PJPA Ari Murlery menjelaskan bahwa kedua proyek tersebut merupakan bagian dari program reguler Kementerian yang ditetapkan melalui proses registrasi setiap tahun anggaran. Pekerjaan telah memasuki tahap pelaksanaan setelah proses pengadaan selesai dan kontrak ditandatangani pada Maret 2026.
“Pada Tahun Anggaran 2026 terdapat dua kegiatan utama yang menjadi tanggung jawab kami, yaitu rehabilitasi jaringan irigasi Mena di Kabupaten Timor Tengah Utara dan irigasi Ngorang di Kabupaten Manggarai Barat. Kedua paket pekerjaan sudah berkontrak sejak Maret 2026 dan saat ini terus berjalan sesuai tahapan,” ujar Ari Murlery kepada wartawan, Senin (29/6/2026).
Menurutnya, proyek rehabilitasi jaringan irigasi Mena memiliki panjang pekerjaan sekitar 8 kilometer dengan progres fisik yang telah mencapai sekitar 30 persen. Sementara rehabilitasi jaringan irigasi Ngorang di Kabupaten Manggarai Barat telah mencapai progres sekitar 32 persen.
Meski demikian, pelaksanaan pekerjaan fisik di Mena menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah kebutuhan petani untuk tetap mengalirkan air ke lahan sawah selama musim tanam sehingga dilakukan buka-tutup saluran irigasi di lokasi pekerjaan. Selain itu, kondisi cuaca yang kurang mendukung juga memengaruhi kecepatan pelaksanaan konstruksi.
“Pengajuan keuangan dilakukan sesuai dengan progres pekerjaan fisik di lapangan dan mengikuti seluruh ketentuan yang berlaku,” jelas Ari.
Di tengah pelaksanaan proyek, kami Satuan Kerja PJPA juga menghadapi penyesuaian anggaran. Ari mengungkapkan adanya efisiensi anggaran sekitar Rp10 miliar yang berdampak pada penyesuaian volume pekerjaan di Mena, Kabupaten Timor Tengah Utara. Rencana rehabilitasi sepanjang 12 kilometer harus disesuaikan menjadi sekitar 8 kilometer agar tetap sejalan dengan alokasi anggaran yang tersedia.
Meskipun mengalami pengurangan volume pekerjaan, BBWS Nusa Tenggara II memastikan mutu konstruksi tetap menjadi prioritas utama. Setiap material yang digunakan wajib memenuhi spesifikasi teknis dan melalui proses pemeriksaan secara ketat oleh tim pengawas serta petugas quality control.
“Kami memiliki standar spesifikasi yang harus dipenuhi. Semua material yang masuk diperiksa terlebih dahulu dan setiap tahapan pekerjaan diawasi agar kualitas konstruksi sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan,” tegasnya.
Ia lanjut menjelaskan bahwa Rehabilitasi jaringan irigasi memiliki peran strategis bagi sektor pertanian di NTT. Sebagai daerah yang menghadapi curah hujan musiman dan kondisi lahan kering di banyak wilayah, keberadaan jaringan irigasi yang andal menjadi faktor penting dalam menjamin ketersediaan air bagi lahan pertanian sepanjang musim tanam.
Sambungya, dengan berfungsinya jaringan irigasi secara optimal, petani diharapkan dapat meningkatkan indeks pertanaman, mengurangi risiko gagal panen akibat kekurangan air, serta meningkatkan produktivitas komoditas pangan, khususnya padi. Dampak lanjutannya adalah meningkatnya pendapatan petani dan semakin kuatnya ketahanan pangan di tingkat daerah.
Proyek ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah mendukung target swasembada pangan melalui pembangunan infrastruktur dasar yang berkelanjutan. Selain memperbaiki saluran irigasi yang mengalami kerusakan, rehabilitasi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi distribusi air sehingga pemanfaatannya lebih merata bagi seluruh areal persawahan.
Satker PJPA menyampaikan keyakinan bahwa dengan dukungan pemerintah pusat, koordinasi bersama pemerintah daerah, serta partisipasi masyarakat, kedua proyek irigasi strategis tersebut dapat diselesaikan sesuai target. Keberhasilan rehabilitasi jaringan irigasi Mena dan Ngorang diharapkan menjadi fondasi penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Nusa Tenggara Timur secara berkelanjutan.












