BBWS NT II Kebut Pembangunan Air Tanah, Progres Proyek Strategis 2026 Capai 70 Persen

20260731_123428

Kupang, SonafNTT-News.com. Komitmen pemerintah dalam memperkuat ketahanan air di terus menunjukkan hasil nyata. Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BBWS NT II) melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pendayagunaan  Air Tanah (PAT) dan Pengembangan Air Baku  I pada Satuan Kerja   NVT Air Tanah dan Air Baku Provinsi NTT  terus mempercepat pelaksanaan sejumlah proyek strategis Tahun Anggaran 2026. Hingga akhir Juli 2026, progres fisik rata-rata telah mencapai 70 persen.

 

PPK PAT dan PAB I, Daud Djami, menjelaskan bahwa terdapat tiga paket utama yang sedang berjalan, yakni pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Desa Tainsala, Kecamatan Insana Tengah dan Desa Tualene, Kecamatan Biboki Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara. Selain itu, pembangunan sarana air baku juga berlangsung di Desa Fatumuti, Kecamatan Noemuti, serta Desa Sekon, Kecamatan Insana.

 

“Nilai kontrak setiap paket sekitar Rp1,5 miliar, dan progres pekerjaan saat ini telah mencapai sekitar 70 persen. Kami optimis seluruh pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target pada akhir Desember 2026,” ujar Daud kepada wartawan, Jumat (31/7/2026).

 

Tidak hanya membangun jaringan irigasi dan air baku, BBWS NT II juga melaksanakan program rehabilitasi dan peningkatan sumur air tanah di sejumlah daerah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses air bersih.

 

Empat lokasi prioritas meliputi Kelurahan Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, yang telah diserahterimakan kepada masyarakat untuk dikelola secara mandiri. Sementara pekerjaan di Welai Barat, Kecamatan Teluk Mutiara, Kabupaten Alor, Desa Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, Kecamatan Tasifeto Barat, serta Desa Retraen, Kabupaten Kupang, kini memasuki tahap akhir dengan progres yang dinilai sangat signifikan.

 

Untuk paket rehabilitasi sumur air tanah tersebut, nilai kontrak setiap titik mencapai sekitar Rp3,1 miliar. BBWS NT II menargetkan seluruh sarana dapat diserahterimakan kepada masyarakat pada pertengahan Agustus 2026.

 

Menurut Daud, pembangunan infrastruktur sumber daya air tidak hanya berorientasi pada penyediaan air bersih, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas pertanian, dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di wilayah-wilayah yang selama ini mengalami keterbatasan sumber air.

“Program ini merupakan bentuk kehadiran pemerintah dalam menjawab kebutuhan dasar masyarakat. Air bersih menjadi kebutuhan utama, sementara jaringan irigasi akan membantu petani meningkatkan produktivitas lahan pertanian sehingga berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Ia menegaskan percepatan proyek-proyek tersebut menjadi sinyal positif bahwa pembangunan infrastruktur sumber daya air di Nusa Tenggara Timur terus bergerak sesuai target. Di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan air, pembangunan sumur air tanah, jaringan irigasi, serta sarana air baku menjadi investasi strategis pemerintah untuk memperkuat ketahanan air nasional, khususnya di wilayah Pulau Timor dan Alor dengan target ke depan mengurangi krisis air bersih saat musim kemarau, tetapi juga menjadi motor penggerak peningkatan produksi pertanian, pengembangan ekonomi lokal, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat di Nusa Tenggara Timur.