P2JN NTT Ungkap 94 Titik Jalan Nasional Rusak Pasca Gempa Flores, 34 Titik Masuk Penanganan Permanen

Screenshot_20260910-184237_Chrome

Kupang, SonafNTT-News.com — Dampak gempa bumi berkekuatan 7,7 skala Richter yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026 lalu masih menyisakan pekerjaan besar bagi pemerintah. Salah satu sektor yang terdampak cukup signifikan adalah infrastruktur jalan nasional yang menjadi urat nadi konektivitas antar daerah.

Pasca gempa, tercatat sebanyak 94 titik pada ruas jalan nasional mengalami kerusakan. Dari jumlah tersebut, 60 titik telah mendapatkan penanganan sementara, sementara 34 titik lainnya masuk dalam penanganan permanen.

Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (P2JN) Provinsi NTT, Andria Muharami Fitra, ST, M.Eng.Sc, mengungkapkan kondisi tersebut kepada wartawan, Kamis (10/9/2026).

Menurut Andria, kerusakan jalan nasional tidak hanya berupa kerusakan pada badan jalan. Tim di lapangan juga menemukan puluhan titik longsoran serta sejumlah lokasi yang mengalami amblas maupun patahan badan jalan akibat guncangan gempa.

“Pasca gempa Flores, terdapat 75 titik longsoran dan tiga titik berupa amblasan atau patah,” jelasnya.

Alat Berat Langsung Dikerahkan

Andria menjelaskan, sejak hari pertama setelah gempa terjadi, P2JN bersama tim terkait langsung bergerak melakukan penanganan terhadap sejumlah titik yang mengalami gangguan.

Alat berat dikerahkan ke lokasi-lokasi terdampak untuk membuka kembali akses yang tertutup material longsor maupun tanah dari lereng.

Salah satu wilayah yang mendapat perhatian adalah ruas Ruteng–Reo–Kedindi, yang mengalami sejumlah titik kerusakan berupa patahan maupun penurunan badan jalan.

“Jalan yang patah atau penurunan badan jalan ada beberapa titik, salah satunya di Ruteng–Reo–Kedindi. Pasca gempa, hari pertama kami sudah menurunkan alat berat dan cukup banyak bantuan diturunkan ke lokasi,” ujar Andria.

Menurutnya, berkat kerja sama tim di lapangan, sejumlah akses yang sempat terganggu dapat segera dibuka kembali.

“Berkat kerja sama yang baik seluruh tim di lapangan, akses jalan sudah bisa dibuka dan hingga saat ini tidak ada konektivitas yang terhalang,” tambahnya.

Aigela Ende Jadi Salah Satu Titik yang Banyak Longsoran

Selain kerusakan badan jalan, persoalan lain yang menjadi perhatian adalah longsoran dari lereng di sepanjang ruas jalan nasional.

Material berupa tanah dan bebatuan dari lereng atas berpotensi menutup badan jalan, terutama ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

Andria menyebut salah satu wilayah yang mengalami banyak longsoran berada di Aigela, Kabupaten Ende.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena jalur nasional bukan hanya digunakan oleh masyarakat untuk aktivitas sehari-hari, tetapi juga menjadi jalur penting distribusi barang, pelayanan pemerintahan, transportasi masyarakat, hingga mobilitas ekonomi antarkabupaten.

34 Titik Masuk Penanganan Permanen

Dari total 94 titik kerusakan yang teridentifikasi, penanganan tidak berhenti pada pembukaan akses sementara.

Sebanyak 60 titik ditangani secara sementara, sedangkan 34 titik membutuhkan penanganan permanen agar kondisi infrastruktur kembali aman dan dapat digunakan dalam jangka panjang.

Penanganan permanen menjadi penting mengingat kerusakan akibat gempa dapat memengaruhi struktur badan jalan dan kestabilan lereng. Perbaikan tidak hanya dilakukan pada permukaan jalan, tetapi harus memperhatikan penyebab utama kerusakan agar tidak kembali mengganggu pengguna jalan.

Tanggap Darurat Diperpanjang

Sementara itu, penanganan dampak gempa Flores terus dilakukan pemerintah daerah. Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena sebelumnya telah mengeluarkan instruksi penanganan darurat selama 14 hari hingga 28 Agustus 2026. Namun, karena proses penanganan dampak bencana masih berlangsung, masa penanganan darurat tersebut kemudian diperpanjang hingga 12 September 2026.

Perpanjangan ini menunjukkan bahwa proses pemulihan pasca gempa masih membutuhkan kerja bersama, khususnya untuk memastikan infrastruktur vital seperti jalan nasional tetap berfungsi.

Gempa yang berdampak langsung terhadap sejumlah wilayah, termasuk Sikka, Ngada, Ende, Nagekeo, Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat, telah memberikan tantangan besar bagi pemerintah dan masyarakat.

Di tengah kerusakan yang terjadi, upaya membuka akses jalan sejak hari pertama menjadi langkah penting untuk mencegah terisolasinya masyarakat dan menjaga roda perekonomian tetap bergerak.