Kefamenanu, SonafNTT-News.com — Penantian panjang umat Katolik Stasi Bitefa, Paroki Santo Andreas Tunbaba, Dekenat Kefamenanu, Keuskupan Atambua, akhirnya menemukan titik terang.
Setelah melewati perjalanan panjang selama 26 tahun, pembangunan Gereja Katolik Santo Mikhael Bitefa kini rampung dan siap menjadi saksi perjalanan iman serta kegigihan umat setempat.
Gereja yang dibangun melalui semangat gotong royong, kerja keras umat, dukungan pastor paroki, tokoh masyarakat, donatur, dan berbagai pihak tersebut dijadwalkan akan diresmikan pada Senin, 21 September 2026.
Bagi umat Stasi Bitefa, berdirinya gereja ini bukan sekadar hadirnya sebuah bangunan baru. Di balik kemegahan Gereja Santo Mikhael, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan, pengorbanan, harapan, serta semangat kebersamaan yang terus dipelihara selama lebih dari dua dekade.
Dari Impian Panjang Menjadi Kenyataan
Cikal bakal pembangunan Gereja Santo Mikhael Bitefa tidak terlepas dari peran sejumlah tokoh yang sejak awal ikut mendorong terwujudnya rumah ibadah diantaranya mantan Bupati Timor Tengah Utara (TTU), almarhum Hendrikus Sakunab, almarhum Gregorius Timo, serta sejumlah tokoh Tunbaba yang berada di Kefamenanu maupun Kota Kupang.
Perjalanan pembangunan yang berlangsung selama 26 tahun tentu bukan perkara mudah. Berbagai tantangan harus dilewati umat. Namun, semangat untuk memiliki rumah ibadah yang layak membuat perjuangan tersebut terus dilanjutkan hingga akhirnya, kerja keras dan gotong royong umat bersama berbagai pihak membuahkan hasil.
Ketua Panitia: Ini Momen Bersejarah
Ketua Panitia Pembangunan Gereja Santo Mikhael Bitefa, Wilson Naihati, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam proses pembangunan gereja tersebut.
Menurut Wilson, seluruh persiapan menuju peresmian telah rampung. Umat pun siap menyambut momentum bersejarah tersebut.
Atas nama panitia, ia mengundang seluruh umat, para donatur dan pemerhati yang selama ini memberikan dukungan untuk hadir dan bersama-sama merayakan peresmian Gereja Santo Mikhael Bitefa.
Momentum tersebut diharapkan menjadi puncak dari perjalanan panjang sekaligus menjadi awal baru bagi kehidupan iman umat Stasi Bitefa.
Setahun Terakhir Jadi Titik Balik
Percepatan penyelesaian pembangunan Gereja Santo Mikhael Bitefa juga tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk kelompok Sekeping Hati Untuk Maria, Orang Muda Katolik Kreatif dan para pemerhati Orang Muda di Keuskupan Atambua.
Wilson Naihati yang juga kepala Desa Bitefa menegaskan bahwa Peresmian pada 21 September 2026 pun menjadi momentum yang dinantikan. Sebuah perjalanan panjang akhirnya sampai pada satu titik penting: 26 tahun menanti, 26 tahun berjuang, dan kini umat Bitefa siap merayakan terwujudnya rumah iman yang telah lama mereka impikan.
Perwakilan tim, Oscar Battu, mengungkapkan rasa syukur atas penyertaan Tuhan sehingga penantian panjang umat akhirnya dapat diwujudkan.
Menurut Oscar, dalam kurun waktu sekitar satu tahun terakhir, pekerjaan lanjutan pembangunan gereja dapat berjalan dengan baik berkat dukungan berbagai pihak.
Keterlibatan tim tersebut, kata Oscar, juga tidak terlepas dari restu Uskup Atambua Mgr. Dominikus Saku, Pr, serta dukungan penuh Pastor Paroki Santo Andreas Tunbaba, Romo Robby Kiik Pr.
Artis Ibu Kota Turut Hadir
Perayaan peresmian Gereja Santo Mikhael Bitefa juga dipastikan akan semakin semarak dengan kehadiran sejumlah artis.
Oscar menyebut pengurus Orang Muda Katolik yang juga merupakan artis ibu kota, Piche Kota dan Tommy Bolly, bersama sejumlah artis lainnya, akan hadir dalam perayaan kudus Misa Pentahbisan Gereja Santo Mikhael Bitefa.
Kehadiran mereka bukan sekadar untuk menghibur umat. Para artis tersebut sebelumnya juga terlibat dalam proses penggalangan dana untuk mendukung pembangunan Gereja Santo Mikhael Bitefa.
26 Tahun yang Tak Akan Terlupakan
Kini, setelah 26 tahun berlalu, umat Stasi Bitefa akhirnya dapat melihat impian yang dahulu terasa begitu jauh menjadi kenyataan. Selain itu, Gereja Santo Mikhael Bitefa berdiri bukan hanya sebagai bangunan fisik, tetapi juga menjadi simbol ketekunan, persatuan, gotong royong dan harapan umat.












