Kupang, SonafNTT-News.com — Menjaga infrastruktur sumber daya air agar tetap berfungsi optimal bukan sekadar pekerjaan rutin, melainkan bagian penting dari upaya mempertahankan manfaat pembangunan bagi masyarakat. Di tengah kebutuhan air yang terus menjadi perhatian, Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BBWS NT II) melalui Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air terus melaksanakan langkah konkret untuk merawat dan mengoptimalkan infrastruktur air di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Melalui program pekerjaan reguler Tahun Anggaran 2026, pemeliharaan embung, jaringan irigasi, jaringan air baku dan air tanah, serta bendungan menjadi bagian dari kegiatan yang dilaksanakan untuk menjaga keberlanjutan fungsi infrastruktur sumber daya air.
Langkah ini memiliki arti strategis bagi pembangunan daerah. Sebab, infrastruktur air yang terpelihara dengan baik berperan dalam mendukung pelayanan air, aktivitas pertanian, dan pemanfaatan sumber daya air sesuai peruntukannya.
Memastikan Infrastruktur Tetap Berfungsi
Pembangunan infrastruktur sumber daya air tidak berhenti ketika konstruksi selesai. Setelah dibangun, berbagai fasilitas tersebut membutuhkan pemeliharaan berkala agar tetap berfungsi sesuai tujuan dan dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.
Embung, misalnya, memerlukan pemeliharaan untuk mendukung fungsi penampungan air. Jaringan irigasi perlu dijaga agar distribusi air menuju lahan pertanian dapat berlangsung sesuai kondisi dan kapasitas jaringan. Sementara itu, infrastruktur air baku, air tanah, dan bendungan juga membutuhkan perhatian teknis sesuai karakteristik masing-masing.
Karena itu, pekerjaan pemeliharaan menjadi bagian penting dalam menjaga nilai investasi pembangunan yang telah dilakukan pemerintah.
Kepala Satker Operasi dan Pemeliharaan BBWS Nusa Tenggara II, Nahason Harianja, ST, MT, saat ditemui wartawan pada Kamis (29/10/2026), menjelaskan bahwa pekerjaan reguler Tahun Anggaran 2026 meliputi pemeliharaan embung, jaringan irigasi, jaringan air baku dan air tanah, serta bendungan.
Menurut Nahason, pelaksanaan kegiatan di lapangan juga diwarnai keterlibatan dalam penanganan tanggap darurat bencana di Flores beberapa waktu sebelumnya.
“Semua pekerjaan sudah rampung 100 persen, namun progres kami sedikit berkurang karena adanya penanganan tanggap darurat bencana Flores beberapa waktu lalu, sehingga progres turun dari 85 menjadi 77 persen,” ujarnya.
Nahason menegaskan bahwa pekerjaan reguler telah rampung 100 persen, sementara perubahan progres dari 85 persen menjadi 77 persen perlu diperjelas lebih lanjut agar masyarakat memperoleh pemahaman yang utuh mengenai capaian program.
Pemeliharaan Berkelanjutan untuk Mendukung Pembangunan Daerah
Ia juga menyampaikan bahwa Keberhasilan pembangunan infrastruktur tidak hanya ditentukan oleh jumlah fasilitas yang berhasil dibangun. Kemampuan menjaga agar fasilitas tersebut tetap berfungsi dan memberikan manfaat dalam jangka panjang juga merupakan bagian penting dari keberhasilan pembangunan.
Menurutnya,Pemeliharaan embung, jaringan irigasi, jaringan air baku dan air tanah, serta bendungan menjadi langkah strategis yang diperlukan untuk menjaga keberlanjutan fungsi infrastruktur sumber daya air di Nusa Tenggara Timur.
“ menjaga infrastruktur air berarti menjaga keberlanjutan manfaat pembangunan. Embung yang terpelihara, jaringan irigasi yang berfungsi, serta bendungan dan jaringan air yang terawat merupakan bagian dari upaya mendukung pengelolaan sumber daya air yang lebih baik di NTT.” tuturnya












