Ende, SonafNTT-News.com – Perjuangan aspirasi masyarakat tidak cukup hanya disampaikan melalui forum resmi atau janji politik, tetapi harus diwujudkan melalui program konkret yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Komitmen terhadap kebutuhan petani tersebut menjadi salah satu perhatian Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Oktafianus Moa Mesi, S.T., melalui penyaluran bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) bagi kelompok tani di Kabupaten Ende.
Dalam kegiatan reses dan perjuangan aspirasi masyarakat, Oktafianus Moa Mesi menyalurkan bantuan berupa 18 unit mesin pompa air serta bantuan traktor tangan atau hand traktor roda dua kepada kelompok tani. Secara keseluruhan, sebanyak 22 kelompok tani tercatat menerima bantuan tersebut.
Bantuan ini menyasar kelompok tani di sejumlah wilayah, antara lain Desa Ja Mokeasa, Desa Wolofeo dan Desa Ranga di Kecamatan Detusoko, serta Desa Kebirangga Tengah di Kecamatan Maukaro.
Kepada wartawan, Senin (2/11/2026), Oktafianus Moa Mesi menjelaskan bahwa bantuan tersebut merupakan hasil perjuangan aspirasi yang dilakukannya untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat, khususnya para petani yang selama ini menghadapi berbagai keterbatasan sarana dan prasarana pertanian.
Menurutnya, sektor pertanian membutuhkan perhatian serius karena menjadi salah satu penopang kehidupan ekonomi masyarakat pedesaan. Oleh sebab itu, ketersediaan alat pertanian modern menjadi kebutuhan penting dalam meningkatkan produktivitas dan memperkuat ketahanan pangan daerah.
Oktafianus menegaskan bahwa bantuan traktor roda dua dan mesin pompa air bukan sekadar bantuan peralatan, melainkan bagian dari upaya mendorong modernisasi sektor pertanian serta meningkatkan kemampuan petani dalam mengelola lahan secara lebih efektif dan efisien.

Anggota DPR NTT Oktafianus Moa Mesi proses bersama Kelompok Tani usai serahkan Pompa Air
Ia menjelaskan, traktor roda dua memiliki fungsi strategis dalam mempercepat proses pengolahan lahan pertanian.
“Traktor roda dua membantu mempercepat proses membajak, mencangkul, dan meratakan tanah dibandingkan dengan cara manual yang selama ini membutuhkan banyak tenaga manusia maupun tenaga hewan,” jelas mantan Anggota DPRD Kabupaten Ende tiga periode tersebut.
Selain mempercepat pengolahan lahan, penggunaan traktor tangan juga membantu petani mengejar jadwal musim tanam sehingga proses penanaman dapat dilakukan lebih tepat waktu. Dengan demikian, peluang meningkatkan indeks pertanaman atau frekuensi tanam dalam setahun juga semakin terbuka.
Bahkan, traktor roda dua dapat dimanfaatkan sebagai sumber tenaga multifungsi untuk mengoperasikan atau menarik sejumlah peralatan pertanian lainnya sesuai kebutuhan.
Sementara itu, keberadaan mesin pompa air menjadi sangat penting di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu dan keterbatasan sumber air bagi lahan pertanian.
Melalui mesin pompa air, kelompok tani dapat mengalirkan air dari sungai, waduk, sumur bor maupun sumber air lainnya menuju lahan pertanian, terutama ketika musim kemarau atau saat curah hujan mengalami penurunan.
“Pasokan air yang stabil sangat menentukan pertumbuhan tanaman. Jika kebutuhan air dapat terpenuhi, maka tanaman bisa tumbuh lebih optimal dan produktivitas pertanian diharapkan meningkat,” ungkapnya.
Semenra Di tengah perjuangan menghadirkan bantuan bagi masyarakat, Oktafianus Moa Mesi juga meminta pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia agar terus konsisten memberikan dukungan sarana dan prasarana pertanian kepada kelompok tani.
Ia berharap bantuan pemerintah tidak hanya terbatas pada mesin pompa air dan traktor roda dua, tetapi juga mencakup hand sprayer, berbagai peralatan pertanian lainnya, bibit unggul, serta pupuk yang dibutuhkan petani.
Menurutnya, dukungan tersebut merupakan bagian penting dalam menyukseskan program pemerintah untuk meningkatkan produksi pertanian dan mewujudkan swasembada pangan nasional.
“Petani membutuhkan perhatian yang berkelanjutan. Jangan sampai bantuan hanya diberikan sesekali, tetapi harus ada kesinambungan, baik dari sisi alat pertanian, ketersediaan bibit, pupuk maupun pendampingan kepada kelompok tani,” tegasnya.
Ia menilai bahwa peningkatan produktivitas pertanian tidak bisa hanya dibebankan kepada petani. Dibutuhkan sinergi pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, serta seluruh pemangku kepentingan agar berbagai persoalan pertanian dapat ditangani secara terarah.
Dalam kesempatan tersebut, mantan Ketua GMNI Cabang Ende yang juga mengungkapkan bahwa berdasarkan kondisi lapangan, salah satu persoalan yang saat ini dihadapi masyarakat adalah belum meratanya curah hujan.
Kondisi tersebut berdampak terhadap ketersediaan air dan kebutuhan pangan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah bukan sentra persawahan.
Situasi ini membutuhkan perhatian bersama karena masyarakat di wilayah pertanian lahan kering memiliki kerentanan tersendiri ketika musim hujan belum tiba.
Karena itu, bantuan pompa air diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk membantu kelompok tani mengoptimalkan sumber air yang tersedia, meskipun tetap diperlukan dukungan infrastruktur dan pengelolaan air yang memadai.
Oktafianus menegaskan bahwa pemerintah perlu memperhatikan kondisi masyarakat di lapangan agar program pembangunan benar-benar menjawab persoalan yang dihadapi rakyat.
Oktovianus yang juga ketua pemuda Katolik juga proses pemulihan masyarakat pascagempa bumi, khususnya pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak.
Ia berharap seluruh pembangunan hunian sementara dapat diselesaikan sebelum musim hujan tiba sehingga masyarakat yang terdampak bencana tidak terus berada dalam kondisi ketidakpastian.
Menurutnya, pembangunan huntara harus menjadi perhatian serius pemerintah karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat untuk memperoleh tempat tinggal yang aman dan layak.
“Hunian sementara rata-rata sementara dibangun. Saya berharap sebelum hujan semua hunian sudah selesai dikerjakan. Oleh karena itu, sebagai wakil rakyat, saya meminta pemerintah provinsi meningkatkan komunikasi dengan pemerintah pusat sehingga seluruh pekerjaan hunian dapat diselesaikan tepat waktu dan harus mengutamakan kualitas,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa percepatan pembangunan tidak boleh mengabaikan mutu pekerjaan. Hunian yang dibangun harus memperhatikan kualitas konstruksi, keamanan, serta kelayakan bagi masyarakat yang akan menempatinya.
Ia tegaskan bahwa pemulihan pasca bencana tidak hanya sebatas membangun kembali bangunan fisik, tetapi juga memastikan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara aman dan bermartabat.












