daerah

Dibekali Keterampilan, Warga Binaan Lapas Kupang Siap Bangkit dan Mandiri

Kupang, Sonaf NTT-News.com. Di balik jeruji besi, harapan baru tumbuh. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kupang resmi menutup program Pendidikan dan Pelatihan Keterampilan Meubelair dan Pertanian bagi warga binaan pada Senin (4/8/2025). Pelatihan ini bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi menjadi angin segar bagi para narapidana yang tengah berjuang membangun kembali masa depan mereka.

Selama delapan hari, puluhan warga binaan dibekali keterampilan praktis di bidang pertanian dan meubelair—dua sektor yang memiliki potensi besar di Nusa Tenggara Timur. Program ini terselenggara berkat kerjasama strategis antara Lapas Kupang, Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi NTT, serta Politeknik Pertanian Negeri Kupang.

“Kami tidak hanya membina, tapi juga memberdayakan,” tegas Kepala Lapas Kelas IIA Kupang, Antonius H. Jawa Gili. Ia menekankan pentingnya keterampilan kerja sebagai modal utama untuk mendorong kemandirian warga binaan pasca menjalani masa pidana.

Antonius menambahkan bahwa pelatihan ini bukan akhir, tetapi awal dari komitmen Lapas dalam mencetak SDM tangguh yang siap bersaing dan berkarya di tengah masyarakat. Ia mengajak para peserta untuk terus mengasah diri dan tidak berhenti belajar, bahkan ketika kebebasan telah kembali di tangan mereka.

Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari pemerintah daerah. Kepala Disnakertrans Provinsi NTT, Sylvia R. Peku Djawang, menyebut pelatihan tersebut sejalan dengan misi besar peningkatan kualitas SDM di segala lini, termasuk di lembaga pemasyarakatan. Ia memastikan bahwa pihaknya siap mendukung kelanjutan program dengan berbagai sumber daya dan pelatihan lanjutan.

Hal senada juga disampaikan oleh Noldin Abolla, perwakilan dari Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Menurutnya, meski pelatihan hanya berlangsung singkat, dampaknya sangat terasa. Warga binaan tidak hanya belajar keterampilan teknis, tetapi juga ditanamkan semangat percaya diri dan etos kerja.

Tak bisa dipungkiri, pelatihan ini menjadi simbol perubahan paradigma pemasyarakatan dari sekadar tempat menjalani hukuman, menjadi ruang pembinaan dan transformasi. Kegiatan ini juga membuka mata publik bahwa setiap individu, termasuk yang pernah tersandung hukum, layak mendapat kesempatan kedua.

“Mereka bukan sampah masyarakat, tapi manusia yang sedang diberi peluang untuk bangkit,” ujar seorang instruktur pelatihan.

Kini, para peserta pelatihan Lapas Kupang tidak lagi hanya dihitung sebagai napi, tapi sebagai calon pengusaha, tukang kayu profesional, petani sukses—dan yang terpenting, sebagai pribadi yang siap menata hidup secara mandiri.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *