Kupang, SonafNTT-News.com. — Dinas Kesehatan Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), meraih penghargaan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia sebagai unit organisasi kesehatan terbaik dalam pengelolaan layanan kesehatan tradisional di daerah tahun 2026.
Penghargaan ini menjadi bentuk pengakuan atas upaya pengelolaan dan pengembangan layanan kesehatan tradisional di Kota Kupang, sekaligus memperkuat peran pemerintah daerah dalam mendorong pelayanan kesehatan yang memanfaatkan kearifan lokal dan keterampilan tradisional secara bertanggung jawab.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, drg. Retnowati, M.Kes., mengatakan, kesehatan tradisional memiliki peran penting dalam mendukung upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Berbagai pengetahuan, keterampilan, dan praktik kesehatan yang berkembang di tengah masyarakat dapat menjadi bagian dari upaya promotif dan preventif, sepanjang memenuhi ketentuan yang berlaku.
Menurut dia, pemerintah tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan konvensional, tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan potensi kesehatan tradisional yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Semua keahlian dan keterampilan yang ada, sepanjang menunjang pelayanan kesehatan, akan tetap kita beri ruang agar bisa berkarya dan membantu Dinas Kesehatan dalam menyehatkan masyarakat,” ujar Retnowati.
Ia menegaskan, Dinas Kesehatan Kota Kupang akan terus memberikan motivasi, pembinaan, dan pendampingan terhadap para pelaku serta penyelenggara pelayanan kesehatan tradisional.
Langkah tersebut diharapkan dapat mendorong pelayanan kesehatan tradisional yang semakin tertata, aman, dan mampu bersinergi dengan pelayanan kesehatan konvensional.
“Kami akan semakin memberikan motivasi, pembinaan, dan pendampingan terhadap semua upaya kesehatan tradisional. Apa yang mungkin belum bisa kita berikan melalui pelayanan kesehatan konvensional, diharapkan dapat didukung melalui pelayanan kesehatan tradisional yang sesuai ketentuan,” katanya.
Tiga Jenis Pelayanan Kesehatan Tradisional
Kesehatan tradisional mencakup berbagai bentuk pengobatan, perawatan, pemeliharaan kesehatan, hingga upaya pencegahan penyakit yang memanfaatkan cara, ramuan, dan keterampilan yang bersumber dari pengalaman, kearifan lokal, maupun pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam praktiknya, pelayanan kesehatan tradisional dikenal dalam tiga kategori, yakni tradisional empiris, tradisional komplementer, dan tradisional integrasi.
Pelayanan tradisional empiris merupakan pelayanan yang menggunakan metode, ramuan, dan keterampilan berdasarkan pengalaman serta pengetahuan turun-temurun. Contohnya adalah pemanfaatan jamu dan pijat tradisional yang dilakukan oleh penyehat tradisional sesuai ketentuan.
Sementara itu, pelayanan tradisional komplementer menggunakan metode kesehatan tradisional yang memiliki dasar ilmiah untuk melengkapi pelayanan kesehatan konvensional. Sejumlah metode yang dikenal dalam kategori ini antara lain akupunktur, akupresur, hipnoterapi, dan aromaterapi.
Adapun pelayanan tradisional integrasi merupakan perpaduan pelayanan kesehatan konvensional dengan pelayanan kesehatan tradisional dalam satu fasilitas pelayanan kesehatan. Pendekatan ini memungkinkan kedua jenis pelayanan tersebut bersinergi dalam mendukung perawatan pasien sesuai indikasi dan standar pelayanan yang berlaku.
Dorong Potensi Kearifan Lokal
Di Kota Kupang, sejumlah metode dan sarana pelayanan kesehatan tradisional telah terdaftar dan tersedia bagi masyarakat. Di antaranya pemanfaatan ramuan herbal, seperti jahe dan tanaman obat lainnya, serta terapi fisik dan manual, seperti pijat urut, refleksi, dan bekam.
Keberadaan berbagai layanan tersebut menunjukkan bahwa potensi kesehatan tradisional dapat menjadi salah satu sumber daya yang mendukung upaya peningkatan kesehatan masyarakat.
Namun, pengembangannya tetap memerlukan pembinaan dan pengawasan agar pelayanan yang diberikan memenuhi ketentuan, memperhatikan keselamatan masyarakat, serta tidak menggantikan penanganan medis yang diperlukan.
Bagi Dinas Kesehatan Kota Kupang, pengembangan kesehatan tradisional bukan sekadar mempertahankan praktik yang telah hidup di tengah masyarakat, melainkan juga membangun sistem pelayanan yang lebih terarah dan bertanggung jawab.
Melalui pembinaan berkelanjutan, pemerintah daerah berharap para pelaku kesehatan tradisional dapat meningkatkan kapasitas, menjaga mutu pelayanan, serta berkontribusi dalam memperluas pilihan layanan kesehatan bagi masyarakat.
Penghargaan dari Kementerian Kesehatan pada 2026 ini diharapkan menjadi dorongan bagi Dinas Kesehatan Kota Kupang untuk terus memperkuatKupang, SonafNTT-News.com. — Dinas Kesehatan Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), meraih penghargaan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia sebagai unit organisasi kesehatan terbaik dalam pengelolaan layanan kesehatan tradisional di daerah tahun 2026.
Penghargaan ini menjadi bentuk pengakuan atas upaya pengelolaan dan pengembangan layanan kesehatan tradisional di Kota Kupang, sekaligus memperkuat peran pemerintah daerah dalam mendorong pelayanan kesehatan yang memanfaatkan kearifan lokal dan keterampilan tradisional secara bertanggung jawab.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, drg. Retnowati, M.Kes., mengatakan, kesehatan tradisional memiliki peran penting dalam mendukung upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Berbagai pengetahuan, keterampilan, dan praktik kesehatan yang berkembang di tengah masyarakat dapat menjadi bagian dari upaya promotif dan preventif, sepanjang memenuhi ketentuan yang berlaku.
Menurut dia, pemerintah tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan konvensional, tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan potensi kesehatan tradisional yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Semua keahlian dan keterampilan yang ada, sepanjang menunjang pelayanan kesehatan, akan tetap kita beri ruang agar bisa berkarya dan membantu Dinas Kesehatan dalam menyehatkan masyarakat,” ujar Retnowati.
Ia menegaskan, Dinas Kesehatan Kota Kupang akan terus memberikan motivasi, pembinaan, dan pendampingan terhadap para pelaku serta penyelenggara pelayanan kesehatan tradisional.
Langkah tersebut diharapkan dapat mendorong pelayanan kesehatan tradisional yang semakin tertata, aman, dan mampu bersinergi dengan pelayanan kesehatan konvensional.
“Kami akan semakin memberikan motivasi, pembinaan, dan pendampingan terhadap semua upaya kesehatan tradisional. Apa yang mungkin belum bisa kita berikan melalui pelayanan kesehatan konvensional, diharapkan dapat didukung melalui pelayanan kesehatan tradisional yang sesuai ketentuan,” katanya.
Tiga Jenis Pelayanan Kesehatan Tradisional
Kesehatan tradisional mencakup berbagai bentuk pengobatan, perawatan, pemeliharaan kesehatan, hingga upaya pencegahan penyakit yang memanfaatkan cara, ramuan, dan keterampilan yang bersumber dari pengalaman, kearifan lokal, maupun pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam praktiknya, pelayanan kesehatan tradisional dikenal dalam tiga kategori, yakni tradisional empiris, tradisional komplementer, dan tradisional integrasi.
Pelayanan tradisional empiris merupakan pelayanan yang menggunakan metode, ramuan, dan keterampilan berdasarkan pengalaman serta pengetahuan turun-temurun. Contohnya adalah pemanfaatan jamu dan pijat tradisional yang dilakukan oleh penyehat tradisional sesuai ketentuan.
Sementara itu, pelayanan tradisional komplementer menggunakan metode kesehatan tradisional yang memiliki dasar ilmiah untuk melengkapi pelayanan kesehatan konvensional. Sejumlah metode yang dikenal dalam kategori ini antara lain akupunktur, akupresur, hipnoterapi, dan aromaterapi.
Adapun pelayanan tradisional integrasi merupakan perpaduan pelayanan kesehatan konvensional dengan pelayanan kesehatan tradisional dalam satu fasilitas pelayanan kesehatan. Pendekatan ini memungkinkan kedua jenis pelayanan tersebut bersinergi dalam mendukung perawatan pasien sesuai indikasi dan standar pelayanan yang berlaku.
Dorong Potensi Kearifan Lokal
Di Kota Kupang, sejumlah metode dan sarana pelayanan kesehatan tradisional telah terdaftar dan tersedia bagi masyarakat. Di antaranya pemanfaatan ramuan herbal, seperti jahe dan tanaman obat lainnya, serta terapi fisik dan manual, seperti pijat urut, refleksi, dan bekam.
Keberadaan berbagai layanan tersebut menunjukkan bahwa potensi kesehatan tradisional dapat menjadi salah satu sumber daya yang mendukung upaya peningkatan kesehatan masyarakat.
Namun, pengembangannya tetap memerlukan pembinaan dan pengawasan agar pelayanan yang diberikan memenuhi ketentuan, memperhatikan keselamatan masyarakat, serta tidak menggantikan penanganan medis yang diperlukan.
Bagi Dinas Kesehatan Kota Kupang, pengembangan kesehatan tradisional bukan sekadar mempertahankan praktik yang telah hidup di tengah masyarakat, melainkan juga membangun sistem pelayanan yang lebih terarah dan bertanggung jawab.
Melalui pembinaan berkelanjutan, pemerintah daerah berharap para pelaku kesehatan tradisional dapat meningkatkan kapasitas, menjaga mutu pelayanan, serta berkontribusi dalam memperluas pilihan layanan kesehatan bagi masyarakat.
Penghargaan dari Kementerian Kesehatan pada 2026 ini diharapkan menjadi dorongan bagi Dinas Kesehatan Kota Kupang untuk terus memperkuat kolaborasi antara pelayanan kesehatan konvensional dan kesehatan tradisional.
Dengan demikian, kearifan lokal tidak hanya menjadi warisan pengetahuan antargenerasi, tetapi juga dapat dikembangkan secara terukur untuk mendukung masyarakat yang lebih sehat.
Kupang, SonafNTT-News.com. — Dinas Kesehatan Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), meraih penghargaan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia sebagai unit organisasi kesehatan terbaik dalam pengelolaan layanan kesehatan tradisional di daerah tahun 2026.
Penghargaan ini menjadi bentuk pengakuan atas upaya pengelolaan dan pengembangan layanan kesehatan tradisional di Kota Kupang, sekaligus memperkuat peran pemerintah daerah dalam mendorong pelayanan kesehatan yang memanfaatkan kearifan lokal dan keterampilan tradisional secara bertanggung jawab.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, drg. Retnowati, M.Kes., mengatakan, kesehatan tradisional memiliki peran penting dalam mendukung upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Berbagai pengetahuan, keterampilan, dan praktik kesehatan yang berkembang di tengah masyarakat dapat menjadi bagian dari upaya promotif dan preventif, sepanjang memenuhi ketentuan yang berlaku.
Menurut dia, pemerintah tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan konvensional, tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan potensi kesehatan tradisional yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Semua keahlian dan keterampilan yang ada, sepanjang menunjang pelayanan kesehatan, akan tetap kita beri ruang agar bisa berkarya dan membantu Dinas Kesehatan dalam menyehatkan masyarakat,” ujar Retnowati.
Ia menegaskan, Dinas Kesehatan Kota Kupang akan terus memberikan motivasi, pembinaan, dan pendampingan terhadap para pelaku serta penyelenggara pelayanan kesehatan tradisional.
Langkah tersebut diharapkan dapat mendorong pelayanan kesehatan tradisional yang semakin tertata, aman, dan mampu bersinergi dengan pelayanan kesehatan konvensional.
“Kami akan semakin memberikan motivasi, pembinaan, dan pendampingan terhadap semua upaya kesehatan tradisional. Apa yang mungkin belum bisa kita berikan melalui pelayanan kesehatan konvensional, diharapkan dapat didukung melalui pelayanan kesehatan tradisional yang sesuai ketentuan,” katanya.
Tiga Jenis Pelayanan Kesehatan Tradisional
Kesehatan tradisional mencakup berbagai bentuk pengobatan, perawatan, pemeliharaan kesehatan, hingga upaya pencegahan penyakit yang memanfaatkan cara, ramuan, dan keterampilan yang bersumber dari pengalaman, kearifan lokal, maupun pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam praktiknya, pelayanan kesehatan tradisional dikenal dalam tiga kategori, yakni tradisional empiris, tradisional komplementer, dan tradisional integrasi.
Pelayanan tradisional empiris merupakan pelayanan yang menggunakan metode, ramuan, dan keterampilan berdasarkan pengalaman serta pengetahuan turun-temurun. Contohnya adalah pemanfaatan jamu dan pijat tradisional yang dilakukan oleh penyehat tradisional sesuai ketentuan.
Sementara itu, pelayanan tradisional komplementer menggunakan metode kesehatan tradisional yang memiliki dasar ilmiah untuk melengkapi pelayanan kesehatan konvensional. Sejumlah metode yang dikenal dalam kategori ini antara lain akupunktur, akupresur, hipnoterapi, dan aromaterapi.
Adapun pelayanan tradisional integrasi merupakan perpaduan pelayanan kesehatan konvensional dengan pelayanan kesehatan tradisional dalam satu fasilitas pelayanan kesehatan. Pendekatan ini memungkinkan kedua jenis pelayanan tersebut bersinergi dalam mendukung perawatan pasien sesuai indikasi dan standar pelayanan yang berlaku.
Dorong Potensi Kearifan Lokal
Di Kota Kupang, sejumlah metode dan sarana pelayanan kesehatan tradisional telah terdaftar dan tersedia bagi masyarakat. Di antaranya pemanfaatan ramuan herbal, seperti jahe dan tanaman obat lainnya, serta terapi fisik dan manual, seperti pijat urut, refleksi, dan bekam.
Keberadaan berbagai layanan tersebut menunjukkan bahwa potensi kesehatan tradisional dapat menjadi salah satu sumber daya yang mendukung upaya peningkatan kesehatan masyarakat.
Namun, pengembangannya tetap memerlukan pembinaan dan pengawasan agar pelayanan yang diberikan memenuhi ketentuan, memperhatikan keselamatan masyarakat, serta tidak menggantikan penanganan medis yang diperlukan.
Bagi Dinas Kesehatan Kota Kupang, pengembangan kesehatan tradisional bukan sekadar mempertahankan praktik yang telah hidup di tengah masyarakat, melainkan juga membangun sistem pelayanan yang lebih terarah dan bertanggung jawab.
Melalui pembinaan berkelanjutan, pemerintah daerah berharap para pelaku kesehatan tradisional dapat meningkatkan kapasitas, menjaga mutu pelayanan, serta berkontribusi dalam memperluas pilihan layanan kesehatan bagi masyarakat.
Penghargaan dari Kementerian Kesehatan pada 2026 ini diharapkan menjadi dorongan bagi Dinas Kesehatan Kota Kupang untuk terus memperkuat kolaborasi antara pelayanan kesehatan konvensional dan kesehatan tradisional.
Dengan demikian, kearifan lokal tidak hanya menjadi warisan pengetahuan antargenerasi, tetapi juga dapat dikembangkan secara terukur untuk mendukung masyarakat yang lebih sehat.
kolaborasi antara pelayanan kesehatan konvensional dan kesehatan tradisional.
Dengan demikian, kearifan lokal tidak hanya menjadi warisan pengetahuan antargenerasi, tetapi juga dapat dikembangkan secara terukur untuk mendukung masyarakat yang lebih sehat.
