Emanuel Kolfidus: 53 Tahun PDI Perjuangan adalah Perjalanan Iman, Ideologi, dan Rakyat
Kupang, SonafNTT-News.com. Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-53 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) dimaknai bukan sekadar seremoni, melainkan momentum refleksi mendalam atas perjalanan ideologis dan spiritual partai.
Hal ini ditegaskan Emanuel Kolfidus, Koordinator HUT ke-53 PDI Perjuangan DPD PDI Perjuangan NTT, dalam diskusi internal yang digelar bertepatan dengan peringatan hari lahir partai berlambang banteng tersebut.
Dalam pernyataan pembukanya Emanuel menekankan bahwa usia 53 tahun PDI Perjuangan adalah buah dari penyertaan Tuhan dan kerja kolektif seluruh elemen partai serta rakyat. Ia menyebut perjalanan panjang PDI Perjuangan sebagai perjalanan iman, ideologi, dan keberpihakan kepada rakyat, yang terus terjaga hingga hari ini.
“Ini adalah momentum syukur dan terima kasih. Syukur atas berkat Tuhan kepada PDI Perjuangan, dan terima kasih kepada para pendiri, senior, kader, simpatisan, serta rakyat yang setia berjuang bersama partai selama lebih dari lima dekade,” ujar Emanuel.
Lebih jauh, Emanuel—yang juga dikenal sebagai Eman K. Leti—menegaskan bahwa PDI Perjuangan tetap konsisten berada di garis ideologi Bung Karno. Konsistensi tersebut, menurutnya, tidak lepas dari kepemimpinan ideologis dan transformatif Ketua Umum PDI Perjuangan, Prof. Dr. Megawati Soekarnoputri, yang menjaga roh perjuangan partai agar tetap berpihak pada rakyat kecil dan nilai keadilan sosial.
Menariknya, dalam refleksi HUT ke-53 ini, Emanuel juga mengaitkan dinamika politik nasional dengan pemikiran filsuf Yunani, Socrates. Ia mengingatkan bahwa demokrasi tanpa pendidikan politik dan kebijaksanaan berisiko melahirkan praktik demagogi—kepemimpinan yang mengandalkan manipulasi emosi dan opini massa.
Anggota DPR NTT Emanuel mengutip analogi kapal ala Socrates, bahwa negara ibarat kapal yang seharusnya dipimpin oleh mereka yang memiliki pengetahuan dan keahlian, bukan semata-mata oleh figur populer tanpa kapasitas. Menurutnya, kritik klasik tersebut justru semakin relevan di tengah demokrasi modern yang kerap terjebak pada politik sensasi dan pragmatisme kekuasaan.
“Demokrasi harus melahirkan kebajikan dan keadilan, bukan sekadar perebutan suara. Di sinilah pentingnya pendidikan politik dan kesadaran kritis rakyat,” tegasnya.
Melalui refleksi ideologis ini, Emanuel menegaskan bahwa HUT ke-53 PDI Perjuangan menjadi momentum untuk meneguhkan kembali politik yang berlandaskan rasionalitas, integritas moral, serta keberpihakan nyata kepada rakyat. Ia menilai, nilai-nilai tersebut sejalan dengan ajaran Bung Karno dan menjadi fondasi utama PDI Perjuangan dalam mengarungi tantangan demokrasi ke depan.
Ia menambahkan dengan menggabungkan dimensi iman, ideologi, dan perjuangan rakyat, peringatan 53 tahun PDI Perjuangan tampil sebagai penegasan jati diri partai—bukan hanya sebagai kekuatan politik elektoral, tetapi juga sebagai gerakan politik nilai yang terus berjuang membangun keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
