Kupang, SonafNTT-News.com. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT mematangkan rencana pelaksanaan Festival Kampung Seni Flobamora pada Selasa 11/8/2026 bertempat di ruang rapat Dinas Parekraf NTT, sebuah perhelatan yang dirancang bukan sekadar menjadi tontonan, tetapi menjadi ruang perjumpaan antara budaya, kreativitas, pariwisata dan pergerakan ekonomi masyarakat.
Rencana tersebut dibahas dalam rapat pemantapan yang melibatkan berbagai pihak dan mitra strategis. Festival ini diarahkan menjadi sebuah etalase yang mempertemukan kekayaan budaya NTT dengan kreativitas generasi muda serta produk-produk UMKM lokal.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Drs. Doris Alexander Rihi, dalam pesan pembukanya menegaskan bahwa Festival Kampung Seni Flobamora harus memiliki substansi yang lebih besar daripada sekadar sebuah pertunjukan.
Menurut Doris, festival tersebut dirancang untuk memadukan budaya, kreativitas dan penggerakan UMKM dalam satu ekosistem kegiatan.
“Festival Kampung Seni ini memadukan budaya dan kreasi dengan menggerakkan UMKM. Ini adalah etalase budaya dan UMKM, sekaligus ruang untuk mementaskan kearifan lokal yang kita miliki,” tegas Doris.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa kebudayaan tidak boleh berhenti sebagai simbol atau seremoni. Kebudayaan harus mampu hadir dalam ruang publik, dinikmati masyarakat, dikembangkan secara kreatif dan pada saat yang sama memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
FPK-NTT Dilibatkan, 22 Kabupaten/Kota Dibawa ke Satu Panggung
Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Sri Lendes, selaku penanggung jawab kegiatan, menjelaskan bahwa salah satu kekuatan Festival Kampung Seni Flobamora adalah keterlibatan Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Provinsi NTT.
Menurut Sri, pelibatan FPK bukan tanpa alasan.
FPK-NTT memiliki anggota yang berasal dari berbagai paguyuban masyarakat etnis yang tersebar di 22 kabupaten/kota se-NTT. Masing-masing paguyuban juga memiliki sanggar seni yang dapat menjadi kekuatan penting dalam menghadirkan keberagaman budaya dalam festival.
“Kami memilih melibatkan FPK karena di dalamnya terdapat paguyuban masyarakat etnis dari 22 kabupaten dan kota se-NTT. Banyak diantaranya memiliki sanggar seni. Ini menjadi kekuatan besar untuk menghadirkan keberagaman budaya dalam satu panggung,” jelas Sri.
Dengan konsep tersebut, Festival Kampung Seni Flobamora diharapkan menjadi ruang perjumpaan berbagai ekspresi budaya yang hidup di NTT sekaligus memperkuat semangat pembauran dalam bingkai kebhinekaan.
29 Agustus 2026, Kampung Seni Flobamora Jadi Titik Perjumpaan
Event Organizer kegiatan, Andi Zulkifli, menyampaikan bahwa Festival Kampung Seni Flobamora direncanakan berlangsung pada 29 Agustus 2026, bertempat di kawasan Kampung Seni Flobamora.
Pemilihan lokasi tersebut memiliki pesan strategis.
Menurut Andi, festival ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkenalkan Kampung Seni Flobamora sebagai destinasi yang selama ini belum terlalu dikenal luas oleh masyarakat.
“Pemilihan Kampung Seni Flobamora sebagai lokasi bukan hanya soal tempat penyelenggaraan. Kita ingin menjadikan event ini sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan destinasi Kampung Seni Flobamora kepada masyarakat,” ujar Andi.
Yang menarik, konsep festival tidak berhenti pada pola pertunjukan konvensional, di mana pengunjung hanya datang, duduk dan menyaksikan pertunjukan.
Festival ini dirancang interaktif. Pengunjung akan diberi ruang untuk terlibat secara aktif dalam sejumlah kegiatan yang disiapkan panitia.
Beberapa agenda yang dirancang antara lain fashion show modern etnik, lomba tari kreasi, talkshow budaya dan pariwisata, serta berbagai kegiatan lain yang dikemas dengan pendekatan kreatif.
“Konsepnya bukan hanya pertunjukan. Pengunjung tidak hanya datang untuk menonton, tetapi juga akan diajak terlibat dalam beberapa aktivitas yang kita siapkan. Kita ingin menghadirkan sesuatu yang seru, interaktif dan berbeda dari event sejenis lainnya,” kata Andi.
Konsep tersebut diharapkan mampu menciptakan pengalaman baru bagi pengunjung sekaligus memperluas daya tarik Kampung Seni Flobamora.
Garuda Indonesia Siap Berkolaborasi
Dukungan terhadap rencana kegiatan juga datang dari berbagai mitra.
Perwakilan manajemen Garuda Indonesia, Dwicahyo Harry, yang hadir dalam rapat menyampaikan dukungannya untuk berkolaborasi dan berkontribusi sesuai dengan tema yang telah disiapkan panitia.
Kolaborasi tersebut menjadi penting karena pengembangan pariwisata tidak dapat dilakukan secara sektoral. Dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar sebuah event tidak hanya selesai ketika panggung dibongkar, tetapi mampu memberikan efek lanjutan terhadap promosi destinasi dan pergerakan wisatawan.
FPK: Jangan Berhenti Satu Hari
Ketua FPK-NTT, Theo Widodo, menyampaikan apresiasi terhadap rencana pelaksanaan Festival Kampung Seni Flobamora.
Theo mengatakan, pihaknya menyambut baik kehadiran event tersebut karena memberikan ruang bagi ekspresi budaya sekaligus mempertemukan berbagai paguyuban masyarakat dalam suasana kebersamaan.
“Kami senang ada event ini dan kami mengapresiasi rencana pelaksanaannya. Harapan kami, kegiatan seperti ini jangan hanya berlangsung sehari,” ujar Theo.
Menurutnya, Festival Kampung Seni Flobamora dapat dilihat sebagai bentuk apresiasi negara terhadap kekayaan budaya yang hidup di tengah masyarakat.
“Festival Kampung Seni ini adalah bentuk apresiasi negara terhadap budaya yang ada,” katanya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pesan agar festival tidak berhenti sebagai agenda tahunan semata, tetapi dapat dikembangkan menjadi ruang yang berkelanjutan bagi pelaku seni, komunitas budaya, UMKM dan masyarakat.
Bank Indonesia: Hiburan yang Menggerakkan Ekonomi
Dukungan juga disampaikan Bank Indonesia. Perwakilan Bank Indonesia, Rimalya A. Lusi, menyatakan kesiapan untuk mendukung pelaksanaan Festival Kampung Seni Flobamora.
Menurut Rimalya, kegiatan tersebut memiliki nilai positif karena menawarkan lebih dari sekadar hiburan.
“Kami siap mendukung kegiatan Festival Kampung Seni. Ini merupakan kegiatan positif karena memberikan tontonan yang tidak semata-mata hiburan, tetapi juga memiliki nilai edukasi sekaligus menggerakkan ekonomi lokal,” ungkap Rimalya.
Pandangan tersebut memperkuat arah festival sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif. Ketika pengunjung datang, pelaku UMKM mendapatkan ruang untuk menawarkan produknya, pelaku seni mendapatkan panggung, destinasi mendapatkan promosi dan masyarakat mendapatkan pengalaman wisata.
Kolaborasi Lintas Sektor
Rapat pemantapan tersebut turut dihadiri sejumlah mitra, antara lain Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT serta Bank NTT.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa Festival Kampung Seni Flobamora sedang diarahkan sebagai sebuah gerakan kolaboratif, bukan kegiatan milik satu institusi semata.
Pada akhirnya, kekuatan festival ini bukan hanya terletak pada siapa yang tampil di atas panggung, tetapi pada berapa banyak orang yang terlibat, berapa banyak potensi budaya yang diperkenalkan, seberapa kuat destinasi dipromosikan, serta seberapa besar aktivitas ekonomi masyarakat ikut bergerak.
Festival Kampung Seni Flobamora ingin membawa pesan sederhana tetapi kuat:
Budaya tidak cukup hanya diwariskan. Budaya harus dihidupkan. Kreativitas tidak cukup hanya dipuji. Kreativitas harus diberi ruang. Dan pariwisata tidak cukup hanya dipromosikan. Pariwisata harus menghadirkan pengalaman sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.
Dari Kampung Seni Flobamora, berbagai warna budaya NTT dipertemukan. Dari panggung seni, kreativitas diberi ruang. Dan dari keramaian festival, ekonomi lokal diharapkan ikut bergerak.
29 Agustus 2026 menjadi titik awal untuk menjadikan Kampung Seni Flobamora bukan sekadar tempat berlangsungnya sebuah festival, tetapi sebuah ruang hidup bagi budaya, kreativitas, pariwisata dan ekonomi masyarakat NTT. ( Paul.S /Tim)
