Gubernur Melki Apresiasi Perjuangan Umat Dalam Membangun Gereja St. Mikhael Bitefa, Rumah Iman Harus Jadi Mercusuar Pendidikan dan Ekonomi Keluarga

IMG-20260922-WA0018

TTU, SonafNTT-News.com. Perjuangan panjang umat dalam membangun Gereja St. Mikhael Bitefa, Paroki Tunbaba, Kecamatan Miomafo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), akhirnya berbuah sukacita.

 

Setelah melewati proses panjang yang tidak selalu mudah, Gereja St. Mikhael Bitefa resmi ditahbiskan dalam perayaan penuh syukur yang berlangsung pada Senin (21/9/2026). Momentum tersebut dihadiri Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena bersama jajaran pemerintah dan para tokoh agama serta masyarakat.

 

 

Bagi umat Bitefa, Kaenbaun, Bokon dan Lefnono pentahbisan ini bukan sekadar peresmian sebuah bangunan. Di balik berdirinya gereja tersebut terdapat perjalanan panjang yang diwarnai doa, pengorbanan, kerja keras, gotong royong dan kesetiaan umat mempertahankan harapan.

 

Gubernur Melki dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam proses pembangunan Gereja St. Mikhael Bitefa.

 

“Atas nama masyarakat dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah memberikan perhatian, dukungan, dan kontribusi nyata dalam mendorong proses pembangunan Gereja St. Mikhael Bitefa hingga tiba pada saat penahbisan hari ini,” ujar Gubernur Melki.

 

Buah Iman Umat

 

Gubernur Melki mengingatkan umat bahwa kemegahan sebuah gereja tidak hanya diukur dari bangunan fisiknya.

 

Ia mengutip ungkapan Latin, “Non Lapidibus Tantum, Sed Fide Aedificatur Ecclesia,” yang berarti gereja tidak dibangun hanya dengan batu, tetapi dengan iman.

 

 

Menurutnya, setiap batu yang tersusun di Gereja St. Mikhael Bitefa menyimpan cerita tentang doa, pengorbanan, keringat, air mata, kemurahan hati, iman dan harapan umat.

 

 

Karena itu, Gubernur Melki mengajak seluruh umat untuk tidak hanya melihat kemegahan bangunan gereja, tetapi juga mengenang orang-orang yang telah berjuang hingga rumah ibadah tersebut dapat berdiri.

 

 

“Ketika kita memandang gereja ini, jangan hanya melihat kemegahan bangunannya. Lihatlah di balik batu-batunya terdapat wajah orang-orang yang telah berjuang. Ingatlah tangan-tangan yang pernah bekerja dan kenanglah mereka yang telah memberikan apa yang mereka miliki,” katanya.

 

Rumah Iman Harus Menjadi Mercusuar Pendidikan

 

Lebih jauh, Gubernur Melki berharap Gereja St. Mikhael Bitefa tidak berhenti sebagai tempat peribadatan dan pembinaan spiritual.

 

 

Menurutnya, gereja harus hadir di tengah persoalan kehidupan masyarakat dan menjadi mercusuar yang memberikan arah, harapan dan inspirasi.

 

 

Salah satu bidang yang menjadi perhatian adalah pendidikan.

 

 

Gereja, kata Gubernur Melki, dapat mengambil peran dalam memperkuat keluarga dan pendidikan, termasuk melalui dukungan terhadap Program Jam Belajar.

 

 

Dengan demikian, rumah iman diharapkan ikut membangun budaya belajar, mendampingi keluarga serta menyiapkan generasi muda yang memiliki karakter, iman dan masa depan yang lebih baik.

 

 

Dari Iman Menuju Kemandirian Ekonomi Keluarga

 

 

Tidak hanya pendidikan, Gubernur Melki juga mendorong agar gereja ikut memberi perhatian terhadap kehidupan ekonomi masyarakat.

 

 

Ia menyebut pengembangan ekonomi melalui konsep One Village One Product (OVOP) sebagai salah satu ruang yang dapat didukung bersama.

 

 

Menurutnya, kehidupan iman tidak terpisah dari kehidupan sosial dan ekonomi umat. Keluarga yang kuat membutuhkan pendidikan yang baik sekaligus kehidupan ekonomi yang mampu menopang kesejahteraan.

 

 

Karena itu, gereja diharapkan dapat menjadi ruang yang mendorong umat untuk saling mendukung, mengembangkan potensi lokal dan membangun kemandirian ekonomi keluarga.

 

Gereja, Keluarga dan Masyarakat Harus Berjalan Bersama

 

Sementara itu, Bupati TTU Falentinus Kebo menegaskan bahwa pembangunan kehidupan masyarakat membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

 

 

Pemerintah, gereja, keluarga, tokoh masyarakat dan seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab bersama dalam menciptakan kehidupan yang lebih baik.

 

 

Ia menyebut pentahbisan Gereja St. Mikhael Bitefa bukan sekadar peresmian bangunan, tetapi merupakan buah dari iman, pengorbanan, gotong royong dan kesetiaan umat.

 

 

Bupati Falen juga mengajak umat St. Mikhael Bitefa, Kaenbaun, Bokon dan Lefnono untuk menjadikan gereja tersebut sebagai awal perjalanan iman yang baru.

 

 

Ia berharap gereja menjadi tempat tumbuhnya keluarga yang kuat dalam iman, anak-anak yang mengenal Tuhan, generasi muda yang memiliki harapan serta umat yang memiliki semangat melayani dan peduli terhadap sesama.

 

 

“Rawatlah gereja ini, tetapi lebih dari itu, rawatlah persaudaraan yang telah membuat gereja ini berdiri. Jangan biarkan semangat gotong royong berhenti setelah pembangunan selesai,” pesannya.

 

 

 

Dirangkai Syukuran 19 Tahun Episkopat Uskup Atambua

 

Pentahbisan Gereja St. Mikhael Bitefa juga menjadi momentum istimewa karena dirangkaikan dengan Perayaan Syukur 19 Tahun Tahbisan Episkopat Yang Mulia Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr. sebagai Uskup Atambua.

 

 

Uskup Dominikus Saku menyampaikan rasa syukur atas selesainya pembangunan Gereja St. Mikhael Bitefa. Ia mengakui bahwa perjalanan pembangunan gereja tersebut tidak mudah dan sempat terhenti selama beberapa tahun.

 

 

Seiring dengan pentahbisan gereja, administrasi Stasi Bitefa mulai ditata secara mandiri. Uskup juga mendorong umat agar semakin aktif dalam kehidupan menggereja dan terus membangun budaya iman yang kuat.

Ia mengingatkan bahwa berdirinya sebuah gereja harus diikuti dengan semakin hidupnya umat dalam doa, pelayanan dan kehidupan bersama.

 

 

“Terima kasih atas doa-doa umat Bitefa, Kaenbaun, Bokon dan Lefnono, s sepupu Tunbaba baik di Kota Kupang, TTS, Kefamenanu, Belu, Malaka dan seluruh donatur. Selamat berbahagia dan selamat berbakti dalam roh dan kebenaran,” pungkasnya.

 

 

 

Perayaan kemudian diakhiri dengan penandatanganan prasasti peresmian dan pemotongan tumpeng sebagai ungkapan syukur atas 19 tahun tahbisan episkopat Uskup Atambua.

 

 

Hadir dalam kegiatan tersebut unsur Forkopimda Kabupaten TTU, jajaran pejabat Pimpinan Tinggi Pratama Kabupaten TTU, pimpinan perangkat daerah terkait lingkup Pemprov NTT, Vikjen Keuskupan Atambua Pater Vinsen Wun SVD, Romo Deken Kefamenanu, Pastor Paroki St. Andreas Tunbaba bersama para imam dan biarawan-biarawati, para donatur, panitia pembangunan, tokoh adat, tokoh masyarakat serta seluruh umat.

 

 

Exit mobile version