daerah

Gubernur Melki Paparkan Kerja Nyata 44 Produk Unggulan, 190 UMKM, Perumahan: Arah Baru Pembangunan NTT

Kupang, SonafNTT-News.com. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menegaskan perubahan arah pembangunan daerah menuju kerja nyata yang terukur dan berdampak langsung bagi rakyat. Komitmen ini dipaparkan langsung Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dalam kegiatan Coffee Morning bersama insan pers di Rumah Jabatan Gubernur NTT, Jumat (19/12/2025). Turut hadir  Kepala Dinas PUPR NTT, Benyamin Nahak, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa ( PMD), Victor Manek, Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Pemprov NTT, Frederik Christian Purwanto Koenu, Kepala Badan Keuangan Daerah Provinsi NTT Benhard Menoh, Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT Prisila Q. Parera, dan pimpinan OPD lainnya serta awak media.

Gubernur Melki menyampaikan capaian awal 10 bulan kepemimpinan bersama Johny Asadoma, sekaligus peta jalan pembangunan NTT yang menempatkan ekonomi rakyat, pemenuhan kebutuhan dasar, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi utama.

Sektor ekonomi rakyat menjadi sorotan utama. Hingga kini, 44 produk unggulan daerah dan 190 UMKM telah masuk dalam skema pengembangan terintegrasi dari hulu ke hilir. Melalui pendekatan One Village One Product, One Community One Product, dan One School One Product, Pemprov NTT mendorong produk lokal desa, komunitas, dan sekolah agar naik kelas, memiliki standar mutu, serta mampu bersaing di pasar modern.

“Potensi dari ladang dan laut harus sampai ke pasar dengan kualitas terjaga dan harga yang pasti,” tegas Melki.

Untuk memperkuat akses pasar, pemerintah daerah telah menghadirkan 11 NTT Mart sebagai etalase permanen produk unggulan NTT.

Tak berhenti pada ekonomi, Pemprov NTT juga melakukan intervensi besar di sektor perumahan rakyat. Pada tahun 2026, pemerintah menargetkan renovasi sekitar 31 ribu rumah tidak layak huni di desa dan kelurahan. Setiap rumah akan memperoleh bantuan Rp20 juta melalui skema kolaborasi fiskal antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, dan dana desa.

Skema gotong royong ini dinilai realistis dan berdampak langsung dalam menurunkan angka kemiskinan berbasis wilayah, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat di pedesaan.

Lebih lanjut Gubernur Melki menguraikan untuk bidang penguatan sumber daya manusia, Pemprov NTT menyiapkan pembangunan 10 sekolah vokasi berbasis asrama yang disesuaikan dengan potensi unggulan tiap daerah, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, garam, hingga energi baru terbarukan. Sekolah vokasi dirancang tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi melalui ekosistem produksi dan kewirausahaan.

“Anak-anak tidak hanya sekolah, tetapi juga belajar produktif dan mandiri di kampungnya sendiri,” ujar Melki.

Selain itu, pemerintah terus memperluas jaminan sosial dan kesehatan, termasuk perlindungan bagi 100.000 pekerja bukan penerima upah serta penguatan pelayanan kesehatan dasar melalui pelatihan sekitar 10.000 tenaga posyandu untuk penanganan stunting.

Gubernur Melki juga menyampaikan bahwa selain sektor pendidikan dan perumahan, peningkatan pembangunan infrastruktur Jalan dan jembatan penyediaan air bersih melalui sumur bor, serta perluasan jaringan listrik tetap menjadi prioritas utama, terutama bagi wilayah terpencil. Pemerintah daerah juga terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat agar program listrik gratis benar-benar menjangkau masyarakat yang selama ini belum tersentuh layanan dasar.

Mengakhiri pertemuan bersama insan pers, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menekankan peran strategis media sebagai jembatan antara kebijakan dan rakyat.

Ia berharap media aktif mengawal pelaksanaan program Dasa Cita agar setiap kebijakan berdampak nyata bagi masyarakat.

Senada, Wakil Gubernur Johni Asadoma meminta dukungan media dalam mengawasi program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) agar tepat sasaran. Ia juga mendorong media mengedukasi masyarakat taat bayar pajak dan edukasi kesehatan yang berkelanjutan memperkuat kesadaran perilaku hidup sehat, penggunaan alat pencegahan, serta pemahaman cara penularan HIV yang benar. Ketika kualitas layanan dan literasi kesehatan meningkat, masyarakat lebih berdaya melindungi diri dan lingkungannya, sehingga laju penularan HIV/AIDS dapat ditekan secara signifikan.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *