Gubernur Melki Turun Tangan Percepat Huntap Korban Lewotobi, 3 Lokasi Jadi Fokus

IMG-20260908-WA0013

Flores, SonafNTT-News.com — Penanganan masyarakat terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki kembali menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Mengawali rangkaian kegiatan berkantor di Pulau Flores selama sepekan, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena turun langsung mendorong percepatan pembangunan Hunian Tetap (Huntap) bagi warga terdampak di Kabupaten Flores Timur.Turut hadir Kepala Dinas PUPR Provinsi NTT Benyamin Nahak, Kepala Dinas Pertanian Joaz Bily Oemboe Wanda, Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi NTT Selfi H. Nange, Plt. Kepala Bapperida Theresia Maria Florensia, Plt. Kepala Biro Administrasi Pimpinan Yohanes Abrianto Kore serta Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Stefania T. Boro.

Langkah tersebut menjadi penting mengingat ribuan kepala keluarga hingga kini masih menanti kepastian penanganan pascaerupsi yang melanda sejumlah wilayah Flores Timur sejak akhir Desember 2024.

Dalam Rapat Koordinasi bersama Pemerintah Kabupaten Flores Timur yang berlangsung di Kantor Bank NTT Cabang Sikka, Maumere, Senin (7/9/2026) malam, Gubernur Melki menegaskan bahwa persoalan administrasi dan pertanahan tidak boleh terus menjadi penghambat pembangunan Huntap.

“Ini kita harus kerja cepat. Dari sisi pertanahan harus segera diselesaikan, karena pembangunan rumah dan fasilitas pendukungnya tidak boleh terus tertahan oleh persoalan administrasi,” tegas Gubernur Melki.

2.310 KK Terdampak, Ribuan Warga Menanti Kepastian

Sejak erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki, sebanyak enam desa di Kecamatan Ile Bura dan Wulanggitang terdampak. Tercatat 2.310 kepala keluarga masuk dalam kelompok masyarakat terdampak.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 238 kepala keluarga memilih melakukan relokasi secara mandiri. Sementara masyarakat terdampak lainnya direncanakan mendapatkan penanganan melalui pembangunan kawasan Huntap dengan skema relokasi terpadu.

Angka tersebut menunjukkan besarnya pekerjaan pemerintah dalam memastikan masyarakat terdampak tidak hanya mendapatkan tempat tinggal baru, tetapi juga memperoleh kepastian untuk kembali membangun kehidupan secara lebih aman dan layak.

Tiga Lokasi Menjadi Titik Percepatan

Pemerintah menyiapkan tiga lokasi Huntap di Kecamatan Titehena, Flores Timur. Ketiganya yakni Kuhe di Desa Konga serta Todo dan Walang di Desa Lewolaga. Selain itu, Lokasi Kuhe memiliki luas sekitar 5 hektare dan menjadi kawasan dengan perkembangan pengadaan tanah paling maju. Pemerintah Kabupaten Flores Timur telah menyelesaikan pembayaran ganti rugi. Tahapan berikutnya adalah sertifikasi tanah dan penyelesaian administrasi pertanahan.

Sementara itu, lokasi Todo memiliki luas sekitar 25,98 hektare. Proses identifikasi, inventarisasi dan pengumuman telah dilakukan. Tahapan berikutnya adalah penilaian serta penghitungan biaya ganti kerugian.

Adapun lokasi Walang dengan luas sekitar 22 hektar masih berada pada tahap persiapan administrasi pertanahan dan Jika digabungkan, ketiga lokasi tersebut memiliki luas sekitar 52,98 hektare.

Gubernur Tak Ingin Huntap Terus Tertunda

Percepatan pembangunan Huntap kini menjadi pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Bagi masyarakat terdampak, rumah bukan sekadar bangunan, tetapi simbol kepastian setelah kehidupan mereka terguncang akibat bencana.
Karena itu, instruksi Gubernur Melki agar seluruh proses pertanahan dan administrasi dipercepat menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah ingin mendorong proyek Huntap masuk ke tahap pembangunan fisik sesegera mungkin.

Pemerintah Kabupaten Flores Timur juga menargetkan pembangunan 244 unit rumah di Kuhe pada tahun ini. Karena itu, seluruh pihak diminta mempercepat penyelesaian berbagai tahapan yang masih menjadi kendala.

Gubernur menegaskan bahwa pembangunan Huntap tidak boleh dipahami semata-mata sebagai pembangunan rumah.
Kawasan relokasi harus dipersiapkan sebagai kawasan kehidupan baru yang dilengkapi dengan akses jalan, air bersih, sanitasi, fasilitas pendidikan dan kesehatan, rumah ibadah serta sarana pendukung kehidupan dan mata pencaharian masyarakat.

“Kita tidak boleh hanya fokus membangun rumah. Setelah masyarakat pindah, mereka harus bisa hidup dengan baik. Karena itu pendidikan, kesehatan, air bersih, jalan dan mata pencaharian masyarakat harus dipikirkan sejak awal,” ujar Gubernur.

Kebutuhan pembangunan jalan, jembatan, irigasi, saluran irigasi, embung kecil dan sumber air bersih juga diminta untuk segera didata secara lengkap agar dapat dikoordinasikan dan diperjuangkan bersama kepada Pemerintah Pusat.

Penanganan pasca bencana di dua kecamatan terdampak, Ile Bura dan Wulanggitang, harus dilakukan secara terpadu, mencakup perumahan, pendidikan, kesehatan, air bersih, infrastruktur serta pemulihan sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kelautan dan perikanan.

Pendidikan dan Kesehatan Tetap Berjalan

Dalam rapat tersebut, Wakil Bupati Flores Timur Ignatius Boli Uran menjelaskan bahwa pelayanan pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat terdampak tetap berjalan di kawasan hunian sementara.

Pemerintah Provinsi NTT juga telah memberikan perhatian khusus terhadap keberlanjutan pendidikan anak-anak penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki. Kebijakan pembebasan iuran pendidikan bagi siswa SMA dan SMK negeri penyintas erupsi telah dikeluarkan melalui kebijakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT.

Kebijakan tersebut sejalan dengan Peraturan Gubernur NTT Nomor 53 Tahun 2025 tentang Pendanaan Pendidikan SMA, SMK dan SLB yang mengatur prinsip subsidi silang dan pembebasan biaya bagi peserta didik dari keluarga tidak mampu serta kelompok yang mengalami kondisi khusus, termasuk korban bencana.

Meski pelayanan pendidikan tetap berjalan, sejumlah fasilitas pendidikan di wilayah terdampak mengalami kerusakan dan masih membutuhkan penanganan lebih lanjut. Perhatian juga diberikan kepada sekolah-sekolah swasta yang menghadapi tantangan pembiayaan operasional dan tenaga pendidik.

Pemerintah Provinsi NTT bersama Pemerintah Kabupaten Flores Timur akan terus mendata dan mengkoordinasikan kebutuhan rehabilitasi fasilitas pendidikan agar seluruh anak terdampak tetap memperoleh hak pendidikan secara layak

Antisipasi Musim Hujan

Menjelang musim hujan, Pemerintah Kabupaten Flores Timur juga menyampaikan perlunya langkah-langkah preventif untuk melindungi masyarakat yang masih berada di hunian sementara.

Ancaman banjir dan lahar dingin menjadi salah satu risiko yang perlu diantisipasi melalui langkah mitigasi dan kesiapan infrastruktur.

Karena itu, pembangunan akses jalan, penyediaan sumber air bersih serta berbagai sarana perlindungan masyarakat menjadi bagian dari kebutuhan yang harus segera ditangani.

Dari Bantuan menuju Pemulihan Ekonomi

Selain pembangunan hunian dan fasilitas dasar, rapat koordinasi tersebut juga memberi perhatian pada pemulihan ekonomi masyarakat.

Sebagian besar masyarakat terdampak menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Pemerintah Provinsi NTT akan mendukung upaya pemulihan melalui bantuan pertanian, termasuk pengembangan mata pencaharian dan kemungkinan dukungan sewa lahan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Di sektor kelautan dan perikanan, pemerintah juga akan melihat peluang pengembangan mata pencaharian masyarakat, terutama bagi warga yang kini berada di kawasan dekat pesisir.

Pemulihan ekonomi juga akan memperhatikan UMKM terdampak dan berbagai kemungkinan dukungan bagi masyarakat, termasuk relaksasi kredit sesuai ketentuan dan mekanisme yang berlaku.

Dalam proses pemulihan tersebut, perhatian khusus juga diberikan kepada perempuan kepala keluarga dan kelompok rentan lainnya.

Pemerintah memandang kelompok tersebut memiliki beban yang lebih besar karena harus tetap memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus menjalankan tanggung jawab domestik.

Karena itu, pembangunan kawasan relokasi harus diarahkan untuk membangun ketahanan masyarakat secara menyeluruh, dengan mengintegrasikan kebutuhan pangan, pengembangan ekonomi dan keberlanjutan kehidupan warga.

Selain pembangunan relokasi terpadu, pembangunan Huntap melalui skema relokasi mandiri juga terus berjalan. Pada Tahap I, tercatat pembangunan delapan unit rumah di sejumlah desa. Tiga unit telah selesai 100 persen, sementara lima unit lainnya masih dalam berbagai tahapan pembangunan.

Wakil Bupati Flores Timur Ignatius Boli Uran menyampaikan terima kasih atas perhatian dan dukungan Gubernur NTT beserta jajaran Pemerintah Provinsi NTT.

“Kami berterima kasih atas perhatian Pak Gubernur dan jajaran Pemerintah Provinsi NTT. Pertemuan ini juga mengingatkan kami bahwa penanganan tidak boleh hanya berfokus pada Huntap, tetapi juga harus mempersiapkan fasilitas dan kehidupan masyarakat setelah mereka direlokasi,” ujar Wakil Bupati.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Flores Timur terus berupaya maksimal dalam menangani masyarakat terdampak dan berharap dukungan Pemerintah Provinsi NTT dapat mempercepat berbagai kebutuhan yang masih harus diselesaikan.

Rapat koordinasi tersebut menjadi langkah awal rangkaian kegiatan Gubernur NTT berkantor di Pulau Flores selama sepekan.

Dari Maumere, koordinasi dimulai untuk memastikan penanganan Lewotobi terus bergerak dari fase tanggap darurat menuju pemulihan yang menyeluruh—bukan hanya membangun rumah, tetapi membangun kembali kehidupan masyarakat.

Menutup rapat koordinasi tersebut, Gubernur Melki Laka Lena menegaskan bahwa seluruh jajaran pemerintah harus bekerja bersama dan memastikan proses pemulihan masyarakat terdampak Lewotobi berjalan lebih cepat dan terukur.

“Kita harus pastikan masyarakat tidak terlalu lama hidup dalam ketidakpastian. Semua yang menjadi kewenangan kita, baik Pemerintah Kabupaten maupun Pemerintah Provinsi, harus kita kerjakan bersama-sama. Kita percepat Huntapnya, kita siapkan fasilitasnya, dan yang paling penting, kita bantu masyarakat untuk kembali membangun kehidupannya,” tegas Gubernur.

Menurut Gubernur, pembangunan Hunian Tetap harus menjadi pintu masuk bagi pemulihan yang lebih besar. Pemerintah tidak hanya berkewajiban menyediakan tempat tinggal yang aman, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki akses terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan dan sumber penghidupan yang berkelanjutan.

“Kita ingin masyarakat yang terdampak bukan hanya pindah dari satu tempat ke tempat lain. Mereka harus benar-benar memiliki kesempatan untuk memulai kehidupan yang baru dan lebih baik. Karena itu, semua sektor harus bergerak bersama,” pungkas Gubernur.

Exit mobile version