daerah

Hari Bumi 2026: Anggota DPR RI Usman Husin Serukan Aksi Nyata Selamatkan Alam NTT

Jakarta, SonafNTT-News.com. Momentum Hari Bumi 2026 menjadi panggung penting bagi Anggota DPR RI Usman Husin untuk kembali menggugah kesadaran publik—khususnya masyarakat Nusa Tenggara Timur—tentang kondisi lingkungan di masa kini dan masa yang akan datang yang perlu penanganan bersama.

Dalam pesannya rabu 22/4/2025 Anggota Komisi IV DPR RI Usman Husin menegaskan bahwa relasi manusia dengan alam bukanlah hubungan sepihak. Ia mengingatkan, apa yang selama ini dianggap “warisan leluhur” sejatinya adalah titipan dari generasi mendatang.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan bahwa Gunung Mutis—kawasan yang selama ini dikenal sebagai jantung ekosistem di Pulau Timor. Gunung ini bukan sekadar bentang alam, tetapi sumber kehidupan bagi ribuan petani yang bergantung pada ketersediaan air dan keseimbangan lingkungan.

Ia menyebut, Sebagai daerah tangkapan air utama, Gunung Mutis memainkan peran vital yang tak tergantikan. Dari kawasan hutan ini mengalir kehidupan melalui puluhan sungai, termasuk Sungai Noelmina dan Sungai Benain. Air dari hulu Mutis menghidupi ribuan hektare lahan pertanian serta memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di berbagai kabupaten. Jika kawasan ini rusak, dampaknya bukan lagi lokal—melainkan krisis air berskala regional di Nusa Tenggara Timur.

Tak hanya soal air, Mutis juga dikenal sebagai benteng terakhir keanekaragaman hayati di Pulau Timor. Hutan Ampupu yang didominasi Eucalyptus urophylla dan keberadaan cendana menjadi simbol kekayaan flora endemik yang semakin langka. Di dalamnya hidup berbagai satwa khas seperti Rusa Timor dan Kuskus Abu, serta puluhan spesies burung yang kini terancam punah. Kehilangan habitat di Mutis berarti mempercepat kepunahan yang tak bisa dipulihkan.

Usman secara konsisten memperingatkan bahwa ancaman eksploitasi di kawasan ini bisa berdampak sistemik: dari krisis air hingga menurunnya produktivitas pertanian.

Ia menekankan pada aksi nyata, bukan sekadar wacana. Ia mendorong semua pihak—pemerintah daerah, masyarakat, hingga pelaku usaha—untuk berhenti melihat alam sebagai objek ekonomi semata. Dalam konteks Nusa Tenggara Timur yang rentan terhadap perubahan iklim dan degradasi lahan yang harus di di rawat bersama dengan mengoptimalkan tugas dan peran masing-masing secara efektif  yang berbasis data sehingga alam bisa di di lindungi dengan baik dan berkelanjutan bagi generasi di masa mendatang.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *