Ketua Fraksi NasDem DPRD NTT: Jangan Bangun SLB Tanpa Guru Profesional, Anak Disabilitas Berhak Dapat Pendidikan Berkualitas

IMG-20260707-WA0020

Kupang, SonafNTT-News.com. Ketua Fraksi NasDem DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Drs. Kasimirus Kolo, menegaskan bahwa pembangunan Sekolah Luar Biasa (SLB) tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan gedung dan fasilitas fisik. Pemerintah, khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, diminta memastikan tersedianya tenaga pendidik yang profesional dan memiliki kompetensi khusus dalam mendampingi serta mengajar anak-anak berkebutuhan khusus.

Hal ini disampaikan Kasimirus Kolo kepada wartawan, Selasa (7/7/2026). Menurutnya, masih banyak persoalan mendasar dalam penyelenggaraan pendidikan bagi penyandang disabilitas yang belum mendapatkan perhatian secara serius, terutama terkait ketersediaan guru yang memiliki keahlian khusus.

“Berdasarkan pantauan di lapangan, kesiapan pemerintah dalam menyiapkan guru untuk memberikan edukasi kepada anak-anak disabilitas masih belum diperhatikan dengan baik. Karena itu, setiap pembangunan fasilitas pendidikan, khususnya SLB, harus diawali dengan kajian yang matang, termasuk menyiapkan guru-guru yang terampil agar anak-anak dapat belajar secara optimal,” tegasnya.

Anggota DPRD NTT yang telah mengemban amanah selama tiga periode itu menilai Dinas Pendidikan perlu segera melakukan pemetaan kebutuhan guru di seluruh wilayah NTT. Sekolah yang mengalami kelebihan tenaga pendidik, menurutnya, dapat menjadi sumber redistribusi bagi sekolah-sekolah yang masih kekurangan guru.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa solusi jangka menengah dan jangka panjang harus diarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pemerintah perlu memberikan kesempatan kepada guru-guru umum untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan khusus sehingga memiliki kompetensi mengajar peserta didik berkebutuhan khusus.

“Jangan memaksakan guru dengan latar belakang pendidikan umum mengajar di SLB tanpa kompetensi yang memadai. Guru SLB harus memiliki keahlian khusus, memahami karakter setiap anak disabilitas, serta mampu menerapkan metode pembelajaran yang sesuai. Mengajar anak berkebutuhan khusus membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan kesabaran yang tinggi, bukan sekadar berdiri di depan kelas,” ujarnya.

Menurut Kasimirus, pendidikan merupakan hak setiap warga negara, termasuk anak-anak penyandang disabilitas. Karena itu, pemerintah harus membuka ruang yang lebih luas agar mereka memperoleh layanan pendidikan yang layak, bermutu, dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Ia juga mengakui bahwa hingga saat ini jumlah guru yang memiliki kompetensi khusus di bidang pendidikan luar biasa masih sangat terbatas. Kondisi tersebut menjadi tantangan besar yang harus segera dijawab melalui kebijakan yang berpihak pada peningkatan kualitas pendidikan inklusif.

Dalam kesempatan yang sama, Kasimirus Kolo yang juga ketua DPD II Partai Nasdem Kabupaten Belu memberikan apresiasi kepada para orang tua murid yang secara sukarela menyetujui dana komite untuk membantu membiayai guru-guru yang belum dibiayai pemerintah.

“Saya mengapresiasi kepedulian para orang tua. Ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki komitmen besar dalam menyiapkan generasi yang cerdas. Namun, tanggung jawab utama tetap berada di tangan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan tenaga pendidik yang berkualitas,” katanya.

Selain menyoroti persoalan tenaga pendidik, Kasimirus juga mengkritisi pembangunan sebuah SLB milik Pemerintah Provinsi NTT di Desa Naiola, Kabupaten Timor Tengah Utara. Menurutnya, sekolah tersebut dibangun jauh dari pemukiman warga sehingga mengalami kesulitan memperoleh peserta didik.

“Saya pernah berkunjung ke sana. Sekolahnya ada, tetapi siswanya hampir tidak ada. Bahkan guru harus mencari anak-anak disabilitas agar mau bersekolah. Ini menjadi contoh bahwa perencanaan pembangunan pendidikan belum dilakukan secara matang,” ungkapnya.

Ia menilai kondisi tersebut harus menjadi pelajaran bagi pemerintah agar setiap pembangunan sekolah didasarkan pada kajian kebutuhan masyarakat, aksesibilitas, serta jumlah calon peserta didik, sehingga anggaran yang digunakan benar-benar memberikan manfaat.

Di akhir pernyataannya, Kasimirus mendesak Dinas Pendidikan Provinsi NTT untuk memperkuat koordinasi, kepemimpinan, dan tata kelola pendidikan. Ia juga meminta penataan kembali sekolah-sekolah yang memiliki izin operasional namun dibangun tanpa mempertimbangkan kebutuhan riil masyarakat.

Bagi Kasimirus Kolo, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari banyaknya gedung sekolah yang berdiri, tetapi dari sejauh mana sekolah mampu menghadirkan layanan pendidikan yang berkualitas bagi seluruh anak, termasuk penyandang disabilitas.

“Membangun gedung itu penting, tetapi membangun kualitas guru jauh lebih penting. Sebab di tangan guru yang profesional, masa depan anak-anak disabilitas dapat dibentuk dengan lebih baik,” pungkasnya.

Exit mobile version