daerah

Komisi III dan Bank NTT, Bahas Capaian Kinerja 2025 dan Peta Jalan Pendapatan 2026

Kupang, SonafNTT-News.com. Komisi III DPRD menggelar rapat kerja bersama PT Bank NTT untuk membahas realisasi pendapatan tahun 2025 sekaligus memetakan arah dan target pendapatan tahun 2026. Rapat yang berlangsung di Ruang Rapat Komisi III pada Rabu (21/1/2026) ini menjadi forum penting untuk mengevaluasi kinerja serta memperkuat peran Bank NTT sebagai motor penggerak perekonomian daerah.

Rapat dipimpin langsung oleh Ketua Komisi III Yohanes De Rosari, SE, didampingi Wakil Ketua Komisi III Kristoforus Loko, S.Fil, serta anggota Komisi III Pata Vinsensius, SH., MM. Dalam suasana rapat yang berlangsung dinamis, Komisi III menyoroti capaian kinerja Bank NTT sepanjang tahun 2025, termasuk realisasi pendapatan, efektivitas manajemen, serta tantangan yang dihadapi di tengah dinamika ekonomi.

Ketua Komisi III Yohanes De Rosari menegaskan bahwa evaluasi ini penting untuk memastikan Bank NTT tetap berada pada jalur yang sehat dan produktif.

Ia meminta manajemen Bank NTT tidak hanya fokus pada capaian angka, tetapi juga pada kualitas pengelolaan, inovasi layanan, serta kontribusi nyata terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi III Kristoforus Loko menekankan perlunya strategi yang lebih terukur dan realistis dalam menetapkan target pendapatan tahun 2026. Menurutnya, peta jalan pendapatan harus disusun berbasis potensi daerah, penguatan sektor produktif, serta optimalisasi layanan perbankan kepada masyarakat dan pemerintah daerah.

Komisi III berharap hasil rapat ini menjadi pijakan bagi Bank NTT untuk melakukan pembenahan dan terobosan yang berdampak langsung pada pertumbuhan pendapatan dan kepercayaan publik. Sinergi antara legislatif dan Bank NTT dinilai krusial agar target pendapatan tahun 2026 dapat tercapai secara optimal dan berkelanjutan.

Dalam rapat tersebut,  Direktur Utama pihak Bank NTT  Charlie Paulus memaparkan kinerja pendapatan tahun 2025 beserta langkah-langkah strategis yang telah dan akan dilakukan untuk meningkatkan kinerja di tahun 2026. Penguatan manajemen risiko, digitalisasi layanan, serta ekspansi pembiayaan ke sektor-sektor potensial menjadi bagian dari strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah di masa mendatang dengan memanfaatkan potensi yang ada.

 

Penurunan dividen Bank NTT tahun buku 2025 menjadi sekitar Rp29,6 miliar bukan sekadar kabar ekonomi. Bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur, angka ini adalah cermin bersama—tentang tantangan yang sedang kita hadapi dan tanggung jawab kolektif untuk bangkit serta membangun NTT dengan lebih sungguh.

 

 

Direktur Utama Bank NTT, Charli Paulus, menyampaikan bahwa dividen selalu mencerminkan laba. Ketika dividen menurun, itu berarti kinerja belum seperti yang diharapkan. Menurutnya, pembangunan daerah hanya bisa berdiri di atas keterbukaan dan keberanian mengakui kenyataan.

 

 

Bank NTT bukan sekadar lembaga keuangan. Ia adalah milik kita bersama, milik pemerintah daerah dan masyarakat NTT. Setiap rupiah dividen yang dihasilkan sejatinya kembali untuk membiayai pembangunan—jalan, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik di desa-desa hingga kota-kota di NTT. Karena itu, ketika dividen turun, dampaknya dirasakan oleh seluruh masyarakat.

 

 

Charli menjelaskan bahwa sepanjang 2025, kinerja bank tertekan oleh beberapa faktor. Pertama, pertumbuhan kredit yang melambat, terutama akibat ketidakstabilan manajemen pada paruh pertama tahun. Situasi ini membuat fokus pengelolaan bank terganggu dan peluang ekonomi belum dimanfaatkan secara optimal. Ini menjadi pelajaran berharga: stabilitas kepemimpinan adalah kunci kepercayaan dan pertumbuhan.

 

 

Faktor kedua adalah penurunan kualitas kredit. Ketika kredit bermasalah meningkat, bank harus bersikap hati-hati dan menambah cadangan kerugian. Langkah ini memang menekan laba, tetapi sekaligus menunjukkan komitmen untuk menjaga bank tetap sehat dan berkelanjutan. Dalam jangka panjang, kehati-hatian ini justru melindungi kepentingan masyarakat NTT.

 

 

Faktor ketiga adalah pembenahan laporan keuangan secara jujur dan transparan. Manajemen baru memilih mengakui kewajiban yang selama ini belum tercatat, termasuk utang kepada pihak ketiga dan cadangan pajak. Laporan keuangan mungkin tampak lebih berat, tetapi inilah fondasi penting untuk membangun kepercayaan publik.

 

 

“banyak hal yang harus di benahi bersama,” pesan Charli, yang sesungguhnya mencerminkan semangat baru: membangun Bank NTT tanpa menutup-nutupi masalah.

 

Dalam rapat bersama DPRD NTT, muncul pula dorongan agar pelayanan bank lebih mendekatkan diri kepada masyarakat, termasuk usulan membuka layanan di luar jam kerja. Namun manajemen mengingatkan bahwa setiap kebijakan harus dihitung secara matang agar niat baik tidak justru membebani keuangan bank. Di sinilah pentingnya dialog dan saling memahami antara pemerintah, bank, dan masyarakat.

 

 

Meski menghadapi tantangan, harapan tetap terbuka. Dengan manajemen yang kini lebih solid dan strategi percepatan kredit sejak awal 2026, Bank NTT memproyeksikan dividen meningkat menjadi sekitar Rp43,6 miliar. Target ini bukan sekadar angka, tetapi janji kerja keras dan disiplin.

 

 

Momentum ini seharusnya menjadi panggilan bagi semua pihak—pemerintah daerah, DPRD, pelaku usaha, ASN, dan masyarakat—untuk bersatu mendukung Bank NTT. Menjaga kepercayaan, menggunakan layanan bank daerah, dan mengawasi secara konstruktif adalah bagian dari cinta kita kepada NTT.

 

 

Penurunan dividen hari ini bukan akhir cerita. Ia adalah titik refleksi. Dengan kejujuran, kebersamaan, dan tekad yang sama, Bank NTT dapat kembali kuat—dan bersama itu, NTT bisa melangkah lebih maju, adil, dan sejahtera.

 

 

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *