Leonardo Sirait Temui Bupati Taput, Usung Solusi Ubah 40 Ton Sampah per Hari Jadi Sumber Ekonomi Rakyat

IMG-20260623-WA0018

Sumut, SonafNTT-News.com. Agenda lingkungan dan kesejahteraan petani menjadi fokus dalam pertemuan strategis antara Ketua Umum DPP Laskar Gibran, Leonardo Pandapotan Sirait, bersama Bupati Tapanuli Utara, Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat. Pertemuan tersebut menarik perhatian publik karena menghadirkan gagasan konkret untuk menjawab dua persoalan besar yang selama ini dihadapi masyarakat, yakni pengelolaan sampah dan rendahnya kesejahteraan petani saat musim panen raya.

Salah satu agenda yang menjadi prioritas utama adalah produksi sampah di Kabupaten Tapanuli Utara yang mencapai sekitar 40 ton per hari. Angka tersebut dinilai cukup besar dan berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan serius apabila tidak ditangani secara terintegrasi. Mulai dari pencemaran lingkungan, penurunan kualitas kesehatan masyarakat, hingga terganggunya sektor pariwisata dan pertanian dapat menjadi dampak yang muncul akibat buruknya pengelolaan sampah.

Dalam pertemuan itu, Leonardo Sirait menawarkan sejumlah rencana strategis pengelolaan sampah terpadu berbasis ekonomi sirkular, sebuah pendekatan yang memandang sampah bukan sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Melalui teknologi pengolahan yang ramah lingkungan, sampah organik dapat diubah menjadi pupuk, sementara jenis sampah tertentu dapat diolah menjadi energi alternatif maupun produk turunan lainnya yang memiliki nilai jual.

Menurut Leonardo, paradigma baru dalam pengelolaan sampah harus mulai diterapkan oleh daerah-daerah di Indonesia. Ia menegaskan bahwa sampah yang selama ini dianggap masalah justru dapat menjadi peluang ekonomi baru yang membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

“Sampah harus diubah menjadi berkah. Dengan teknologi dan manajemen yang tepat, sampah dapat menjadi pupuk untuk pertanian dan sumber energi alternatif yang memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Ini bukan hanya solusi lingkungan, tetapi juga solusi ekonomi,” ujar Leonardo.

Selain agenda lingkungan, perhatian besar juga diberikan terhadap sektor pertanian. Dalam diskusi tersebut, muncul kekhawatiran terkait semakin berkurangnya minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian. Padahal, sektor ini merupakan tulang punggung perekonomian masyarakat Tapanuli Utara.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Laskar Gibran memperkenalkan gagasan Petani Generasi Muda (Petani Gen Z) yang bertujuan mengubah citra pertanian menjadi sektor yang modern, produktif, dan memiliki prospek ekonomi menjanjikan. Program ini diharapkan mampu menarik minat anak-anak muda agar tidak meninggalkan sektor pertanian dan justru menjadi pelaku utama dalam transformasi pertanian berbasis teknologi.

Tak hanya itu, persoalan anjloknya harga hasil panen saat musim panen raya juga menjadi pembahasan serius. Selama ini, petani kerap menghadapi situasi paradoks: ketika hasil panen melimpah, harga justru turun drastis sehingga keuntungan yang diperoleh sangat minim. Kondisi tersebut diduga dipengaruhi oleh panjangnya rantai distribusi dan lemahnya posisi tawar petani di pasar.

Sebagai solusi, Laskar Gibran menawarkan sejumlah langkah strategis, mulai dari penguatan kelembagaan petani, pengembangan koperasi modern, digitalisasi pemasaran hasil pertanian, pembangunan sistem gudang penyimpanan yang memadai, hingga perluasan akses pasar langsung kepada konsumen maupun industri.

“Petani tidak boleh terus menjadi pihak yang dirugikan. Ketika panen melimpah, harga justru jatuh. Ini harus diselesaikan dengan sistem yang lebih adil. Laskar Gibran siap menghadirkan solusi berbasis teknologi, kemitraan, dan penguatan kelembagaan petani agar kesejahteraan mereka meningkat,” tegas Leonardo.

Sementara itu, Bupati Tapanuli Utara Dr. Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat, S.Si., M.Si. menyambut positif berbagai agenda yang disampaikan. Pemerintah daerah melihat adanya peluang besar untuk membangun kolaborasi yang mampu menghadirkan program nyata bagi masyarakat, khususnya dalam bidang pengelolaan lingkungan dan penguatan sektor pertanian.

Menurutnya, Pertemuan ini dinilai bukan sekadar ajang silaturahmi politik, melainkan langkah awal membangun sinergi antara organisasi kemasyarakatan dan pemerintah daerah dalam menghadirkan solusi terhadap persoalan riil yang dihadapi masyarakat. Jika berbagai gagasan tersebut dapat diwujudkan secara konkret, Tapanuli Utara berpotensi menjadi salah satu daerah percontohan dalam pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular dan pengembangan pertanian modern yang melibatkan generasi muda.

Ia menegaskan bahwa Kolaborasi ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong terwujudnya pembangunan berkelanjutan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat menuju visi besar Indonesia Emas 2045. Dengan pendekatan yang mengintegrasikan aspek lingkungan, ekonomi, dan pemberdayaan generasi muda, harapan untuk menciptakan daerah yang lebih maju dan mandiri semakin terbuka lebar guna merawat lingkungan dan memperkuat sinergi  bersama seluruh komponen dalam bangsa dan daerah  ke arah yang lebih produktif dengan memanfaatkan potensi  do seluruh aspek

Exit mobile version