Menteri Dody Cek Langsung Infrastruktur Wanam, Target November 2026 Panen Perdana 40 Hektar

Screenshot_20261016-132645_Instagram

Papua Selatan, SonafNTT-News.com —Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional terus didorong melalui pembangunan infrastruktur pertanian di berbagai wilayah Indonesia. Salah satu langkah strategis tersebut terlihat di Kawasan Sentra Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional (KSPEAN) Wanam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, yang kini terus dikembangkan sebagai calon lumbung pangan baru nasional.

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo saat meninjau langsung kawasan tersebut menyampaikan bahwa Kunjungan kerja ini untuk memastikan kesiapan infrastruktur pendukung pertanian, khususnya jaringan irigasi rawa dan infrastruktur pengendali banjir.

“Peninjauan ini menjadi bagian penting dalam memastikan ketersediaan air tawar tetap terjaga, termasuk saat musim kemarau, sehingga aktivitas pertanian dapat berjalan secara berkelanjutan” ujarnya

Menurutnya, Kesiapan infrastruktur air menjadi faktor krusial dalam pengembangan kawasan pertanian berskala luas. Tanpa dukungan jaringan irigasi yang memadai dan sistem pengendalian banjir yang berfungsi baik, produktivitas lahan pertanian akan menghadapi berbagai tantangan, terutama di kawasan rawa seperti Wanam.

Karena itu, pembangunan infrastruktur dasar tidak hanya diarahkan untuk membuka lahan pertanian baru, tetapi juga memastikan lahan yang telah ditanami mampu melewati setiap tahapan budidaya hingga memasuki masa panen.

Progres Saluran Irigasi Capai 133 Kilometer

Pembangunan jaringan saluran di Merauke terus menunjukkan perkembangan. Hingga Oktober 2026, realisasi pembangunan saluran telah mencapai 133 kilometer dari target keseluruhan 180 kilometer.

Capaian tersebut setara dengan sekitar 73,9 persen dari target pembangunan. Sementara itu, pekerjaan lanjutan tetap menjadi bagian penting untuk memastikan jaringan infrastruktur air dapat mendukung kebutuhan kawasan pertanian sesuai dengan tahapan pengembangannya.

Kehadiran jaringan saluran irigasi rawa diharapkan dapat membantu menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian. Di sisi lain, infrastruktur pengendali banjir juga memiliki peran penting dalam mendukung pengelolaan tata air agar kegiatan pertanian dapat berlangsung secara lebih terencana.

Peninjauan langsung oleh Menteri PU menjadi momentum untuk melihat perkembangan pembangunan di lapangan sekaligus memastikan infrastruktur yang disiapkan dapat mendukung kebutuhan operasional kawasan.

Lahan 40 Hektar Bersiap Memasuki Panen Perdana

Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian dalam pengembangan KSPEAN Wanam adalah penanaman lahan percontohan atau demplot seluas 40 hektare di KM 21.

Lahan tersebut telah memasuki tahap penanaman dan ditargetkan menjalani panen perdana pada pertengahan November 2026.

Target ini menjadi salah satu tahapan penting dalam pengembangan kawasan Wanam. Panen perdana diharapkan menjadi bagian dari evaluasi awal terhadap pelaksanaan budidaya di lahan percontohan, sekaligus memberikan gambaran mengenai kesiapan dukungan infrastruktur pertanian yang telah dibangun.

Lanjut dijelaskan bahwa Ketersediaan air, kesiapan lahan, dan dukungan sarana pertanian merupakan sejumlah faktor yang berperan dalam keberhasilan proses budidaya hingga panen. Oleh sebab itu, pembangunan infrastruktur irigasi dan pengelolaan tata air menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya mengembangkan kawasan pertanian produktif..

Meski demikian, keberhasilan panen tetap bergantung pada kondisi tanaman, pelaksanaan budidaya, ketersediaan air, serta faktor teknis lainnya di lapangan.

KSPEAN Wanam dan Target Pengembangan 10.000 Hektar

Pengembangan KSPEAN Wanam merupakan bagian dari program Quick Win seluas 10.000 hektar yang diarahkan untuk mendukung pembentukan lumbung pangan baru.

Program ini sejalan dengan upaya mewujudkan visi Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat cadangan pangan nasional. Melalui pengembangan kawasan pertanian dan penyediaan infrastruktur pendukung, Wanam diproyeksikan berkontribusi terhadap upaya meningkatkan kapasitas produksi pangan nasional.

Dalam konteks tersebut, pembangunan infrastruktur air memiliki arti strategis. Jaringan irigasi yang memadai diperlukan untuk mendukung kegiatan pertanian, sedangkan sistem pengendalian banjir membantu mengelola risiko genangan yang berpotensi mengganggu pemanfaatan lahan.

“ Integrasi berbagai infrastruktur tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan kawasan secara bertahap, mulai dari lahan percontohan hingga perluasan areal pertanian sesuai dengan rencana dan kesiapan di lapangan” ujarnya

Sementara Pengembangan kawasan juga perlu ditopang oleh koordinasi lintas sektor agar pembangunan infrastruktur, kegiatan budidaya, serta kebutuhan operasional pertanian dapat berjalan selaras.

Pembangunan Harus Melibatkan Tenaga Kerja Lokal Papua

Selain berorientasi pada ketahanan pangan, pembangunan KSPEAN Wanam juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat setempat. Pembangunan kawasan ini diwajibkan melibatkan tenaga kerja lokal Papua sebagai bagian dari pelaksanaan kegiatan di lapangan oleh karena itu Pelibatan tenaga kerja lokal menjadi aspek penting agar pembangunan infrastruktur tidak hanya berfokus pada penyediaan sarana fisik, tetapi juga membuka ruang partisipasi masyarakat Papua dalam proses pembangunan di wilayahnya.

Ia menegaskan bahwa Keterlibatan masyarakat setempat diharapkan dapat mendukung pelaksanaan pekerjaan sekaligus memperkuat hubungan antara pembangunan infrastruktur dan aktivitas ekonomi di kawasan sekitar.

Dengan demikian, pengembangan Wanam memiliki dimensi yang lebih luas: mendukung penyediaan infrastruktur pertanian, memperkuat upaya ketahanan pangan, dan melibatkan masyarakat lokal dalam proses pembangunan.

Menyiapkan Fondasi bagi Lumbung Pangan Masa Depan

Peninjauan Menteri PU Dody Hanggodo di KSPEAN Wanam menegaskan pentingnya kesiapan infrastruktur dalam mendukung pengembangan kawasan pertanian. Pembangunan saluran yang telah mencapai 133 kilometer, penanaman lahan percontohan seluas 40 hektare, serta target panen perdana pada pertengahan November 2026 menjadi bagian dari tahapan yang tengah berjalan sedangkan penyelesaian jaringan saluran sesuai target, pengelolaan tata air, serta kesiapan lahan akan menjadi elemen penting dalam mendukung keberlanjutan pengembangan kawasan tersebut.