Kefamenanu,SonafNTT-News.com.Komitmen Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, memasuki babak baru dalam pengembangan sektor pariwisata. Untuk pertama kalinya, pesawat Kefa Air resmi mendarat di Bandar Udara Jack Ukat, Sasi, Kecamatan Kota Kefamenanu, Rabu (15/7/2026), membuka akses udara yang selama ini dinantikan masyarakat dan pelaku wisata.
Pendaratan pesawat jenis Cessna 208B Grand Caravan EX berkapasitas 12 penumpang itu menjadi penanda dimulainya konektivitas udara menuju wilayah perbatasan Indonesia–Timor Leste. Pesawat lepas landas dari Bandara El Tari, Kupang, pukul 10.17 Wita dan tiba di Bandara Jack Ukat sekitar pukul 11.45 Wita.
Momen bersejarah tersebut disambut antusias ribuan warga yang telah memadati kawasan bandara sejak pagi. Tepuk tangan dan sorak-sorai pecah ketika roda pesawat menyentuh landasan. Banyak warga mengabadikan peristiwa itu menggunakan telepon genggam, sementara suasana penyambutan semakin semarak dengan penampilan drum band dan tarian daerah yang dibawakan para pelajar di Kota Kefamenanu.
Bupati Timor Tengah Utara, Yosep Falentinus Delasalle Kebo, menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, maskapai Kefa Air, dan seluruh pihak yang telah mendukung terwujudnya penerbangan perdana tersebut. Menurutnya, kehadiran jalur udara bukan sekadar menambah pilihan transportasi, melainkan menjadi fondasi penting bagi percepatan pembangunan daerah.
“Kehadiran penerbangan ini membuka akses yang lebih cepat dan efisien menuju TTU. Ini menjadi momentum untuk memperkenalkan potensi pariwisata, budaya, dan ekonomi daerah kepada masyarakat yang lebih luas,” ujarnya.
Selama ini, perjalanan darat dari Kupang menuju Kefamenanu membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima jam. Dengan adanya penerbangan perintis, waktu tempuh menjadi jauh lebih singkat. Kondisi ini dinilai akan meningkatkan daya saing TTU sebagai destinasi wisata baru di Nusa Tenggara Timur.
Kemudahan akses tersebut memberi peluang lebih besar bagi wisatawan domestik maupun mancanegara untuk menjelajahi berbagai destinasi unggulan yang selama ini relatif sulit dijangkau. Salah satunya adalah Wisata Batu Alam Bnoko Kaenbaun, yang menawarkan panorama batuan alami dengan lanskap khas Timor.
(Obyek Wisata Batu Alam Bnoko Kaenbaun,dok.istemewa, Rabu 14/7/2026)
Selain itu, wisatawan juga dapat mengunjungi Kampung Adat Tamkesi, yang dikenal sebagai salah satu pusat pelestarian budaya masyarakat Timor dengan rumah adat tradisional, nilai-nilai kearifan lokal, dan ritual budaya yang masih terjaga hingga kini.
Kabupaten TTU juga memiliki Bukit Tuamese dengan panorama alam terbuka yang menjadi favorit pencinta fotografi, Gunung Binoni yang dijuluki “negeri di atas awan” karena menawarkan pemandangan matahari terbit dari hamparan kabut, serta Pantai Tanjung Bastian yang terkenal dengan garis pantai berpasir putih dan ombak yang tenang.
Menurut Bupati Yosep, akses udara yang lebih cepat juga akan membuka peluang berkembangnya wisata minat khusus. Peneliti, fotografer, pecinta alam, hingga wisatawan yang memiliki waktu libur terbatas kini dapat menjangkau berbagai destinasi di TTU dengan lebih mudah.
Di sisi lain, terbukanya konektivitas udara diperkirakan memberi dampak berganda bagi perekonomian daerah. Kunjungan wisatawan berpotensi mendorong pertumbuhan usaha mikro, homestay, restoran, transportasi lokal, serta jasa pemandu wisata. Aktivitas ekonomi yang meningkat diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru sekaligus memperkuat Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Penerbangan perdana Kefa Air juga menjadi simbol bahwa wilayah perbatasan tidak lagi berada di pinggiran pembangunan. Dengan konektivitas yang semakin baik, TTU memiliki peluang untuk tumbuh sebagai destinasi wisata yang mengandalkan perpaduan keindahan alam, kekayaan budaya, dan keramahan masyarakat lokal.













