Saat Flores Diguncang Gempa, Yunus Takandewa Pilih Bergerak: Dari Instruksi Harian hingga Bantuan Menembus Wilayah Terdampak

182608-768x509

Flores, SonafNTT-News.com. Gempa yang mengguncang Flores bukan sekadar kabar tentang getaran bumi. Di balik kepanikan dan ketidakpastian warga, ada kebutuhan mendesak akan respons yang cepat, terkoordinasi, dan benar-benar menyentuh lapangan. Dalam situasi seperti ini, kepemimpinan diuji bukan lewat banyaknya pernyataan, melainkan melalui seberapa cepat instruksi berubah menjadi tindakan.

Ketua DPD PDI Perjuangan NTT Yunus Takandewa dalam keterangannya kepada awak media pada selasa 25/8/2026 ia memilih bergerak. Dari instruksi harian hingga pengawalan bantuan, respons yang dibangun menempatkan kebutuhan warga terdampak sebagai perhatian utama. Jajaran di lapangan didorong untuk memantau kondisi, menghimpun data, dan memastikan bantuan diarahkan ke wilayah yang membutuhkan.

Ia lanjut menyampaikan bahwa, Pendekatan tersebut penting karena penanganan bencana tidak berhenti pada distribusi bantuan. Data mengenai kondisi warga, akses menuju lokasi terdampak, kebutuhan pengungsi, hingga perkembangan situasi menjadi bagian penting agar respons tidak berjalan secara sporadis.

“Di tengah situasi yang berubah cepat, koordinasi menjadi kunci. Tiga pilar PDI Perjuangan didorong untuk mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing, terutama dalam membantu masyarakat dan memperkuat kerja kemanusiaan di lapangan” ujarnya

Yang menarik, gerakan ini tidak hanya berbicara tentang instruksi dari atas. Tantangan terbesar justru muncul ketika bantuan harus menembus wilayah terdampak, sementara kondisi geografis dan akses dapat menjadi hambatan. Di titik inilah kerja lapangan, gotong royong, dan komunikasi yang solid menjadi sangat menentukan.

Bagi warga yang sedang menghadapi bencana, bantuan bukan sekadar angka atau paket logistik. Kehadiran orang yang datang, mendengar keluhan, mencatat kebutuhan, dan memastikan bantuan sampai ke tujuan dapat menjadi bentuk dukungan moral yang sangat berarti.

Karena itu, langkah Yunus Takandewa dapat dibaca sebagai upaya membangun respons yang bergerak dari data menuju aksi. Instruksi harian menjadi pengingat agar jajaran tidak kehilangan fokus, sementara kerja lapangan menjadi ukuran nyata dari kepedulian terhadap warga terdampak.

Namun, dalam situasi bencana, seluruh upaya tetap membutuhkan koordinasi dengan pemerintah, lembaga kebencanaan, relawan, dan berbagai unsur masyarakat. Bantuan yang efektif harus berbasis kebutuhan dan tidak boleh mengabaikan keselamatan petugas maupun warga.

Ia menegaskan bahwa Flores sedang menghadapi masa sulit. Di tengah duka dan kecemasan, yang paling dibutuhkan masyarakat adalah kehadiran nyata, koordinasi, dan gotong royong. Ketika instruksi tidak berhenti di atas kertas dan bantuan benar-benar diupayakan menembus wilayah terdampak, di situlah kepemimpinan memperoleh makna yang sesungguhnya.

Bencana tidak hanya meninggalkan rumah-rumah yang rusak dan warga yang harus bertahan di tenda pengungsian. Di balik itu, ada kebutuhan dasar yang mendesak untuk segera dipenuhi: air bersih, pangan, tempat berlindung, dan pelayanan kemanusiaan.

Dalam situasi tersebut, Ketua DPD PDI Perjuangan NTT, Yunus Takandewa, menggerakkan kerja gotong royong kader, struktur partai, dan Badan Penanggulangan Bencana (BAGUNA) PDI Perjuangan untuk menyusuri sejumlah lokasi terdampak gempa M7,7 di Flores.

Kerja kemanusiaan itu bergerak dari satu kebutuhan ke kebutuhan lainnya. Dari distribusi air bersih di Maukaro, Kabupaten Ende, penyaluran pangan di Lela, Kabupaten Sikka, hingga aktivitas dapur umum yang melibatkan langsung jajaran pimpinan partai dan kader di lapangan.