Kupang, SonafNTT-News.com. Kabar menggembirakan datang bagi masyarakat Pulau Timor, khususnya pengguna Jalan Nasional Soe–Kefamenanu–Simpang Amol. Proyek penanganan longsor yang sempat mengganggu kelancaran arus transportasi kini menunjukkan perkembangan yang signifikan. Hingga akhir Juli 2026, progres pekerjaan telah mencapai 74 persen, melampaui target yang ditetapkan sebesar 70 persen.
Capaian tersebut menjadi indikator bahwa percepatan penanganan infrastruktur strategis nasional di Nusa Tenggara Timur (NTT) berjalan sesuai harapan. Ruas jalan ini merupakan salah satu jalur vital yang menghubungkan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), hingga kawasan perbatasan RI–Timor Leste.
Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (Satker P2JN) Wilayah II NTT, Fahrudin, ST., MT., menjelaskan bahwa penanganan longsoran di STA 123 telah selesai dikerjakan. Saat ini seluruh sumber daya difokuskan pada pekerjaan di STA 127, sebelum dilanjutkan dengan pekerjaan overlay guna meningkatkan kualitas dan kenyamanan badan jalan.
“Untuk STA 123 sudah selesai. Saat ini penggalian badan jalan dilakukan di STA 127 dan setelah selesai akan dilanjutkan dengan pekerjaan overlay,” ujar Fahrudin saat ditemui wartawan, Selasa (27/7/2026).
Menurutnya, pencapaian progres yang melampaui target merupakan hasil kerja sama yang solid antara Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.1.Heriyanto Junedy Hotty, ST konsultan pengawas, penyedia jasa konstruksi, dan seluruh tim teknis di lapangan.
“Progres sudah mencapai 74 persen dari rencana 70 persen. Progres sudah lumayan bagus, kinerja PPK bersama timnya bagus,” katanya.
Fahrudin menguraikan bahwa, Proyek preservasi Jalan Nasional Soe–Kefamenanu–Simpang Amol memiliki nilai kontrak sebesar Rp11,4 miliar. Anggaran tersebut tidak hanya digunakan untuk memperbaiki kerusakan akibat longsor, tetapi juga memastikan jalan tetap berada dalam kondisi mantap sehingga mampu melayani arus lalu lintas secara optimal dalam jangka panjang.
Menurutnya, Preservasi jalan merupakan bagian penting dari strategi pemerintah dalam menjaga kualitas infrastruktur. Melalui pemeliharaan yang berkelanjutan, umur layanan jalan dapat dipertahankan, risiko kerusakan berat dapat diminimalkan, serta biaya rehabilitasi di masa mendatang menjadi lebih efisien.
Ia juga menyebut, penanganan ruas Soe–Kefamenanu–Simpang Amol memiliki dampak strategis bagi perekonomian NTT. Jalur ini menjadi urat nadi distribusi hasil pertanian, peternakan, perdagangan, serta mobilitas masyarakat menuju pusat-pusat pertumbuhan ekonomi hingga kawasan perbatasan negara.
Kelancaran akses jalan diyakini akan menekan biaya logistik, mempercepat distribusi barang dan jasa, meningkatkan aktivitas perdagangan antardaerah, sekaligus membuka peluang investasi dan pengembangan sektor pariwisata di Pulau Timor.
Fahrudin menegaskan bahwa tujuan utama preservasi jalan nasional adalah menjaga agar fungsi jalan tetap optimal demi mendukung konektivitas wilayah dan pertumbuhan ekonomi daerah.
“Menjaga kelancaran arus transportasi barang, jasa, dan manusia di lintas utama Pulau Timor, khususnya yang menghubungkan Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Timor Tengah Utara menuju wilayah perbatasan sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah ke arah yang lebih baik,” tegasnya.
