SPK Turun ke NTT, Program Makan Bergizi Gratis Siap Tingkatkan Ekonomi Daerah
Kupang, SonafNTT-News.com. Kehadiran Tenaga Ahli Bidang Pengawasan Makanan Bergizi Gratis (MBG) Kemenko Pangan RI, Brigjen TNI (Purn) Simon Petrus Kamlasi (SPK) di Nusa Tenggara Timur menjadi sorotan kuat publik.
Pantauan media, momentum ini dinilai sebagai sinyal keseriusan pemerintah dalam mengakselerasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto yang kini mulai terasa gaungnya hingga ke daerah.
Bertempat di Gedung Lantai IV Kantor Gubernur NTT, forum strategis yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan—mulai dari pemerintah daerah, Badan Gizi Nasional, hingga UNICEF—menjadi panggung pembahasan serius: bagaimana memastikan MBG tidak hanya sukses sebagai program sosial, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi lokal.Turut hadir sejumlah pembicara seperti Deputy Promosi & Kerjasama diwakili oleh Direktur Kerjasama dan Kemitraan BGN, Herri Chandra, Tenaga Ahli Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Sosial, Florencio Mario Vieira. Hadir juga sebagai pemateri.Selain hadir pulaTenaga Ahli DPD RI, Brigjen Pol Ismet Hariadi, serta Tenaga Ahli Mentri Koperasi Rudi Wijaya. Bupati Kupang, Yosef Lede.
SPK tampil lugas dan tegas. Ia menekankan bahwa MBG bukan sekadar program pembagian makanan, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia. Namun yang lebih menarik perhatian publik adalah penekanannya pada efek domino ekonomi. Program ini, jika dikelola dengan benar, diyakini mampu menghidupkan sektor pertanian, peternakan, hingga UMKM lokal.
“ Hari ini saya memberikan sosialisasi tentang kebijakan dan penguatan percepatan realisasi operasional di provinsi NTT dalam hal ini kita memberikan gambaran kepada masyarakat tentang kebijakan yang akan berjalan untuk berkolaborasi dengan koperasi merah putih dan seluruh stakeholder di NTT untuk mendukung rantai pasok dari Program Makanan Bergizi Gratis yang sudah ada maupun yang akan di bangun” ujarnya
Ia lebih lanjut menerangkan, Program MBG kita harapkan ke depan bisa meningkatkan penghasilan para petani peternak pelaku ekonomi lokal. Ia juga mengakui memang saat ini efisiensi terjadi tapi melalui Program Makanan Bergizi Gratis yang beredar di tingkat bawah juga harus kita tangkap dengan efektif dan profesional supaya mereka dengan cepat bisa menangkap kapital kapasitas ekonomi yang ada supaya jangan jadi kapital flight belanja barang masih ke surabaya.
Simon Petrus Kamlasi juga menyebut peran koperasi merah putih itu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Koperasi merah putih.Manajemen yang diperhatikan agar apa yang dilakukan bermanfaat serta berkelanjutan bagi masyarakat tanpa mengurangi mutu program MBG.
Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan bahwa rekomendasi dari pertemuan ini yakni pengurusan sertifikat itu kita atur mekanismenya sehingga pihak yang terkait tidak bertele-tele dalam mengurus pelaksanaan MBG di lapangan
Selain itu, rekomendasi kedua yakni memperkuat koordinasi sesuai jenjang dengan memperkuat pengawasan dari pusat
“ suksesnya program ini harus adanya komitmen yang kuat melalui kerja-kerja nyata dan team work solid sehingga mampu kebutuhan pasar dalam skala yang besar dengan mengedepankan Kualitas Pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis di lapangan ”pungkasnya
Lebih jauh SPK merinci, Program MBG berdampak pada semua sektor di seluruh Indonesia. Hari ini sudah beroperasi di 38 provinsi, 26.386 SPPG yang beroperasi, 10.369 SPPG yang sudah terbit SLHS, 1.154.548 petugas SPPG serta 61.805.601 penerima manfaat.
“Banyak yang sudah merasakan manfaat MBG ini tidak saja murid, juga pelaku UMKM. Capital flight kita itu Rp 8 triliun setahun. Bagaimana kita bekerja agar jangan kemana-mana uang ini,”tegas Simon lagi.
Dia menambahkan pentingnya penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menyukseskan implementasi program MBG, khususnya di Provinsi NTT.
Kepada wartawan di sela kegiatan, SPK menegaskan “Pengawasan harus dilakukan secara menyeluruh. Apalagi program ini berskala besar dengan target penerima manfaat mencapai lebih dari 80 juta orang secara nasional,” katanya.
Ia juga menambahkan, dampak positif program ini mulai dirasakan masyarakat. Petani sayur, peternak ayam, hingga pelaku usaha pangan lokal mulai melihat peluang peningkatan ekonomi seiring hadirnya SPPG di wilayah mereka.
