SURAT TERBUKA DARI ANAK-ANAK NUSA TENGGARA TIMUR Oleh : Paulus Histo Safrodan

IMG-20260720-WA0000

Ketika Peraturan Gubernur Nusa Tenggara Timur tentang Jam Belajar Masyarakat diberlakukan, dimana kebijakan ini mengatur agar semua kegiatan baik perkantoran maupun kemasyarakatan kecuali yang sangat substantive dan strategis tepat pukul 18.00 sampai pukul 19.30 harus berhenti demi mendukung kegiatan belajar bagi anak-anak di rumah, sontak kebijakan ini membuat riuh ruang sosial, ada yang nyinyir dan mengatakan Pemerintah lagi kurang kerjaan karena mulai mengintervensi waktu aktivitas masyarakat, ada juga yang pesimis karena merasa Peraturan Gubernur ini tidak akan efektif mengingat saat ini media pembelajaran sudah sangat mudah diakses dengan pemanfaatan Teknologi Informasi, namun ada juga bagian masyarakat yang mendukung kebijakan ini.

Senin tanggal 13 Juli saat Apel Bersama Aparatur Sipil Negara Pemerintah Provinsi NTT, bertempat di alun-alun Gedung Sasando, Gubernur NTT Melkiades Laka Lena dalam arahannya kembali mengangkat dan meminta dukungan penuh ASN Lingkup Pemerintah Provinsi NTT untuk menjadi motor penggerak utama terwujudnya Kebijakan Jam Belajar Masyarakat ini. “hari ini adalah hari pertama anak-anak kita kembali ke sekolah, dalam semangat gerakan Ayah mengantar anak hari pertama ke sekolah (GAMAS), kita juga memulai kebijakan terkait jam Belajar Masyarakat” itulah penggalan arahannya. Gubernur Melki kemudian mendorong dan meminta kesanggupan serta kesiapan ASN peserta apel bersama untuk berkomitmen mendukung kebijakan Jam Belajar Masyarakat.

Permintaan kesanggupan Gubernur ini kemudian oleh Penulis secara tidak direncanakan pada malam itu menangkap suasana satu keluarga kecil sebelah rumah yang entah kebetulan, malam itu berbaur dalam suasana belajar anaknya. Mengamati suasana belajar, celoteh jenaka, nada protes, rajukan kecil, bujukan halus sambil sesekali dengan nada tegas, membuat Penulis semakin larut dan menyelami makna serta suasana lain dari pemberlakukan Kebijakan Jam Belajar Masyarakat. Setelah beberapa hari berselang ada juga testimoni dari beberapa sahabat yang menceritakan tentang bagaimana serunya suasana jam Belajar Masyarakat. Ada beberapa kejadian jenaka namun mengusik hati tentang bagaimana kepercayaan para buah hati terkait kapasitas pengetahuan orang tua, ada keraguan tentang benar atau tidak jawaban serta penjelasan terhadap soal-soal, namun kemudian ada pengakuan, kepercayaan dan rasa bangga yang muncul dalam diri anak kepada orang tua karena penjelasan atau hasil pembelajaran mereka ternyata benar setelah diperiksa oleh guru.

Pergub dan cerita lepas ini mengantar penulis dan mungkin banyak orang tua pada kenangan masa kecil yang hingga hari ini tidak pernah hilang dari ingatan. Kenangan itu bukan tentang hadiah yang mahal, bukan pula tentang mainan yang paling diinginkan. Yang diingat justru adalah malam-malam ketika rumah berubah menjadi ruang belajar yang hangat. Di meja sederhana, dengan penerangan yang apa adanya, Penulis melihat orang tua hadir sepenuhnya. Mereka mungkin tidak menguasai semua mata pelajaran. Ada soal yang mereka tidak tahu jawabannya. Ada buku yang mereka baca berulang-ulang agar bisa membantu memahami pelajaran. Namun, yang paling membekas bukanlah benar atau salahnya jawaban, melainkan kesediaan mereka meluangkan waktu.

Untaian cerita ini mengantar penulis pada kesimpulan kecil bahwa di situlah letak kemuliaan Pergub Jam Belajar Masyarakat yang digagas Gubernur Nusa Tenggara Timur. Pergub ini bukanlah perang melawan teknologi. Teknologi tetap penting dan akan selalu menjadi bagian dari masa depan. Namun, perda ini mengingatkan bahwa sebelum seorang anak mengenal dunia digital, ia harus terlebih dahulu mengenal kehangatan keluarganya.

Dalam suasana dan perasaan yang larut oleh kenangan masa kecil ini, Penulis kemudian mencoba memposisikan diri dalam perasaan anak-anak Nusa Tenggara Timur, yang selama ini mungkin mulai merasa asing dengan suasana rumah yang akrab dan hangat, menulis surat kepada Gubernur NTT mewakili tangan-tangan mungil, dan wajah-wajah polos yang sumringah karena hadirnya orang-orang terdekat mereka di serambi-serambi belajar mereka. dan inilah surat tersebut :
Kepada Bapak Gubernur Nusa Tenggara Timur, serta Ayah dan Ibu di seluruh pelosok NTT.

Salam hangat dari kami, anak-anak Nusa Tenggara Timur.
Mungkin kami belum cukup dewasa untuk memahami arti sebuah Kebijakan. Kami belum mengerti pasal-pasal hukum atau rumitnya mengurus sebuah daerah. Tetapi kami tahu satu hal: kami dapat merasakan ketika rumah kembali menjadi tempat yang hangat.

Terima kasih, Bapak Gubernur, atas lahirnya Peraturan tentang Jam Belajar Masyarakat. Mungkin bagi sebagian orang, aturan ini hanya tentang waktu belajar. Namun bagi kami, aturan ini telah menghadirkan sesuatu yang jauh lebih berharga: waktu bersama Ayah dan Ibu. Kini, ketika gawai disimpan sejenak, kami tidak lagi belajar sendirian. Kami bisa bertanya kepada Ayah tanpa merasa mengganggu. Kami bisa meminta Ibu menemani membaca, mendengarkan cerita, atau sekadar duduk di samping kami. Kami mulai merasakan bahwa pelukan, senyuman, dan perhatian orang tua ternyata lebih menenangkan daripada layar yang paling canggih sekalipun.

Google bisa memberi kami jawaban. AI bisa membantu kami memahami pelajaran. Tetapi tidak ada teknologi yang mampu menggantikan tatapan bangga Ayah ketika kami berhasil menjawab soal. Tidak ada mesin yang bisa menggantikan tangan Ibu yang mengusap kepala kami ketika kami lelah belajar.

Kami tidak membutuhkan orang tua yang selalu memiliki semua jawaban. Kami hanya membutuhkan orang tua yang hadir. Biarkan kami sesekali melihat Ayah berpikir mencari jawaban bersama kami. Biarkan kami mendengar Ibu berkata, “Mari kita belajar bersama.” Karena dari situ kami belajar bahwa mencari ilmu adalah perjalanan yang dilakukan bersama, bukan sekadar mencari jawaban tercepat.

Kepada Ayah dan Ibu, izinkan kami menyampaikan satu permohonan.
Jangan gantikan kehadiranmu dengan gawai. Jangan biarkan layar mengambil alih waktu yang seharusnya menjadi milik keluarga. Kelak kami mungkin akan lupa pelajaran yang kami baca malam ini, tetapi kami tidak akan pernah lupa malam-malam ketika Ayah dan Ibu memilih duduk bersama kami daripada sibuk dengan telepon genggamnya.

Suatu hari nanti kami akan tumbuh dewasa. Kami akan meninggalkan rumah untuk mengejar cita-cita. Yang akan kami bawa bukan hanya nilai rapor, melainkan kenangan tentang sebuah rumah yang penuh percakapan, tawa, nasihat, dan kasih sayang.

Terima kasih, Bapak Gubernur, karena melalui kebijakan ini kami diingatkan bahwa rumah adalah sekolah pertama, dan orang tua adalah guru yang pertama serta paling berharga dalam hidup kami.

Semoga Jam Belajar Masyarakat bukan hanya menjadi aturan yang dipatuhi, tetapi menjadi gerakan yang menghidupkan kembali keluarga-keluarga di Nusa Tenggara Timur. Sebab ketika keluarga menjadi kuat, anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, dan penuh kasih.
Hormat kami,

Anak-anak Nusa Tenggara Timur”Kami tidak meminta hadiah yang mahal. Kami hanya ingin Ayah dan Ibu hadir, karena kasih sayang mereka adalah pelajaran terbaik yang tidak pernah diajarkan oleh gawai mana pun.

Exit mobile version