Tujuh Wilayah Terdampak Gempa, Yunus Takandewa: Jangan Ada Warga yang Hilang dari Radar

190180-100kb-768x1024

Flores, SonafNTT-News.com Gempa boleh mengguncang tanah Flores, tetapi perhatian kepada warga terdampak tidak boleh ikut goyah.

Ketika masa tanggap darurat diperpanjang dan kebutuhan warga belum seluruhnya teratasi, satu pesan kembali ditegaskan Ketua DPD PDI Perjuangan Nusa Tenggara Timur, Yunus H. Takandewa: jangan sampai ada warga terdampak yang luput dari perhatian.

Menurutnya, seruan politik. Di tengah situasi bencana, perhatian justru harus diarahkan pada hal yang paling mendasar: siapa yang belum menerima bantuan, siapa yang masih membutuhkan obat, siapa yang belum memiliki tempat tinggal layak, dan siapa yang masih menyimpan trauma setelah bencana.

Sejak gempa mengguncang Flores, jaringan PDI Perjuangan NTT telah diarahkan untuk bergerak di sejumlah wilayah terdampak. Respons tersebut mencakup posko bantuan, dapur umum, evakuasi, distribusi kebutuhan dasar hingga pemantauan kondisi masyarakat.
Namun bagi Yunus Takandewa, kerja kemanusiaan tidak boleh berhenti hanya karena bantuan sudah pernah disalurkan.

TUJUH WILAYAH, SATU PESAN: JANGAN ADA YANG TERLEWAT

Dari Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Ngada, Ende hingga Sikka/Maumere, perhatian diminta tetap diarahkan kepada warga yang membutuhkan.

Oleh karena itu dalam bencana, persoalannya bukan hanya seberapa banyak bantuan yang tersedia.

Persoalan yang jauh lebih penting adalah:

Apakah bantuan tersebut benar-benar sampai kepada orang yang membutuhkan?

Satu dusun yang belum tersentuh bantuan tidak boleh dianggap selesai hanya karena bantuan sudah tiba di wilayah lain.
Satu keluarga yang kehilangan rumah tidak boleh dilupakan hanya karena perhatian publik mulai bergeser.

Dan satu anak yang masih mengalami ketakutan tidak boleh dianggap pulih hanya karena luka fisiknya sudah sembuh.

Inilah mengapa koordinasi menjadi bagian penting dari instruksi Yunus.
Ia meminta struktur partai, eksekutif, legislatif, badan, sayap serta relawan bergerak dalam satu garis kerja kemanusiaan.

Data harus bergerak.

Informasi harus bergerak.

Logistik harus bergerak.
Dan yang paling penting:
pertolongan harus bergerak.

BUKAN SEKADAR MEMBAWA SEMBAKO
Kerja kemanusiaan dalam situasi bencana tidak cukup diukur dari berapa banyak paket sembako yang dibagikan.
Beras memang dibutuhkan.

Obat-obatan juga dibutuhkan.
Air bersih, makanan, pakaian dan tempat berlindung tentu menjadi kebutuhan mendesak.
Tetapi setelah semua itu, ada persoalan yang jauh lebih panjang.
Ke mana warga yang kehilangan rumah harus pulang?
Karena itu, perhatian mulai diarahkan pada rehabilitasi dan rekonstruksi, termasuk persiapan Hunian Sementara (Huntara) dan Hunian Tetap (Huntap).

Hal ini menjadi penting karena masa tanggap darurat pada akhirnya akan berakhir. Tenda-tenda pengungsian suatu saat akan dibongkar.
Tetapi kehidupan warga harus tetap berjalan.
Di sinilah pertanyaan besar muncul:
Apakah mereka sudah memiliki tempat untuk kembali?

Yunus Takendewa lebih lanjut menyampaikan bahwa proses pendataan dan verifikasi harus dilakukan secara valid serta dipersiapkan sebelum musim hujan. Fokus pemulihan juga tidak hanya menyangkut rumah warga, tetapi sarana, prasarana dan kelembagaan yang ikut terdampak bencana.
Artinya, pemulihan tidak boleh sekadar mengembalikan keadaan seperti sebelum gempa.
Pembangunan kembali harus menjadi kesempatan untuk membangun lebih aman, lebih kuat dan lebih berkelanjutan.

Menurutnya, PDI Perjuangan NTT mendorong pendampingan psikologis dilakukan bersama berbagai pihak, sehingga perhatian terhadap korban tidak berhenti pada kebutuhan fisik semata.
Sebab gempa tidak hanya meruntuhkan bangunan.
Gempa juga dapat mengguncang rasa aman manusia.
Dan luka semacam itu membutuhkan waktu untuk pulih.

YUNUS TAKANDEWA TURUN LANGSUNG
Instruksi tersebut kemudian diwujudkan dengan kehadiran langsung Yunus Takandewa di wilayah terdampak di mana Pada Jumat, 28 Agustus 2026, Yunus berada di Ruteng, Manggarai, untuk memantau penanganan bencana yang dilakukan jajaran partai.

Kehadiran itu memperlihatkan bahwa instruksi tidak dimaksudkan berhenti sebagai pesan di ruang rapat atau dalam grup komunikasi.

Untuk diketahui, pula. Pada 31 Agustus 2026, DPD PDI Perjuangan NTT kembali menyalurkan bantuan kemanusiaan sekaligus pelayanan kesehatan di Manggarai. Tim medis memberikan pemeriksaan kesehatan dengan perhatian khusus kepada kelompok rentan seperti anak-anak, bayi, lansia, ibu dan orang tua.

JANGAN ADA WARGA YANG HILANG DARI RADAR

Dalam situasi bencana, koordinasi sering kali menjadi pembeda antara bantuan yang efektif dan bantuan yang terlambat.
Karena itu, setiap DPC di wilayah terdampak bersama BAGUNA diminta menugaskan kader sebagai PIC atau kontak person yang berkoordinasi secara real time dengan BPBD kabupaten masing-masing.

PIC tersebut menjadi penghubung antara kebutuhan masyarakat, pemerintah daerah, jajaran partai dan sumber bantuan lainnya.
Dengan sistem seperti itu, informasi mengenai kebutuhan warga dapat lebih cepat diteruskan.
Bantuan pun diharapkan tidak hanya terkumpul di satu titik, tetapi bergerak menuju lokasi yang benar-benar membutuhkan.